Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » FORUM OPINI » Pencoretan Bansos Beras: Lansia dan Disabilitas Surabaya Terjepit, Mana Kesejahteraan HUT ke-80 RI?

Pencoretan Bansos Beras: Lansia dan Disabilitas Surabaya Terjepit, Mana Kesejahteraan HUT ke-80 RI?

  • account_circle Diagram Kota
  • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah gegap gempita HUT ke-80 RI dengan tema “Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju”, kabar miris datang dari warga Surabaya. Lansia dan penyandang disabilitas, yang seharusnya jadi prioritas bantuan sosial (bansos), justru banyak yang dicoret dari daftar penerima. Dengan alasan “sudah sejahtera” berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), mereka kehilangan jatah beras 10 kg, penopang hidup yang begitu krusial.

Bagaimana kebijakan yang seharusnya melindungi malah menyisihkan kelompok paling rentan? Refleksi kemerdekaan ini, mari kita tanya: di mana keadilan untuk mereka?

Pencoretan Bansos: Ketidakadilan di Balik Data

Bansos beras adalah penyelamat bagi ribuan keluarga miskin di Surabaya, termasuk lansia tunggal dan penyandang disabilitas yang tak punya penghasilan tetap. Namun, pada 2025, banyak warga mendapati nama mereka hilang dari daftar penerima. Alasannya sering tak jelas, hanya stempel “sejahtera” berdasarkan desil 5-10 di DTKS.

Padahal, realitasnya jauh dari kata mampu: lansia hidup sendiri dengan biaya medis tinggi, penyandang disabilitas berat tak bisa bekerja, dan harga kebutuhan pokok terus naik.
Kementerian Sosial mencatat sekitar 2 juta penerima bansos dicoret secara nasional pada 2025, termasuk karena ketidaksesuaian data KK, tumpang tindih bantuan, atau verifikasi kelurahan yang subjektif.

Di Surabaya, yang pernah menyalurkan bansos beras untuk 160.286 keluarga pada 2023, cleansing data DTKS makin ketat apalagi di tahun 2025. Seorang lansia penyandang disabilitas tuna wicara di Surabaya Pusat – yang kebetulan penulis adalah seorang Ketua RT – kehilangan bansos karena dianggap sejahtera, dan ia sendiri tak punya penghasilan.

Meski penulis sempat klarifikasi terkait data yang menyatakan sejahtera, untuk di validasi kembali melalui cek fisik di lapangan. Faktanya tetap tercoret sebagai penerima manfaat.

Transparansi dan Verifikasi yang Kurang

Pencoretan bansos beras di Surabaya sering berdasarkan desil DTKS, yang membagi penduduk jadi 10 kelompok kesejahteraan. Desil 1-4 (miskin dan rentan miskin) seharusnya prioritas, tapi banyak lansia dan disabilitas “naik” ke desil 5 karena data keluarga atau aset rumah tangga dianggap mampu.

Data yang seharusnya memverifikasi kondisi riil, kadang berjalan asal-asalan. Yang menjadi pertanyaan: atas dasar apa pecoretan tersebut? Berbasis apa?. Bahkan, menurut penulis patut diduga pencoretan berdasarkan cap cip cup kembang kuncup, bonda bandi ketiban dadi.

Tak hanya itu, cerita lansia di Semarang yang kehilangan bansos karena dianggap “sejahtera”, padahal hidup sebatang kara. Ternyata cerita serupa bergema di Surabaya, menunjukkan data DTKS tak selalu mencerminkan kenyataan.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo menegaskan lansia di atas 70 tahun dan penyandang disabilitas berat tetap prioritas, dengan bansos seperti PKH Rp600 ribu per tahap atau bantuan pangan. Tapi, kalau kuota terbatas (hanya 100 ribu lansia dan 33 ribu disabilitas nasional), banyak yang terlewat. Kurangnya sosialisasi tentang cara cek status DTKS atau mengajukan keberatan bikin warga bingung.

