Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » PERISTIWA » DAERAH » Peran Pemuda Osing Banyuwangi dalam Menggerakkan Wisata Kelas Dunia

Peran Pemuda Osing Banyuwangi dalam Menggerakkan Wisata Kelas Dunia

  • account_circle Diagram Kota
  • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

    DIAGRAMKOTA.COM Generasi muda suku Osing, yang berasal dari masa pengasingan pada Perang Puputan Bayu, kini menjadi desa wisata terbaik di dunia.

    Aroma kopi tercium saat memasuki jalan utama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada sore hari Sabtu (8/11/2025).

    Di sebelah kiri dan kanan jalan, ratusan orang duduk santai di kursi kayu berdesain klasik sambil menikmati sajian kopi tubruk.

    Sore hari, penduduk suku Osing—suku asli Banyuwangi yang tinggal di Desa Kemiren—melaksanakan perayaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.

    Minum kopi seharga sepuluh ribu dalam bahasa Indonesia disebut ngopi sepuluh ewu.

    Nama festival tersebut menggambarkan bahwa sekitar 10 ribu cangkir kopi disajikan gratis kepada siapa saja yang hadir di acara tahunan ini.

    Kopi gratis, suasana yang menenangkan, serta kehangatan penduduk. Tiga elemen ini cukup memadai untuk menarik ribuan orang dari berbagai daerah datang ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Termasuk para wisatawan asing.

    “Saya senang berada di sini karena semua orang ramah. Semua orang selalu tersenyum. Kopinya juga lezat,” ujar Adela, seorang wisatawan dari Ceko.

    Adela tiba bersama pasangannya, Adrek. Mereka melakukan perjalanan dua hari ke Banyuwangi guna menikmati kekayaan alam dan budaya daerah paling timur Pulau Jawa tersebut.

    Bahagia melihat banyak orang bersatu. Saya sebenarnya bukan penggemar kopi. Namun di sini saya minumnya untuk ikut merayakan bersama warga,” kata Sebastian, turis lain dari Prancis.

    Adela, Adrek, dan Bebasitan bersatu dengan ribuan penduduk lain yang terus-menerus datang ke desa yang dihuni sekitar 2.500 jiwa.

    Bukan Desa Penghasil Kopi

    Desa Kemiren tidak menghasilkan kopi. Satu kuintal kopi yang disajikan dalam festival tersebut merupakan campuran arabika dan robusta yang berasal dari perkebunan di wilayah lain di Banyuwangi dan Bondowoso.

    Namun, masyarakat suku Osing memiliki ikatan kuat dengan kopi dari segi budaya. Wajib bagi mereka untuk menyajikan kopi kepada tamu yang datang ke rumah.

    Mereka juga memiliki kebiasaan khas yang lain. Pada setiap acara pernikahan, orang tua memberikan hadiah berupa beberapa peralatan rumah tangga kepada pengantin.

    Yang selalu ada adalah sejumlah dua belas cangkir keramik kecil. Bisa berupa cangkir baru atau cangkir lama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Gelas-gelas ini juga yang diproduksi dari setiap rumah untuk disajikan kepada para pengunjung dalam festival Ngopi Sepuluh Ewu.

    “Dulunya tidak pernah terpikir oleh kami bahwa budaya sederhana yang kita miliki menarik bagi para pengunjung,” ujar Moh Edy Saputro, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Kemiren.

    Terdapat Tiga Acara Utama di Desa Kemiren

    Pesta Kopi Sepuluh Ewu yang diselenggarakan setiap tahun tidak menjadi satu-satunya acara besar di desa tersebut.

    Kemiren setidaknya berkontribusi dalam tiga acara pada kalender Banyuwangi Festival (B-Fest), rangkaian kegiatan pariwisata yang berhasil meningkatkan citra Banyuwangi sebagai Kota Wisata di Indonesia.

    Selain Ngopi Sepuluh Ewu, terdapat dua festival lainnya yaitu Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu.

