Romokalisari Adventure Land di Akhir 2025: Sukses Sesaat, Stagnan Berkelanjutan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sen, 29 Des 2025
- comment 0 komentar

Romokalisari Adventure Land
DIAGRAMKOTA.COM β Romokalisari Adventure Land, kawasan wisata seluas 5,2 hektar di Kelurahan Romokalisari, Kecamatan Benowo, Surabaya Utara, sempat menjadi primadona baru wisata keluarga sejak diresmikan pada 22 Juli 2022. Dengan fasilitas lengkap mulai dari playground, skatepark, kolam renang, arena futsal, hingga flying fox, kawasan yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah ini digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata alternatif bagi warga Surabaya Utara.
Tiga tahun berselang, menjelang akhir 2025, realitas di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda. Meski sesekali ramai saat libur besar seperti Lebaran dan Natal-Tahun Baru, Romokalisari Adventure Land mengalami penurunan pengunjung yang signifikan di hari-hari biasa. Fasilitas yang pernah menjadi kebanggaan kini mulai menunjukkan tanda-tanda kurang terawat, promosi nyaris tidak ada, dan yang paling krusial: ketergantungan musiman yang membuat wisata ini hanya hidup sesaat lalu kembali sepi.
Dari Primadona jadi Pilihan Kesekian: Penurunan Drastis Pengunjung
Data dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporabudpar) Kota Surabaya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2022, tahun pertama beroperasi, Romokalisari Adventure Land mencatat antusiasme tinggi dengan ribuan pengunjung setiap bulannya. Momentum puncak terjadi saat Lebaran 2023 ketika pengunjung membludak hingga harus antre panjang untuk masuk.
Namun memasuki pertengahan 2023 hingga 2024, jumlah pengunjung mulai menurun drastis. Di hari biasa, terutama hari Selasa hingga Jumat, kawasan ini terlihat sepi. Hanya pada akhir pekan dan libur nasional, pengunjung terlihat cukup ramai. Bahkan saat Lebaran 2025, meski diklaim sebagai salah satu destinasi ramai, data menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Penelitian dari Universitas Wijaya Putra pada 2024 mengidentifikasi beberapa faktor penyebab penurunan minat pengunjung:
- Kurangnya promosi dan media pendukung yang memadai
- Brand identity yang lemah dan tidak memorable
- Tidak ada diferensiasi signifikan dengan wisata lain
- Fasilitas yang stagnan tanpa inovasi baru
Tutup setiap hari Senin, kehilangan potensi pengunjung
Yang lebih memprihatinkan, kajian dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 2023 menyimpulkan bahwa meskipun Romokalisari memiliki potensi besar, namun pengelolaan yang tidak profesional dan kurangnya strategi pemasaran jangka panjang membuat wisata ini gagal mempertahankan momentum awal.
Promosi Minim: Ketika Pemerintah Lupa Memasarkan Asetnya
Salah satu masalah terbesar Romokalisari Adventure Land adalah minimnya promosi. Berbeda dengan destinasi wisata swasta yang agresif memasarkan produknya melalui media sosial, influencer, dan iklan berbayar, Romokalisari nyaris tidak terlihat di ranah digital.
Akun media sosial resmi Disporabudpar Kota Surabaya hanya sesekali memposting tentang Romokalisari, itupun terbatas pada pengumuman jam operasional atau pemberitahuan libur. Begitu juga akun DKPP Kota Surabaya nihil. Tidak ada kampanye kreatif, tidak ada konten viral, tidak ada kolaborasi dengan media, content creator atau travel blogger. Hasilnya? Awareness publik terhadap Romokalisari Adventure Land sangat rendah.
Penelitian dari Universitas Wijaya Putra secara tegas menyatakan bahwa brand identity Romokalisari sangat lemah. Banyak warga Surabaya, bahkan yang tinggal di wilayah Surabaya Utara, tidak tahu bahwa ada kawasan wisata lengkap dan murah di Romokalisari. Mereka lebih memilih berkunjung ke Ciputra Waterpark, Taman Bungkul, atau bahkan wisata di luar kota karena promosi destinasi tersebut jauh lebih masif.
“Romokalisari punya fasilitas bagus, harga tiket murah, tapi kenapa orang tidak tahu? Ini kesalahan fatal dalam pemasaran. Di era digital, jika tidak terlihat di media sosial, maka tidak eksis,” tegas peneliti dari Universitas Wijaya Putra dalam kajiannya.
Ironisnya, pemerintah telah mengucurkan anggaran miliaran rupiah untuk membangun infrastruktur, namun enggan mengalokasikan dana promosi yang memadai. Padahal, tanpa promosi efektif, aset wisata sebagus apapun akan tetap menjadi “harta karun terpendam” yang tidak memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan PAD.
