Kota Surabaya Raih Penghargaan Nasional untuk Revitalisasi Bahasa Daerah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi dalam upaya melestarikan bahasa daerah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI memberikan penghargaan atas program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang dijalankan oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Febrina Kusumawati, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, menjelaskan bahwa upaya pelestarian Bahasa Jawa sudah berjalan selama dua tahun terakhir. Komitmen ini tertuang dalam Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 17 Tahun 2025 tentang Mata Pelajaran Bahasa Jawa sebagai Muatan Lokal Wajib Kurikulum Merdeka pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS) atau sederajat.
Salah satu program unggulan yang dicanangkan adalah “Kemis Mlipis”, yaitu gerakan penggunaan Bahasa Jawa di sekolah setiap Hari Kamis. Program ini mencakup berbagai kegiatan kreatif untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap bahasa dan budaya daerah.
“Selama satu hari penuh, semua sekolah mengimplementasikan pembiasaan bahasa Jawa dengan berbagai kreativitasnya. Kami juga rutin melakukan sharing program inovatif Kemis Mlipis melalui media sosial,” ujar Febrina.
Langkah tersebut bertujuan agar penggunaan bahasa daerah tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari budaya belajar siswa sehari-hari. Selain itu, Dispendik Surabaya juga berencana mengintegrasikan program pelestarian bahasa daerah secara lebih rapi dan sistematis, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Beragam Kegiatan untuk Memperkuat Budaya
Pemkot Surabaya juga rutin menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang diikuti pelajar dengan berbagai cabang lomba berbasis budaya dan bahasa Jawa. Di antaranya lomba nembang, ndongeng, maca geguritan, karawitan, dhagelan tunggal, menulis cerkak, pidato, hingga menulis aksara Jawa.
“Melalui berbagai kegiatan ini, kami ingin anak-anak semakin mencintai bahasa dan budaya daerahnya,” tambah Febrina.
Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) yang digelar di Gedung Garuda, Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5/2026) lalu. Sepanjang 2025, Kemendikdasmen telah melaksanakan revitalisasi terhadap 105 bahasa dan dialek di 36 provinsi di Indonesia.
Peran Pendidikan dalam Melestarikan Bahasa Daerah
Program RBD tidak hanya menjadi upaya pelestarian bahasa, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya. Dengan adanya pendidikan bahasa daerah di sekolah, generasi muda bisa lebih memahami dan menghargai warisan budaya leluhur mereka.
Kehadiran mata pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal wajib juga menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa bahasa daerah tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.
Tantangan dan Harapan
Meski ada progres yang signifikan, tantangan masih tetap ada. Misalnya, kurangnya minat generasi muda terhadap bahasa daerah, serta perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga dan masyarakat.
Namun, dengan komitmen dan inovasi yang terus dilakukan, harapan besar dapat tercapai. Surabaya menjadi contoh nyata bahwa pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Revitalisasi Bahasa Daerah
Apa tujuan dari program Revitalisasi Bahasa Daerah?
Tujuannya adalah untuk melestarikan dan memperkuat penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.Bagaimana cara siswa berpartisipasi dalam program ini?
Siswa dapat ikut serta dalam berbagai kegiatan seperti lomba, festival, dan pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah.Apakah program ini hanya berlaku untuk Surabaya?
Tidak. Program ini diterapkan di berbagai daerah di Indonesia sesuai kebijakan pemerintah.Bagaimana peran orang tua dalam program ini?
Orang tua diharapkan mendukung dan membantu anak-anak dalam mempelajari bahasa daerah di rumah.***

>
>

Saat ini belum ada komentar