    “Barong Ider Bumi adalah upacara yang dilaksanakan sebagai proses pembersihan dan perlindungan. Ritual tradisional ini telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun setiap hari kedua bulan Syawal dalam kalender Islam,” jelas Edy.

    Sementara Tumpeng Sewu berasal dari tradisi selamatan desa yang menyambut hasil panen yang berlimpah.

    Warga suku Osing menyelenggarakannya sebagai wujud rasa terima kasih sekaligus untuk mempererat ikatan sosial di antara sesama penduduk.

    “Kami berupaya mempertahankan warisan nenek moyang. Wisata menjadi kesempatan bagi masyarakat suku Osing untuk terus melestarikan tradisi,” tambah pria berusia 27 tahun itu.

    Edy menjelaskan, mengubah desa adat menjadi desa wisata tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan.

    Beberapa kali coba dilakukan, namun tidak selalu menghasilkan hasil yang optimal. Desa wisata pertama kali diusulkan sekitar tahun 2013.

    Berbagai aktivitas budaya diadakan guna menarik perhatian para wisatawan. Pada awalnya berjalan selama beberapa tahun, namun ketidakkonsistenan menyebabkan desa adat sempat mengalami kemunduran.

    Siapkan Tujuan Budaya dengan Paket Wisata

    Hanya sekitar tahun 2017, pemuda-pemuda dari suku Osing yang tergabung dalam kelompok karang taruna berusaha mengulangi hal tersebut.

    Sekitar 20 pemuda membentuk Pokdarwis. Mereka menyusun beberapa titik destinasi budaya menjadi paket wisata dengan konsep yang lebih terencana.

    Pemuda-pemuda yang menguasai teknologi memberikan semangat baru dalam mempromosikan Desa Wisata Adat Kemiren.

    Terlebih lagi pada saat itu juga bertepatan dengan momen bangkitnya pariwisata di Bumi Blambangan.

    Data pemerintah daerah yang dikumpulkan oleh Badan Statistik Nasional menunjukkan, jumlah pengunjung yang datang ke Banyuwangi pada tahun 2017 mencapai 4,9 juta kunjungan.

    Peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dengan total 4 juta kunjungan.

    Mulai saat itu, jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi terus meningkat setiap tahunnya, yaitu sebanyak 5,3 juta orang pada 2018 dan 5,4 juta pada 2019.

    Pernah mengalami penurunan akibat wabah Covid-19, Banyuwangi terus berupaya bangkit kembali untuk memulihkan kejayaan masa lalu.

    Di beberapa wilayah, pariwisata telah mengubah budaya sebuah desa. Namun tidak di Kemiren. Di sana, kearifan lokal justru semakin dipelihara karena menjadi daya tarik utama.

    Masyarakat suku Osing memiliki rumah khas yang terbuat dari kayu dan bambu dengan atap yang berbeda dibandingkan rumah tradisional Jawa atau Bali. Sejak menjadi desa wisata, jumlah rumah adat semakin meningkat karena hal ini juga menjadi daya tarik,” tambah Edy pada tahun itu.

    Tari Gandung Mendunia

    Budaya lain dari masyarakat suku Osing yang tidak boleh dilupakan adalah Tari Gandrung.

    Ini adalah sebuah tarian yang pertama kali tampil pada masa pemerintahan Belanda atau sekitar abad ke-18.

    Tarian ini kini semakin dikenal berkat pertunjukan tari besar-besaran Festival Gandrung Sewu yang diselenggarakan oleh Pemkab Banyuwangi.

    Festival yang diselenggarakan secara rutin di pantai Selat Bali ini menjadi salah satu acara utama nasional dan masuk dalam kalender wisata Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

    Kekayaan budaya yang diwujudkan dalam atraksi wisata mampu menjadikan Desa Kemiren sebagai salah satu desa wisata terbaik di dunia pada tahun 2025.

    Kemiren tergabung dalam jaringan desa wisata terbaik dunia di kategori Upgrade Programme yang dikelola oleh UN Tourism, lembaga kepariwisataan PBB.

