Pemkot dan Ecoton, Penanganan Sampah Plastik di Surabaya: Kajian Mendalam tentang Mikroplastik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 23 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan budaya Jawa Timur, kini tengah menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius. Salah satu isu utama yang muncul adalah pencemaran mikroplastik di aliran sungai kota. Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan Ecoton, sebuah organisasi lingkungan, untuk mengangkat isu ini ke permukaan.
Peringatan Hari Bumi Berubah Menjadi Aksi Nyata
Peringatan Hari Bumi tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan langkah konkret untuk membongkar persoalan yang selama ini tersembunyi di balik aliran sungai kota. Aksi edukasi ini dikemas dalam Forum SheHeros by Bumbi bertema “She Changes the Earth” yang digelar di kawasan Car Free Day Jalan Tunjungan, Minggu (26/4/2026). Ratusan perempuan terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan tersebut, di mana salah satu daya tarik utamanya adalah booth Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK).
Di sana, para peserta diajak melakukan uji mikroplastik secara langsung menggunakan mikroskop portabel. Hasilnya cukup mengejutkan; dari 50 partisipan yang ikut menguji sampel air, seluruhnya terindikasi mengandung mikroplastik dengan jenis dominan fiber dan fragmen.
Membongkar Realitas Pencemaran Plastik
Keisha Estiya Safira, salah satu peserta di lokasi, mengaku terkejut dengan hasil pengujian. “Awalnya saya kira ini cuma isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, tapi setelah lihat langsung, rasanya seperti ditampar,” katanya. Bagi Keisha, temuan ini mengubah cara pandangnya, karena mikroplastik ternyata sudah masuk ke dalam tubuh manusia tanpa disadari.
Data pemantauan sungai Kali Tebu yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran Keisha. Tercatat, dalam setiap 100 liter air ditemukan rata-rata 82 partikel mikroplastik, bahkan angka di wilayah hilir menembus 123 partikel. Kondisi ini mencerminkan tekanan pencemaran yang terus meningkat, yang pada akhirnya mengancam ekosistem serta kesehatan manusia.
Volume Sampah Plastik yang Mengkhawatirkan
Selain polusi tak kasat mata, tim MOZAIK juga mencatat sebanyak 907 kilogram sampah fisik berhasil dijaring dari aliran Kali Tebu. Volume fantastis tersebut menjadi bukti nyata bahwa kebocoran sistem pengelolaan sampah dari daratan menuju badan sungai masih terjadi secara masif.
Koordinator Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, menyatakan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari ketergantungan masyarakat pada plastik sekali pakai. “Kita sedang menghadapi krisis yang kita ciptakan sendiri; sampah di Kali Tebu itu bukan datang dari langit, melainkan dari dapur, pasar, dan kebiasaan harian kita,” jelas alumnus Teknik Lingkungan UPN Surabaya tersebut.
Pendekatan Sistemik untuk Penanganan Masalah
Amiruddin menekankan bahwa penanganan persoalan ini tidak bisa hanya berhenti pada aksi bersih-bersih sungai saja. Perubahan besar harus dimulai dari sumber utamanya, yakni perilaku konsumsi dan gaya hidup masyarakat. “Selama kita masih bergantung pada plastik sekali pakai dan produk sachet, sungai akan selalu menjadi tempat pelarian terakhir sampah,” tambahnya.
Oleh karena itu, Program MOZAIK dikembangkan dengan pendekatan sistemik, mulai dari pemasangan trash boom hingga edukasi berbasis kawasan. Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, menilai jika sungai sudah menjadi titik akhir sampah, itu adalah sinyal gagalnya sistem pengelolaan di darat. “Sinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya sangat penting untuk menutup celah dari hulu, mulai dari kebijakan hingga pengawasan,” kata Prigi.
Komitmen Pemerintah Kota Surabaya
Gayung bersambut, Pemerintah Kota Surabaya menegaskan komitmen penuh untuk mendukung upaya penyelamatan lingkungan tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, M. Fikser, yang hadir langsung di lokasi, tampak berdialog intens dengan tim Ecoton dan para peserta. Fikser meyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah dan komunitas adalah kunci untuk memperkuat efektivitas pengelolaan lingkungan di kota pahlawan.
“Pendekatan berbasis komunitas mampu menjangkau hal-hal yang tidak selalu tersentuh oleh program pemerintah,” tutur Fikser. Dari situ, ia pun memastikan bahwa Pemkot terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah sekali pakai, termasuk fokus pada limbah spesifik seperti popok dan pembalut.
Peran Penting Kaum Perempuan dalam Gerakan Lingkungan
Keterlibatan kaum perempuan dalam gerakan ini pun dinilai sangat strategis karena peran besar mereka dalam menentukan pola konsumsi rumah tangga. Pengalaman melihat langsung mikroplastik di mikroskop diharapkan mampu memberi perspektif baru bagi mereka dalam menjaga kelestarian sungai perkotaan.
“Data dari Kali Tebu ini mengkhawatirkan, dan ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal masa depan kesehatan kita,” tutup Keisha kembali.
Langkah Menuju Perubahan yang Berkelanjutan
Kini, melalui sinergi yang terbangun, penanganan sampah di Kali Tebu diarahkan pada perubahan perilaku yang berkelanjutan. Edukasi, riset, dan intervensi teknis harus berjalan beriringan guna memperkuat kesadaran publik secara luas. Sebab tanpa perubahan gaya hidup, temuan ratusan kilogram sampah tersebut hanya akan menjadi catatan statistik sementara sebelum kembali menumpuk akibat kebiasaan yang tidak pernah diubah.***

>

Saat ini belum ada komentar