Dampak pada Kelompok Rentan

Kehilangan bansos beras bukan cuma soal beras 20 kg, tapi soal dapur yang mati. Bagi lansia dan penyandang disabilitas, yang sering tak punya tabungan atau keluarga pendukung, ini adalah pukulan berat. Di tengah inflasi dan biaya hidup yang melonjak, pencoretan ini terasa seperti pengkhianatan terhadap janji “Rakyat Sejahtera” di HUT ke-80 RI.

Banyak media sosial ramai dengan keluhan warga yang menyoroti ketidakadilan ketika bansos tak sampai ke tangan yang tepat. Isu ini jadi bahan gunjingan warga Surabaya, dari warung kopi sampai grup WhatsApp RT, karena menyentuh hajat hidup dasar.

Solusi untuk Keadilan Sosial

Pemkot Surabaya dan Kemensos perlu bertindak cepat agar bansos beras kembali tepat sasaran:

1. Verifikasi Ulang DTKS:

Verifikasi dan turun langsung ke lapangan yang lebih teliti, khususnya untuk lansia dan disabilitas. Pastikan data mencerminkan kondisi individu, bukan hanya aset rumah tangga.

2. Saluran Pengaduan Mudah:

Sederhanakan akses ke cekbansos dan buat posko pengaduan di setiap kelurahan, dengan petugas yang ramah lansia.

3. Sosialisasi Intensif:

Edukasi warga tentang cara cek status DTKS dan ajukan keberatan, misalnya lewat pamflet di balai RW atau radio lokal seperti Suara Surabaya.

4. Prioritas Kelompok Rentan:

Jangan biarkan lansia dan disabilitas teralienasi karena kuota terbatas. Tambah alokasi bansos untuk mereka, sesuai janji Kemensos.

Seandainya!

Baru – baru ini sempat geger bahkan sempat termuat di Swaranews, berita terkait rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Surabaya membahas Rencana Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (RKUA-PPAS) Perubahan Tahun 2025, pada Senin (21/7/2025).

Pemicu utamanya: munculnya skema utang sebesar Rp452 miliar.
Coba bayangkan, di kelurahan tempat penulis, pencoretan data sebanyak 500 penerima manfaat (PM). Semisal dirata-rata tiap Kelurahan, 500 dikalikan 153 Kelurahan sebanyak 76.500 PM yang tercoret se- Surabaya. Jika setiap PM mendapatkan beras 10Kg seharga Rp150.000, maka butuh Rp11.475.000.000. Dan itu hanya -+ 2,5 persen dari 452 miliar (skema utang Pemkot Surabaya).

Tidak salah jika DPRD Surabaya menilai utang Pemkot digunakan untuk proyek yang tak berpihak pada rakyat kecil. Ironisnya, warga Surabaya lansia penyandang disabilitas tuna wicara tak berpenghasilan tercoret data PM bansos, dan harus menerima dampak menanggung beban utang Pemkot 452 miliar melalui pajak yang harus dibayarnya.

HUT ke-80 RI seharusnya jadi momen untuk memastikan tak ada warga Surabaya yang kelaparan, apalagi lansia dan penyandang disabilitas. Pencoretan bansos beras yang tidak transparan bukan hanya soal data, tapi soal keadilan sosial yang jadi ruh kemerdekaan. Pemkot Surabaya harus mendengar keluh warga, memperbaiki sistem, dan memastikan beras bansos sampai ke dapur yang paling membutuhkan. Mari wujudkan kesejahteraan sejati, bukan cuma slogan di spanduk peringatan kemerdekaan. *

*Oleh: Hari Agung [Bendahara Barikade 98 Jatim]

Penulis

Berita Hari ini Terbaru dan Terkini Diagramkota.com

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alwi Farhan, Final Indonesia Masters 2026

