May Day, Peran PDI Perjuangan dalam Mendukung Kesejahteraan Pekerja Informal di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat hubungan antara partai politik dan masyarakat. Dalam konteks ini, DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mengambil inisiatif untuk menyambut 250 pengemudi ojek online perempuan dengan berbagai kegiatan sosial yang bertujuan untuk memberikan bantuan serta menyerap aspirasi mereka.
Kegiatan ini dilaksanakan di kantor DPC PDIP Surabaya pada Jumat, 1 Mei 2026, dengan hadirnya beberapa tokoh penting seperti Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPP PDIP Tri Rismaharini, Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua DPC PDIP Surabaya Armuji, serta jajaran pengurus partai lainnya. Acara ini disajikan dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sehingga para peserta merasa nyaman untuk menyampaikan keluhan mereka.
Bantuan Sembako dan Ruang Dialog Terbuka
Para ojol perempuan dari berbagai penjuru kota diberi paket sembako sebagai bentuk dukungan langsung dari partai. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan para pemangku kebijakan. Forum ini menjadi wadah untuk menyampaikan berbagai masalah yang mereka hadapi, termasuk kebutuhan hunian layak, perlindungan kerja, hingga akses jaminan sosial.
Armuji menegaskan bahwa pihaknya membuka ruang pengaduan setiap hari dan berkomitmen untuk menindaklanjuti setiap laporan masyarakat. “Kalau ada kesulitan, kami tidak hanya menunggu, tapi juga turun langsung ke lapangan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan bagi pekerja rentan, termasuk ojol, agar hak-hak dasar seperti jaminan kesehatan dan perlindungan kerja tetap terpenuhi.
Tantangan yang Dihadapi Ojol Perempuan
Sekretaris DPC PDIP Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menekankan bahwa momentum Hari Buruh harus menjadi ruang nyata untuk menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada pekerja. Ia menyebut kondisi ekonomi global yang tidak menentu berpotensi menekan kelompok pekerja informal, sehingga dibutuhkan kebijakan yang adaptif dan responsif.
Bendahara DPC PDIP Surabaya, Agatha Retnosari, menyoroti realitas bahwa banyak perempuan menjadi ojol karena tuntutan ekonomi, bukan pilihan utama. “Sebagian besar dari mereka terpaksa menjadi ojol, padahal risikonya sangat tinggi,” ujarnya. Menurutnya, para ojol perempuan harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari risiko kecelakaan hingga ancaman keamanan, termasuk potensi kekerasan.
Komitmen PDIP untuk Menjadi Rumah Bersama
Melalui kegiatan ini, PDIP Surabaya juga menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah aspirasi bagi pekerja informal, khususnya ojol perempuan. “Harapannya, PDIP bisa menjadi rumah bersama, tempat mereka menyampaikan keluhan tanpa ragu,” kata Agatha. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara legislatif, eksekutif, dan struktur partai agar setiap aspirasi masyarakat dapat ditindaklanjuti secara konkret.***

>

Saat ini belum ada komentar