Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » FORUM OPINI » Raperda Kepahlawanan Mandek, Palu Dewan Lebih Berat dari Semangat Arek Suroboyo?

Raperda Kepahlawanan Mandek, Palu Dewan Lebih Berat dari Semangat Arek Suroboyo?

  • account_circle Diagram Kota
  • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Pahlawan 10 November, dengan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan dan pidato yang berapi-api di Balai Kota, sebuah ironi justru menyeruak di antara upacara. Para seniman, budayawan, dan veteran perang menatap satu hal yang hilang dari daftar penghormatan tahun ini: palu pengesahan Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan, dan Kepahlawanan yang tak kunjung diketuk.

Di kota yang menyebut dirinya “Kota Pahlawan”, gema palu DPRD justru terasa lebih senyap dari denting bedug subuh. Raperda yang sudah lama dibahas dan bahkan sampai ke meja Pansus itu, kini seperti menunggu nasib di ruang ber-AC yang dinginnya mengalahkan semangat legislasi.

“Sudah saatnya ada dasar hukum untuk membangun karakter kejuangan generasi muda. Jangan hanya memperingati, tapi juga memelihara semangatnya lewat kebijakan,”
tegas Mayor Jenderal Marinir (Purn) Sunarko, Dewan Penasehat LVRI Surabaya, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, Perda tentang kepahlawanan bukan sekadar dokumen administratif, melainkan penjaga ingatan kolektif. “Kalau tidak ada Perda, bagaimana kita memastikan nilai-nilai perjuangan diteruskan secara sistematis? Anak muda perlu tahu bahwa kejuangan itu bukan cuma cerita, tapi arah hidup,” tambahnya.

Dari kalangan seniman, sindiran datang dengan gaya khas: getir tapi jenaka. Meimura, aktor sekaligus budayawan Surabaya, menulis di media sosialnya:

“Kecipir jamu kuat, nek palune mluntir cangcangen kawat. Di Surabaya, suara ketok palu DPRD tampaknya lebih langka dari suara bedug di langgar.”

Unggahan itu viral—dan jadi percakapan serius di antara pegiat seni. Saat dikonfirmasi, Meimura menegaskan bahwa budaya dan kepahlawanan tak boleh jadi bahan dekorasi seremoni.

“Jangan biarkan palu itu membeku di meja. Budaya dan kejuangan bukan urusan pinggiran. Ini soal jati diri kota,” ujarnya.

Padahal, UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sudah lama menjadi panduan nasional. Negara telah menetapkan sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang wajib dijaga—dari tradisi lisan, manuskrip, adat, hingga olahraga tradisional. Tapi di Surabaya, implementasinya masih sebatas seminar dan poster digital.

“Semua itu bukan sekadar warisan masa lalu, tapi napas hidup masyarakat kita,”
jelas Sunarko kembali. “Sayangnya, kota sebesar Surabaya justru belum punya payung hukumnya. Kami terus bertanya: kapan palu itu diketuk?”

Bagi para pelaku seni, Raperda ini bukan sekadar regulasi, melainkan pagar agar kebudayaan tidak sekadar hidup di festival, lalu mati di rapat anggaran.

“Mungkin karena tradisi lisan tak bisa diukur dengan angka APBD,” sindir Meimura. “Tapi bukankah jalan pikiran jauh lebih penting daripada sekadar jalan beton?”

Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan, dan Kepahlawanan sejatinya memuat hal-hal penting: perlindungan naskah kuno khas Surabaya, penguatan pendidikan nilai juang di sekolah, hingga pelestarian seni dan bahasa daerah. Namun, naskahnya kini teronggok di meja pembahasan, diapit berkas proyek yang “lebih menjanjikan secara politik”.

Ketika redaksi mencoba menelusuri ke DPRD, beberapa anggota dewan yang ditemui justru memberi jawaban datar: “Masih proses, belum tahu pasti progresnya.”

Sebuah kalimat yang terdengar lebih dingin daripada batu nisan di Taman Makam Pahlawan.

“Jangan sampai semangat perjuangan yang dulu membakar arek-arek Suroboyo justru padam di ruang ber-AC karena kelambanan birokrasi,”
ujar Sunarko menegaskan. “Kalau kita bisa berani melawan penjajah dengan bambu runcing, masa sekarang tidak berani mengetuk palu untuk kebudayaan?”

Ia menilai, pengesahan Perda ini adalah ujian moral, bukan sekadar agenda legislasi. “Ini bukan soal politik, tapi soal penghormatan terhadap sejarah kota sendiri,” tegasnya.

Meimura menutup dengan kalimat yang menampar kesadaran bersama:

“Palu DPRD itu seperti properti wayang yang belum ada dalangnya. Kalau terus begini, jangan salahkan kalau anak muda Surabaya lebih hafal nama influencer daripada nama pahlawan kotanya sendiri.”