    Alwi Farhan, Pemain Muda Indonesia Menggebrak di Final Indonesia Masters 2026

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 70
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Pertandingan Indonesia Masters 2026 telah menjadi ajang yang memperlihatkan kemampuan luar biasa dari pemain muda tanah air. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Alwi Farhan, yang berhasil melangkah ke babak final setelah mengalahkan Chi Yu Jen dari Taiwan dalam pertandingan semifinal. Kemenangan ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh atlet muda Indonesia di kancah […]

  • Informasi Lengkap untuk Pertandingan Bundesliga Eintracht Frankfurt vs Bayer Leverkusen

    Informasi Lengkap untuk Pertandingan Bundesliga Eintracht Frankfurt vs Bayer Leverkusen

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 74
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Pertandingan Bundesliga antara Eintracht Frankfurt dan Bayer Leverkusen yang akan digelar pada hari Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 15.30 WIB, menjadi salah satu pertandingan krusial dalam kompetisi musim ini. Untuk memastikan pengalaman terbaik bagi para penggemar, berikut informasi lengkap mengenai persiapan dan fasilitas yang tersedia. Parkir yang Lebih Efisien dan Nyaman Salah satu inovasi […]

  • Sarana Demokrasi: Risma Lebih Bersih dan Berkarakter untuk Pilgub Jatim, Eri Cahyadi Jangan Bangga!

    Sarana Demokrasi: Risma Lebih Bersih dan Berkarakter untuk Pilgub Jatim, Eri Cahyadi Jangan Bangga!

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2024
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 206
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sarana Demokrasi, Asada, yang akrab disapa Sade, menyampaikan pandangannya terkait dinamika politik Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) dan Pemilihan Wali Kota Surabaya. Dalam wawancara khusus yang dilakukan pada Selasa (19/11/2024), Sade menyoroti kualitas kandidat utama dalam Pilgub Jatim, yakni pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak melawan Tri Rismaharini-Gus […]

  • Persebaya Surabaya Siap Hadapi Putaran Kedua Super League 2025/2026 dengan Skuad yang Dirombak

    Persebaya Surabaya Siap Hadapi Putaran Kedua Super League 2025/2026 dengan Skuad yang Dirombak

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 66
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Persebaya Surabaya, klub sepak bola asal Jawa Timur, tengah mempersiapkan diri menghadapi putaran kedua Super League musim 2025/2026. Dengan perubahan signifikan dalam komposisi pemain, tim Green Force kini menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk mengejar target lima besar di akhir musim. Evaluasi dan Penyegaran Skuad Pelatih Bernardo Tavares sejak awal Januari 2026 telah melakukan evaluasi menyeluruh […]

  • Ramalan Zodiak Sagitarius 30 September 2025: Jaringan Luas, Jiwa Butuh Kesunyian

    Ramalan Zodiak Sagitarius 30 September 2025: Jaringan Luas, Jiwa Butuh Kesunyian

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Ramalan Zodiak Sagitarius Hari Ini DIAGRAMKOTA.COM – Hari ini, 30 September 2025, langit memberikan warna baru dalam kehidupan Anda. Tidak hanya sekadar rutinitas harian, tetapi ada sesuatu yang membuat hari terasa lebih hidup dan penuh energi. Seperti sebuah pesta tak terduga yang justru membawa kebahagiaan. Energi yang mengalir deras seperti hujan musim panas, memicu munculnya berbagai […]

  • Pengusaha Klinik Kecantikan Ambil Peran Baru Di Komisi B DPRD Surabaya

    Pengusaha Klinik Kecantikan Ambil Peran Baru Di Komisi B DPRD Surabaya

    • calendar_month Jumat, 18 Okt 2024
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Diagramkota.Com Surabaya – Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PKS, Hj. Enny Minarsih memulai tugasnya sebagai wakil rakyat dengan mengemban tugas di Komisi B. Seperti diketahui Komisi B DPRD Kota Surabaya membidangi ekonomi dan keuangan. Ditemui wartawan usai penetapan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) Enny Minarsih mengatakan, memang baru saja penetapan dan pengesahan AKD dan mungkin […]

expand_less