    Kategori tersebut merupakan level kedua teratas dalam penilaian desa wisata oleh UN Tourism. Dari 72 desa wisata terbaik di dunia tahun ini, hanya dua desa wisata di Indonesia yang masuk dalam kategori tersebut.

    Ratusan keluarga memperoleh penghidupan dari sektor pariwisata

    Sejak Kemiren berubah menjadi desa wisata, lebih dari 200 keluarga kini menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut.

    Di antaranya adalah pemandu wisata, seniman, pemilik tempat penginapan, pelaku usaha kecil menengah, pengelola rumah adat di kawasan cagar budaya, serta pemilik properti sewa atau homestay.

    Jumlah pelaku jasa pariwisata di Desa Kemiren semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Saat ini, terdapat 22 usaha kecil menengah yang beroperasi di desa tersebut. Mereka menjalani bisnis mulai dari makanan-minuman hingga pakaian.

    Jumlah penginapan homestay jauh lebih besar. Pihak desa mencatat, terdapat lebih dari 40 homestay yang beroperasi di kawasan Desa Wisata Kemiren.

    Mayoritas merupakan rumah pribadi yang disewakan ketika ada tamu datang mengunjungi.

    Beberapa di antaranya merupakan tempat tinggal berupa kamar-kamar yang secara khusus dibuat sebagai penginapan bagi tamu.

    “Kehadiran pariwisata juga menjaga keberlangsungan sanggar kesenian. Di Kemiren, terdapat 18 sanggar kesenian. Semuanya merupakan sanggar yang berupaya melestarikan budaya adat suku Osing,” kata Edy.

    Ratusan Orang Mengunjungi Wisata Budaya Kemiren

    Setiap tahun, puluhan ribu orang berkunjung ke Desa Wisata Kemiren guna mempelajari budaya lokal.

    Data yang dikumpulkan oleh Pokdarwis setempat menunjukkan bahwa rata-rata antara 2.000 hingga 4.000 kunjungan tercatat dalam buku tamu setiap tahunnya.

    “Sebelum wabah Covid-19, jumlah kunjungan ke Desa Wisata Kemiren pernah mencapai 18.000 pengunjung. Kejadian ini terjadi pada tahun 2019. Namun setelah wabah tersebut, jumlah kunjungan sebanyak itu belum kembali tercapai. Kami berusaha menyajikan budaya dalam pariwisata secara maksimal agar bisa kembali mencapai pencapaian seperti dulu,” katanya.

    Kebudayaan dan Pariwisata Berkembang Bersamaan

    Bagi masyarakat suku Osing, budaya yang tercampur dengan pariwisata justru memberikan nilai tambah. Keduanya saling melengkapi. Adat dan kebiasaan tetap terjaga serta dihormati. Di sisi lain, asap dari dapur rumah penduduk tetap terlihat akibat berkembangnya pariwisata.

    “Menurut saya, keduanya dapat berjalan bersama dengan sangat baik. Dengan menjadi desa wisata, masyarakat juga makmur. Para pemuda tidak perlu pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan,” ujar Ketua Adat Osing Desa Kemiren, Suhaimi.

    Suhaimi mengungkapkan, suku Osing sejatinya memiliki berbagai kebudayaan menarik yang tidak hanya ditampilkan dalam industri pariwisata.

    Sebagai contoh, masyarakat suku Osing memiliki bahasa Osing, yaitu sebuah dialek Jawa khas yang hingga saat ini masih digunakan sebagai bahasa ibu, termasuk oleh kalangan pemuda.

    Bahasa Osing terdengar dalam lirik lagu-lagu kempul Banyuwangi, salah satunya yang dinyanyikan oleh legenda bernama Sumiati. Lagu dengan lirik serupa juga kerap dinyanyikan oleh penyanyi dangdut masa kini seperti Suliayana atau Wandra Resturian.

    Sejarah Panjang Bahasa Osing

    Suhaimi menceritakan, bahasa Osing menarik untuk diteliti karena memiliki riwayat yang panjang.

    Asal usul bahasa ini berkaitan erat dengan asal muasal masyarakat suku Osing yang muncul pada masa Perang Puputan Bayu (1771-1773).

