Anugerah Investa Surabaya: Pemkot Apresiasi 22 Perusahaan Patuh Pajak dan Pro-Tenaga Kerja Lokal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menggelar ajang penghargaan bergengsi Anugerah Investa Surabaya (AIS) untuk periode penilaian tahun 2025. Mengusung tema besar “Surabaya Gerbang Investasi Kelas Dunia”, malam apresiasi ini berlangsung di Lobi Lantai 2 Balai Kota Surabaya pada Selasa (23/6/2026).
Ajang ini menjadi wadah bagi Pemkot Surabaya untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada 22 perusahaan terbaik. Para penerima penghargaan dinilai telah memenuhi kepatuhan izin usaha serta memberikan kontribusi signifikan terhadap roda perekonomian di Kota Pahlawan.
Tiga Indikator Utama Penilaian Ring Kinerja Investor
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa penghargaan ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada para investor yang berkomitmen membangun kota. Dalam prosesnya, tim juri independen menetapkan tiga indikator utama sebagai dasar penilaian:
Volume Investasi: Jumlah modal riil yang ditanamkan di wilayah Kota Surabaya.
Kepatuhan Regulasi: Ketaatan administrasi terhadap seluruh aturan hukum perizinan yang berlaku.
Pemberdayaan Lokal: Komitmen nyata perusahaan dalam memprioritaskan warga asli Kota Surabaya sebagai tenaga kerja.
“Kami ingin investasi di Surabaya ini legal, aman, dan nyaman. Ketika investasi masuk, ada pergerakan ekonomi. Mereka butuh pekerja, pekerjanya dari warga Surabaya. Mereka butuh makan untuk pekerjanya, menunya bisa disuplai oleh UMKM Kota Surabaya,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi.
Klinik Investasi dan Ketegasan terhadap Praktik Pungli
Untuk mendongkrak realisasi investasi ke depan, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa Pemkot Surabaya telah mengoperasikan Klinik Investasi di bawah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Fasilitas ini disediakan sebagai pusat konsultasi agar pelaku usaha bisa mengurus perizinan dengan cepat dan transparan.
Wali kota yang akrab disapa Cak Eri ini juga memberikan peringatan keras kepada seluruh jajaran birokrasi agar tidak mempersulit proses perizinan. Investor yang menemukan kendala di lapangan atau menjadi korban pungutan liar (pungli) diminta langsung melapor ke saluran resmi.
“Kalau ada yang bermain dengan izin atau kesulitan, langsung bisa menghubungi saya secara langsung atau melalui hotline lapor Cak Eri. Karena, pajak-pajak dari investor inilah yang kami kembalikan ke warga dalam bentuk pendidikan gratis, kesehatan gratis, hingga bangun rumah tidak layak huni,” tegasnya.
Anugerah Investa Surabaya Sinergi Industri Besar, Pemberdayaan UMKM, dan TJSL
Kepala DPMPTSP Kota Surabaya, Lasidi, dalam laporan resminya menjelaskan bahwa ajang AIS diikuti oleh berbagai sektor usaha mulai dari real estate, perhotelan, restoran/kafe, industri, rumah sakit, perdagangan dan jasa, hingga sektor UMKM. Sinergi ini ditargetkan mampu memacu pertumbuhan investasi yang berkualitas dan menekan angka pengangguran terbuka.
Sebelum penghargaan diberikan, para peserta harus melewati beberapa tahapan seleksi ketat, mulai dari pengisian kuesioner mandiri terkait perizinan hingga penilaian dampak sosial nyata di masyarakat.
“Dari 35 nominasi, terpilih 22 pelaku usaha terbaik yang berhak mendapatkan penghargaan berupa plakat dan sertifikat Anugerah Investa Surabaya sebagai Terbaik I, II, dan III, serta kategori khusus UMKM,” imbuh Lasidi.
Apresiasi terhadap kemudahan sistem perizinan di Surabaya juga datang dari dunia industri. Kepala Departemen Litigasi dan Perizinan PT PAL Indonesia, Muhammad Tezar Emiral—salah satu perwakilan penerima penghargaan AIS—menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengentasan kemiskinan di sekitar wilayah operasional galangan kapal nasional tersebut.
“Keberadaan kami di Surabaya tidak terlepas dari amanat negara. Investasi yang dimaksud bukan hanya membantu pendapatan daerah, tetapi juga meningkatkan lapangan kerja di sekitarnya, serta mengentaskan kemiskinan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” ujar Muhammad Tezar Emiral.***

>
