Dobrak De-Soekarnoisasi, Pemkot Surabaya Luncurkan Buku Bung Karno dan Jadikan Kurikulum Wajib Sekolah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 15 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi meluncurkan buku berjudul “Bung Karno: Aku Arek Suroboyo” di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya pada Kamis (25/6/2026). Buku yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya ini mengulas rekam jejak Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, dari sudut pandang Surabaya sebagai kota kelahiran sekaligus tempat awal perjalanan hidupnya.
Acara peluncuran tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno, jajaran Forkopimda Surabaya, akademisi, veteran, hingga kelompok pelajar. Suasana peluncuran juga dimeriahkan oleh penampilan Juara 1 Puisi Bung Karno serta pertunjukan teatrikal yang mengisahkan fragmen kehidupan sang proklamator.
Ikhtiar Meluruskan Sejarah dan Warisan Api Perjuangan untuk Arek Suroboyo
Dalam sambutannya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa penerbitan buku ini memiliki misi krusial untuk meluruskan narasi sejarah yang sempat keliru berkembang di tengah masyarakat. Langkah ini penting dilakukan agar generasi penerus bangsa tidak kehilangan arah dalam membangun masa depan.
“Jadi harapannya kita meluruskan sejarah. Karena bangsa yang hebat itu adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Agar tidak pernah kehilangan arah. Dengan buku ini kita ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Bagaimana perjuangan Soekarno, bagaimana semangat beliau. Maka dari buku ini, yang saya harapkan adalah seluruh arek Suroboyo mewarisi api perjuangan beliau,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Wali Kota yang akrab disapa Cak Eri ini mengumumkan kebijakan strategis untuk memasukkan materi buku tersebut ke dalam sistem pendidikan formal tingkat dasar dan menengah di wilayahnya.
“Nanti buku akan kami masukkan menjadi kurikulum wajib yang harus diikuti oleh seluruh sekolah SD dan SMP yang di bawah kewenangan kita (Pemkot Surabaya). Jadi sejarah itu harus kita ingatkan. Sejarah itu harus selalu ada di dalam hati. Karena itu ada pesan jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalau sudah melupakan sejarah, maka kota itu akan kehilangan arah,” tegas Cak Eri.
Apresiasi Keluarga Besar dan Upaya Meruntuhkan De-Soekarnoisasi
Apresiasi tinggi datang dari pihak keluarga besar Bung Karno melalui Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno. Puti menilai karya kolaboratif ini disusun secara komprehensif dan dapat menjadi instrumen penting untuk mendobrak upaya pengaburan sejarah (De-Soekarnoisasi) yang telah berlangsung lama.
“Dengan segala hormat, mewakili keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para penulis, dan juga kepada Cak Eri yang telah memberikan pencerahan, membuka cakrawala melalui buku tulisan-tulisan yang saya telah baca dan sangat komprehensif buku dengan judul Bung Karno ‘Aku Arek Suroboyo’. Buat saya buku ini adalah merupakan salah satu cara, jalan untuk mendobrak De-Soekarnoisasi yang sekian lama sejarah kelam Bung Karno ditutupi. Yang sejak lama ide, pemikiran, gagasan Bung Karno ditutupi,” kata Puti Guntur Soekarno.
Puti juga menyoroti keandalan metodologi penulisan buku ini. Sifatnya yang ilmiah didasarkan pada riset akademis yang kuat, dengan melacak sumber arsip primer tidak hanya di dalam negeri tetapi juga hingga ke museum dan perpustakaan di Belanda. Melalui data otentik tersebut, diharapkan memori kolektif publik mengenai masa kecil hingga remaja Bung Karno di Surabaya dapat terbuka kembali.
Pembuktian Riset Ilmiah dari Isyarat Otobiografi Cindy Adams
Buku monumental ini ditulis oleh tim yang terdiri dari Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta. Prof. Purnawan Basundoro, yang juga merupakan Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga (Unair), menceritakan bahwa motif penulisan didorong oleh penggalan kalimat Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis oleh jurnalis asing, Cindy Adams.
“Di dalam buku otobiografi beliau (Bung Karno) yang ditulis oleh Cindy Adams, beliau kan dengan jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya. Tetapi kan kalimat itu tidak diteruskan ya, lahirnya seperti apa, bagaimana, dan sebagainya. Nah, inilah yang kemudian kami berpikir bahwa pernyataan Soekarno lahir di Surabaya itu perlu diperjelas,” ungkap Prof. Purnawan Basundoro.
Buku Bung Karno Aku Arek Suroboyo
Berangkat dari petunjuk awal tersebut, tim penulis melakukan pelacakan dokumen sejarah dalam rentang waktu yang panjang. Hasil pencarian dokumen tertulis hampir seluruhnya mengonfirmasi validitas bahwa Soekarno memang lahir di Kota Surabaya, bukan di tempat lain. Bukti-bukti administrasi dan sejarah tersebut kemudian dicantumkan lengkap di dalam buku.
Mengenai persepsi publik, Prof. Purnawan mengakui bahwa sebagian masyarakat masih telanjur menganggap Bung Karno lahir di Blitar karena kuatnya konstruksi narasi masa lalu. Namun, ia optimis literatur baru ini dapat mempercepat pelurusan informasi pada buku pelajaran modern.
“Nah, sehingga mungkin masih ada juga orang-orang sekarang ini yang masih menganggap bahwa Bung Karno lahir di Blitar. Tapi kan secara umum sekarang buku-buku sejarah itu sudah menuliskan yang benar bahwa Bung Karno itu lahir di Surabaya,” pungkasnya.***

>
