Peran Gerakan Pramuka Surabaya dalam Membentuk Generasi Muda yang Berintegritas
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Gerakan Pramuka, sebagai salah satu organisasi kepanduan terbesar di Indonesia, memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Namun, di tengah perubahan sosial dan teknologi yang pesat, tantangan untuk mempertahankan minat generasi muda terhadap kegiatan Pramuka semakin besar. Dalam konteks ini, rencana pengukuhan Anggota Pramuka Garuda di Kota Surabaya menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat.
Membangun Kembali Minat Generasi Muda
Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Andri Arianto, menyampaikan pandangan bahwa kegiatan pengukuhan anggota Pramuka Garuda layak mendapatkan apresiasi. Menurutnya, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal dalam menjaga keberlangsungan Pramuka di kalangan generasi muda.
“Gerakan Pramuka ini melatih kemandirian, kepemimpinan, disiplin, kerja sama, dan juga cinta tanah air,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Pramuka tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kepanduan, tetapi juga sebagai wadah pembentukan nilai-nilai luhur bagi para anggotanya.
Tantangan dalam Era Digital
Di era digital saat ini, antusiasme siswa terhadap kegiatan Pramuka mengalami penurunan. Banyak generasi muda lebih memilih aktivitas di media sosial daripada ikut serta dalam kegiatan organisasi. “Beberapa survei public tahun 2026 yang sudah dirilis, menyatakan bahwa aktivitas tertinggi Gen Z menghabiskan waktu luang dengan scrolling medsos dan mengakses internet lebih 6 jam sehari,” papar Andri.
Ia menilai, kecenderungan ini membuat kegiatan Pramuka dianggap tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, ia menekankan pentingnya melihat sisi positif dari kegiatan tersebut, bukan hanya fokus pada tantangan atau kegagalan.
Penyikapan Terhadap Isu Pungutan Liar
Terdapat beberapa desas-desus yang mengaitkan kegiatan pengukuhan Pramuka Garuda dengan dugaan pungutan liar (pungli). Namun, Andri menegaskan bahwa tudingan ini perlu disikapi secara bijak dan tidak serta-merta disimpulkan sebagai bentuk pelanggaran.
“Terkait kegiatan pengukuhan anggota Pramuka Garuda, beredar sassus yang ‘dicurigai’ sebagai kedok ‘pungli’, itu bentuk pesimisme yang memandang dari sisi negatifnya saja yaitu pada potensi kegagalan, kesulitan, dan tantangan yang mungkin dihadapi, daripada melihat peluang atau kemungkinan positif,” jelasnya.
Pendanaan yang Transparan
Andri juga menjelaskan bahwa pendanaan kegiatan Pramuka selama ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, melainkan berasal dari berbagai sumber yang sah. Pemerintah, kata dia, berperan sebagai pembina sekaligus fasilitator.
“Terkait sumber pendanaan kegiatan Pramuka, Pemerintah sebagai pembina (melalui presiden, gubernur, bupati, wali kota sebagai Ketua Majelis Pembimbing) dan fasilitator (menyediakan anggaran, sarana, dan kebijakan),” ujarnya.
Dengan melihat berbagai aspek, kegiatan pengukuhan Anggota Pramuka Garuda di Surabaya memiliki potensi untuk menjadi langkah awal dalam membangun prasangka baik terhadap peran Pramuka di kalangan generasi muda. Meski menghadapi tantangan, kegiatan ini dapat menjadi wadah pembentukan nilai-nilai yang penting bagi masa depan bangsa.***

>

Saat ini belum ada komentar