    “Maka, sebagian masyarakat Blambangan yang telah lelah dengan konflik memutuskan untuk menjauh dan melepaskan diri dari pemerintahan. Mereka tidak ingin lagi terlibat dalam perang. Oleh karena itu, mereka mengubah identitas diri dengan salah satu caranya yaitu menggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa Osing itulah yang masih digunakan hingga kini,” tambah Suhaimi.

    Di Banyuwangi, penduduk suku Osing tidak hanya tinggal di Desa Kemiren. Suhaimi menyebutkan, masyarakat suku Osing tersebar di sembilan kecamatan. Setiap daerah memiliki komunitas Osing yang masih aktif.

    “Yang masih mempertahankan dan melestarikan adat budaya hingga kini, salah satunya adalah Kemiren,” tambahnya.

    Kampung Berseri Astra

    Desa Kemiren merupakan salah satu dari 235 Kampung Berseri Astra, sebuah inisiatif berbasis masyarakat yang bertujuan untuk membentuk lingkungan yang bersih, sehat, cerdas, dan berkembang.

    Kepala Desa Kemiren Mohammad Arifin menyampaikan bahwa desa yang ia pimpin menerima dukungan dari Astra sejak tahun 2024.

    Dukungan tersebut terdiri dari empat dasar, yaitu pendidikan, wirausaha, lingkungan, dan kesehatan.

    Di bidang kesehatan, Astra memberikan dukungan terhadap pengadaan fasilitas kesehatan serta pendampingan bagi kader kesehatan. Astra juga menginisiasi pertemuan dini untuk ibu-ibu yang sedang hamil.

    Di bidang pendidikan, Astra memberikan dukungan berupa fasilitas untuk lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kemiren. Termasuk pula penyediaan alat belajar mengajar serta pelatihan bagi guru dan siswa.

    Di bidang lingkungan, Astra mengajarkan warga Kemiren bagaimana memanfaatkan limbah ternak menjadi berbagai produk yang bernilai.

    Seperti pupuk organik dan biogas rumah tangga, Astra juga ikut serta membentuk kelompok sadar lingkungan di Kemiren.

    Terakhir, Astra juga memperkuat perekonomian dengan mengembangkan unit usaha yang berbasis budaya setempat.

    “Astra juga memberikan dukungan kepada kami ketika perwakilan warga harus pergi ke Tiongkok untuk mempresentasikan program desa wisata terbaik dunia yang diselenggarakan oleh UN Tourism di Tiongkok pada bulan Oktober lalu. Sehingga desa kami bisa masuk sebagai salah satu desa wisata terbaik di dunia,” katanya.

    Kebijaksanaan dan Budaya Setempat Dijaga

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi yang dijabat oleh Plt, Taufik Rohman menyampaikan bahwa prestasi Desa Kemiren di tingkat internasional didasarkan pada kearifan dan budaya lokal yang dijaga dengan penuh ketulusan.

    Tugas utama saat ini, menurutnya, adalah memastikan Kemiren tetap konsisten dalam menjaga dan mengembangkan budaya serta membangkitkan sektor pariwisata.

    “Penyelenggaraan penghargaan internasional ini tidak boleh membuat kita menjadi puas diri. Harus terus ada inovasi dalam berbagai bentuk yang menjadikan Kemiren tetap dikenal sebagai desa wisata terbaik di dunia,” ujar Taufik. ***

    Penulis

    Berita Hari ini Terbaru dan Terkini Diagramkota.com

    Komentar (0)

    Saat ini belum ada komentar

    Silahkan tulis komentar Anda

    Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

    Rekomendasi Untuk Anda

    • Ketua JDT Usai Banding Ditolak FIFA: Ada Unsur Politik

      Ketua JDT Usai Banding Ditolak FIFA: Ada Unsur Politik

      • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 188
      • 0Komentar

      DIAGRAMKOTA.COM – Ketua klub Johor Darul Ta’zim, Tunku Ismail Idris, mengkritik keputusan FIFA yang menolak permohonan banding dari Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terkait dugaan pemalsuan dokumen tujuh pemain naturalisasinya. Ia menyatakan bahwa keputusan FIFA tidak memiliki dasar yang jelas. FIFA secara resmi menolak permohonan banding yang diajukan oleh FAM setelah dianggap melakukan pemalsuan dokumen terhadap […]

