Surabaya, Diagramkota.com – Sebuah foto yang menunjukkan kondisi harimau yang sangat kurus viral di media sosial. Foto tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan perawatan satwa di dalamnya. Namun, pihak KBS memberikan penjelasan terkait asal usul gambar tersebut.
Menurut Lintang Ratri Sunarwidhi, Kepala Seksi Humas KBS, foto tersebut bukanlah gambar dari kondisi saat ini. Ia menjelaskan bahwa foto itu berasal dari tahun 2009 dan merupakan hasil dokumentasi sebelum KBS mengalami perubahan pengelolaan.
“Gambar-gambar tadi itu gambar-gambar sebelum tahun 2009. Jadi itu kita akui memang ada harimau yang kurus sekali itu,” ujar Lintang.
Harimau Kurus Bukan Akibat Pengelolaan Saat Ini
Lanjutnya, ia menjelaskan bahwa harimau tersebut adalah sumbangan warga. Pemilik lamanya sering memberi makan nasi rawon yang menyebabkan gangguan pencernaan. Setelah diterima oleh KBS, hewan tersebut dirawat namun akhirnya meninggal setelah tidak sampai setahun.
“Itu dulu adalah sumbangan warga. Nah, sumbangan warga yang kemudian setelah kami melakukan perawatan satwa tersebut [ternyata oleh pemilik lamanya] terbiasa [diberi] dengan makan nasi rawon,” jelas Lintang.
Pengelolaan KBS Kini Lebih Baik
Lintang menegaskan bahwa KBS kini telah mengalami perbaikan signifikan. Dari segi infrastruktur, kandang, hingga pakan satwa, semua sudah sesuai standar. Pengawasan juga dilakukan secara ketat karena status satwa sebagai milik negara.
“Jadi untuk satwa kita itu tidak terpengaruh dengan pakan ya. Karena semua sudah sesuai porsinya. Dari dulu kita sudah punya prinsip tersendiri dan kebun binatang Surabaya itu banyak yang mengawasi,” tambahnya.
Kematian Satwa Akibat Faktor Alami
Ia menekankan bahwa kematian satwa tetap bisa terjadi, namun bukan disebabkan oleh kelaparan atau kurang pakan. Faktor utama adalah sakit atau usia tua.
“Tapi kalau kematian, pasti ada kematian ya, karena makhluk bernyawa ya. Pasti karena sakit itu pasti, atau tua itu pasti ada,” ujarnya.
Dugaan Korupsi Tidak Pengaruhi Perawatan Satwa
Meski ada dugaan korupsi terkait pengelolaan anggaran pakan satwa, Lintang memastikan bahwa hal tersebut tidak memengaruhi perawatan satwa maupun pelayanan kepada pengunjung.
“Untuk perawatan satwa tidak akan ada perubahan. Kami akan bahkan meningkatkan lebih baik lagi. Pelayanan kepada pengunjung juga demikian,” katanya.
Penjelasan Hukum atas Kasus Korupsi
Sebelumnya, mantan Direktur Utama PD TS KBS, Choirul Anwar (CA), ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi anggaran sebesar Rp10,2 miliar. Ia diduga menyalahgunakan dana perusahaan untuk pengeluaran yang tidak sesuai peruntukan.
Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jatim, I Gede Punia Atmaja, menyatakan bahwa dugaan korupsi ini berdampak pada kondisi KBS yang tidak terawat dengan baik, termasuk kesehatan satwa.
Tindakan Hukum yang Dilakukan
CA disangkakan melanggar beberapa pasal undang-undang terkait korupsi. Tindakan hukum ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membenahi pengelolaan KBS.
Dengan penjelasan yang jelas dan transparan, KBS berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas perawatan satwa dan pengelolaan kebun binatang agar tetap menjadi tempat yang layak dan aman bagi semua satwa.




















