Kesiapan Pemkot Surabaya Jaga Stok dan Harga Pangan di Tengah Perubahan Musim
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 20 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman dan harga tetap stabil, terlebih menjelang bulan April 2026. Langkah-langkah strategis seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta pemantauan harian menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa evaluasi kondisi sepanjang Maret 2026 menjadi dasar penguatan langkah-langkah yang akan diambil di bulan berikutnya. “Hasil evaluasi Maret menunjukkan ketersediaan pangan terjaga dengan baik, dan ini kami lanjutkan sebagai dasar penguatan langkah di bulan April,” ujar Nanik.
Indikator Kecukupan Pangan yang Menjanjikan
Salah satu indikator utama kecukupan pangan adalah stok beras. Indeks Kecukupan Pangan (IKP) Surabaya mencatat angka 3,13 pada Maret 2026, yang menunjukkan bahwa pasokan beras cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini didukung oleh cadangan beras yang tersimpan di gudang Bulog, yang memberikan jaminan pasokan ke depan.
“Dengan stok yang tersedia, kami optimistis kebutuhan beras masyarakat tetap tercukupi dan harga dapat dijaga tetap stabil,” tambah Nanik.
Pasokan Daging yang Terjaga
Selain beras, sektor peternakan juga menjadi perhatian utama. Pasokan daging dipastikan aman melalui aktivitas pemotongan ternak di Rumah Potong Hewan (RPH) dan Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Aktivitas ini berjalan stabil, sehingga distribusi dan ketersediaan daging tetap terjaga.
Strategi Operasi Pasar dan GPM
Untuk mendukung stabilitas harga dan ketersediaan pangan, Pemkot Surabaya menggelar operasi pasar dan GPM. Kedua program ini bertujuan untuk menyediakan bahan pokok dengan harga terjangkau, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Penanganan Inflasi dan Fluktuasi Harga
Meski situasi saat ini relatif stabil, inflasi di Jawa Timur pada Maret 2026 mencapai 0,39 persen, terutama akibat kenaikan harga pangan. Namun, Pemkot Surabaya terus memantau dan mengambil langkah-langkah preventif agar tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan.
Kepercayaan Warga terhadap Kebijakan Pemkot
Banyak warga Surabaya yang merasa tenang karena kebijakan pemerintah yang transparan dan proaktif. Misalnya, di wilayah Benowo, warga sering mengunjungi titik-titik pangan murah yang disediakan oleh pemerintah.
“Saya merasa nyaman karena harga bahan pokok tetap stabil, bahkan bisa lebih murah dibanding pasar umum,” ujar salah satu warga setempat.
Upaya Pemkot untuk Memastikan Kesejahteraan
Selain fokus pada pangan, Pemkot Surabaya juga mengambil langkah-langkah lain untuk meningkatkan kualitas hidup warga. Contohnya, penggunaan Gawai di sekolah yang diperketat, serta penerapan sistem kerja jarak jauh (WFH) tiap Jumat untuk menjaga produktivitas pegawai.
Tantangan di Masa Depan
Meski saat ini situasi terkendali, Pemkot Surabaya tetap waspada terhadap kemungkinan fluktuasi harga atau gangguan pasokan akibat faktor eksternal seperti cuaca atau perubahan regulasi. Dengan pengawasan ketat dan kolaborasi dengan pelaku usaha, diharapkan kestabilan pangan dapat terus terjaga.***

>
>
Saat ini belum ada komentar