Surabaya, kota yang pernah menggetarkan dunia dengan kobaran revolusi 10 November, kini seolah menunggu revolusi baru — bukan dengan bedil dan granat, melainkan dengan keberanian mengetuk palu demi budaya dan nilai juang.

Karena, seperti kata para veteran: “Pahlawan sejati bukan yang gugur di medan perang, tapi yang berani melawan keheningan di ruang sidang.”

Catatan Redaksi:

Momentum Hari Pahlawan sejatinya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menguji konsistensi masa kini. Ketika DPRD masih menunda Perda yang menghidupkan nilai juang dan budaya, pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang sedang berjuang untuk Surabaya hari ini?
(dk/nw)

  • Penulis: Diagram Kota

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kembalinya Bruno Moreira dan Gali Freitas Berikan Harapan Bagi Persebaya Surabaya

    Kembalinya Bruno Moreira dan Gali Freitas Berikan Harapan Bagi Persebaya Surabaya

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 40
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Kehadiran dua pemain kunci, Bruno Moreira dan Gali Freitas, di skuad Persebaya Surabaya menjelang laga melawan Arema FC menjadi kabar gembira bagi Bonek Mania. Kedua pemain ini sebelumnya absen dalam beberapa pertandingan terakhir, namun kini mereka siap kembali berlaga untuk memperkuat tim. Pemain Kunci Kembali Beraksi Bruno Moreira dan Gali Freitas diberitakan akan ikut […]

  • UNAIR Buka Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir Aceh Tamiang

    UNAIR Buka Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir Aceh Tamiang

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Shinta ms
    • visibility 149
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM- Kepedulian Universitas Airlangga (UNAIR) terhadap masyarakat terdampak banjir dan longsor di Aceh Tamiang diwujudkan melalui pembukaan posko kesehatan yang kini mulai melayani warga. Posko ini berlokasi di lahan Klinik Abah, Kuala Simpang, yang sebelumnya tidak dapat beroperasi karena fasilitas dan peralatan medisnya rusak akibat terendam banjir. Kondisi serupa juga terjadi di hampir seluruh rumah […]

  • Museum Kesehatan: Wisata Sejarah Kesehatan di Surabaya

    Museum Kesehatan: Wisata Sejarah Kesehatan di Surabaya

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Diagramkota.com – Museum Kesehatan di Surabaya merupakan salah satu destinasi wisata edukasi yang menarik, khususnya bagi mereka yang tertarik dengan sejarah dunia kesehatan. Berlokasi di Jalan Indrapura No. 17, museum ini menyimpan berbagai koleksi yang memberikan gambaran tentang perkembangan ilmu kesehatan dan medis di Indonesia. Didirikan pada tahun 2004, museum ini sering disebut juga dengan […]

  • Kuliner Kekinian Surabaya yang Viral di Tahun 2025

    Kuliner Kekinian Surabaya yang Viral di Tahun 2025

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 39
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang dikenal sebagai pusat perniagaan dan budaya, juga menjadi tempat yang penuh dengan kejutan kuliner. Di tahun 2025, banyak makanan khas kota ini menggemparkan media sosial dan menarik perhatian para pecinta makanan. Dari bakso beranak hingga omelet udang lumer, setiap hidangan memiliki cerita unik dan rasa yang memikat. Berikut adalah enam kuliner […]

  • Hari Pers Nasional 2026

    Hari Pers Nasional 2026: Profesi Jurnalis di Tengah Tantangan Struktural

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 139
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Jurnalis di Indonesia berada dalam situasi yang kompleks, menghadapi tantangan baik dari segi ekonomi, keamanan kerja, maupun ancaman kekerasan. Meski secara normatif pers bebas, struktur industri media justru terlihat rapuh. Dalam survei yang dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ditemukan bahwa 75,1 persen jurnalis pernah mengalami kekerasan baik secara fisik maupun digital sepanjang karier […]

  • Pertama Kali di Indonesia, LBH KIS MoU dengan Dokter Korea

    Pertama Kali di Indonesia, LBH KIS MoU dengan Dokter Korea

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle Teguh Priyono
    • visibility 213
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM –  Lembaga Bantuan Hukum Kesehetan Indonesia Sejahtera ( LBH – KIS ) Menjadi Satu-satunya Lembaga hukum yang bekerjasama dengan Dokter Korea di Indonesia. Pada hari sabtu tanggal 19 Juli 2025 Ketua Umum LBH KIS, Febrian Willy Atmaja, S.H.,M.H. bertemu dengan Dokter Korea di Indonesia untuk mebahas kesepakatan kerjasama sebagai pendampingan hukum, dokter asal korea […]

expand_less