    • Hasil Pertandingan Premier League: Leeds 1-1 Manchester United

      Hasil Pertandingan Premier League: Leeds 1-1 Manchester United

      • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 115
      • 0Komentar

      DIAGRAMKOTA.COM – Pertandingan antara Leeds United dan Manchester United dalam rangkaian laga Premier League berakhir dengan skor imbang 1-1. Pertandingan yang digelar di Elland Road ini menunjukkan permainan yang sangat ketat dan penuh dinamika, dengan kedua tim saling memperebutkan poin penting. Kedua Tim Saling Berusaha Mencuri Poin Dalam pertandingan ini, Leeds United berhasil membuka keunggulan lebih […]

    • Kapan SKTP 6 Oktober 2025 Cair? Jadwal Terbaru TPG Triwulan 3 2025

      Kapan SKTP 6 Oktober 2025 Cair? Jadwal Terbaru TPG Triwulan 3 2025

      • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 372
      • 0Komentar

      Jadwal Pencairan Tunjangan Profesi Guru Triwulan III Tahun 2025 DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah bulan Oktober, banyak guru di seluruh Indonesia kembali bertanya-tanya tentang kapan Tunjangan Profesi Guru (TPG) Triwulan III akan cair. Pertanyaan ini semakin spesifik bagi para guru yang baru saja menerima Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP) pada awal bulan, seperti tanggal 6 Oktober 2025. […]

    • Mahfud MD: “Kalau Tidak Jujur, Ajur!”, Pesan Moral di Hari Jadi ke-80 Jawa Timur

      Mahfud MD: “Kalau Tidak Jujur, Ajur!”, Pesan Moral di Hari Jadi ke-80 Jawa Timur

      • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 200
      • 0Komentar

      DIAGRAMKOTA.COM – Rapat Paripurna DPRD Jawa Timur dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur berlangsung khidmat dan penuh makna, Sabtu (11/10). Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Ibu Arumi Bachsin, Forkopimda, pimpinan DPRD, kepala OPD Pemprov Jatim, para ketua ormas, serta tokoh masyarakat dari […]

    • Penyakit Kronis Fasum dan Fasos Surabaya Terus Menghantui Pemkot, Josiah Tetapkan Prioritas

      Penyakit Kronis Fasum dan Fasos Surabaya Terus Menghantui Pemkot, Josiah Tetapkan Prioritas

      • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 203
      • 0Komentar

      Diagramkota.com Surabaya – Ditempatkan di Komisi C DPRD Surabaya, Josiah Michael, menyatakan akan focus menyoroti permasalahan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di Surabaya yang hingga kini belum terselesaikan. Menurut Josiah, persoalan ini sudah menjadi “penyakit menahun” yang membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Kota Surabaya. “Masalah fasum-fasos di Surabaya ini sudah seperti penyakit menahun […]

    • Jelang Kongres GMNI 2025, Konsolidasi Nasional di Blitar Tuai Spekulasi Politik

      Jelang Kongres GMNI 2025, Konsolidasi Nasional di Blitar Tuai Spekulasi Politik

      • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
      • account_circle Diagram Kota
      • visibility 448
      • 0Komentar

      DIAGRAMKOTA.COM — Menjelang Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (Kongres GMNI) tahun 2025, suhu politik internal organisasi mulai menghangat. Jawa Timur menjadi pusat perhatian setelah muncul poster bertajuk “Konsolidasi Nasional & Ziarah Kebangsaan” yang direncanakan digelar pada 21 Juni 2025 di Kota Blitar. Agenda Konsolidasi Nasional Didukung Mayoritas DPC GMNI Jawa Timur Kegiatan ini mendapatkan dukungan […]

    expand_less