Pengunjung yang datang saat akhir pekan atau libur nataru sering mengeluhkan kondisi toilet yang kurang bersih, beberapa wahana yang tidak berfungsi, dan minimnya petugas yang siap membantu. Kondisi ini menciptakan kesan negatif yang membuat pengunjung enggan kembali atau merekomendasikan kepada orang lain.
Tutup Setiap Senin: Kehilangan Potensi atau Kebijakan Bijak?
Salah satu kebijakan kontroversial adalah penutupan Romokalisari Adventure Land setiap hari Senin. Alasan yang dikemukakan adalah untuk pemeliharaan rutin dan istirahat pegawai. Namun, kebijakan ini menuai kritik karena justru kehilangan potensi pengunjung, terutama pada hari libur nasional yang jatuh pada hari Senin.
Pada Lebaran 2025, ketika libur panjang berlangsung dan hari Senin menjadi momentum kunjungan, Romokalisari tetap tutup. Hal serupa terjadi pada beberapa hari libur nasional lainnya. Keputusan ini dinilai tidak fleksibel dan merugikan, mengingat destinasi wisata swasta justru memanfaatkan momen libur Senin untuk memaksimalkan pendapatan.
“Kalau alasannya pemeliharaan, kenapa tidak dijadwalkan di hari Selasa atau Rabu yang memang sepi? Menutup saat potensi ramai justru kontraproduktif,” ujar seorang pengunjung yang kecewa karena datang di hari Senin namun mendapati gerbang tertutup, (29/12).
Tiket Murah, Wahana Mahal: Strategi Pricing yang Membingungkan
Salah satu keunggulan Romokalisari Adventure Land adalah harga tiket yang sangat terjangkau: Rp 5.000 untuk hari biasa dan Rp 10.000 untuk akhir pekan dan libur nasional. Dengan harga ini, pengunjung bisa menikmati area playground, skatepark, dan fasilitas umum lainnya.
Namun, di sinilah letak masalahnya. Untuk wahana utama seperti kolam renang, flying fox, dan wall climbing, pengunjung harus membayar biaya tambahan yang cukup signifikan.
Akibatnya, pengunjung yang awalnya tertarik karena tiket masuk murah, justru harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar setelah masuk. Sebuah keluarga dengan dua anak yang ingin menikmati kolam renang dan flying fox bisa menghabiskan Rp 150.000 hingga Rp 200.000, belum termasuk biaya makan dan parkir.
Strategi pricing ini menciptakan kesan tidak transparan dan membuat banyak pengunjung merasa tertipu. Mereka datang dengan ekspektasi wisata murah, namun kenyataannya harus mengeluarkan biaya yang tidak jauh berbeda dengan wisata komersial lainnya.
“Lebih baik tiket masuk dinaikkan jadi Rp 25.000 atau Rp 30.000, tapi semua wahana sudah termasuk. Jadi pengunjung tidak merasa ‘dibohongi’ dengan harga murah di awal,” saran seorang pengunjung yang mengeluh.
Pemberdayaan 100 MBR: Sukses Jangka Pendek, Keberlanjutan Diragukan
Salah satu program yang mendapat apresiasi adalah pemberdayaan 100 Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sekitar kawasan Romokalisari untuk mengelola tenant makanan dan minuman. Program ini digagas untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar dan menciptakan multiplier effect ekonomi dari keberadaan wisata.
Pada awal beroperasi, program ini berjalan cukup baik. Puluhan tenant dibuka, menjual berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Namun seiring menurunnya jumlah pengunjung, banyak tenant yang mulai gulung tikar. Omzet yang tidak stabil membuat pelaku usaha kesulitan menutupi biaya operasional.
Per akhir 2024, dari 100 tenant yang awalnya beroperasi, diperkirakan hanya tersisa sekitar 50-60 tenant yang masih aktif. Sisanya tutup atau hanya buka di akhir pekan dan libur nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang tidak disertai strategi pemasaran wisata yang kuat, hanya akan menghasilkan kesuksesan semu.
“Awalnya ramai, dagangan laris. Sekarang sepi, kadang sehari cuma dapat Rp 50.000. Rugi kalau buka terus, jadi ya buka-tutup saja,” keluh salah satu pelaku usaha tenant yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah kompetisi wisata Surabaya, Romokalisari Adventure Land terjebak di posisi yang tidak jelas: tidak cukup murah untuk bersaing dengan taman gratis, tidak cukup eksklusif untuk bersaing dengan wisata premium, dan tidak memiliki keunikan yang membedakannya dari pesaing lain. *
*Penulis: Hari Agung




