Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » PERISTIWA » DAERAH » Kisah Eka Wahyu: Sukses Jahit dari Surabaya ke Luar Negeri

Kisah Eka Wahyu: Sukses Jahit dari Surabaya ke Luar Negeri

  • account_circle Diagram Kota
  • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DIAGRAMKOTA.COM – Usaha rumahan di Surabaya berhasil menarik perhatian pasar global. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernama Decak Handmades secara rutin mengirimkan produk dekorasi rumah dan kerajinan ke luar negeri.

UMKM Decak Handmades, adalah milik Eka Wahyu Setyowati, warga Bendul Merisi, Surabaya. Perjalanan kesuksesan ini dimulai dari hobi menjahit.

Eka mengakui tidak menyangka produk yang dibuatnya kini bisa dinikmati hingga ke luar negeri. “Awalnya hanya hobi, belajar menjahit dari tetangga lalu ikut pelatihan di Jakarta. Pada tahun 2019 saya mulai mencoba membagikan dan memperdagangkan hasil karya saya,” kata Eka Wahyu saat diwawancara di rumahnya, Selasa (25/11).

Produk pertama yang dihasilkan Eka adalah selimut. Namun, ukurannya yang besar membuatnya sulit dibawa ke pameran dan menjadi pertimbangan bagi pengunjung dalam membeli produk berukuran besar.

Eka Wahyu mulai memproduksi barang yang lebih kecil seperti sarung bantal, taplak meja, hingga hiasan dinding. Kesempatan untuk mengikuti pameran nasional oleh Kementerian Koperasi sempat meningkatkan semangatnya, namun pandemi datang tidak lama setelahnya.

“Waktu itu penuh semangat tetapi tiba-tiba segalanya terhenti. Akhirnya saya kembali belajar bisnis online,” kata Eka Wahyu.

Saat terjadi kekurangan masker, Eka berusaha membuat masker kain dengan gaya unik. Barang ini akhirnya menjadi awal masuknya ke pasar global.

“Masker itu menjadi intinya. Desain saya pernah dikirim ke Prancis, Turki, dan Brunei. Masker memberikan kehidupan bagi kami selama pandemi,” ujar Eka Wahyu.

Sekarang Decak Handmades dikenal berkat produk yang terbuat dari kain lokal Nusantara, seperti batik, lurik, dan ecoprint. Bahan-bahan ini biasanya digunakan dalam dunia fesyen, tetapi Eka memadukannya menjadi dekorasi rumah dengan nuansa Indonesia.

Barang kesukaan pelanggan saat ini mencakup bantal, tas belanja, dan cendera mata acara. Harganya berbeda mulai dari Rp 45 ribu untuk gantungan kunci hingga Rp 5 juta untuk produk mewah seperti selimut.

“Pasar dekorasi rumah memang tidak sebesar pasar fesyen. Oleh karena itu, saya mengikuti berbagai kurasi dan pameran agar jangkauan pasarnya menjadi lebih luas,” ujar Eka Wahyu.

Menurut Eka Wahyu, mengikuti kurasi justru membantu membangun mental pelaku UMKM dalam bersikap percaya diri dan menjaga standar kualitas. Meskipun permintaan dari luar negeri cukup besar, proses distribusi masih terbatas. Mayoritas produk dibawa langsung oleh pembeli dan dijual kembali di negara tujuan.

“Banyak pasar internasional yang menyukai dekorasi rumah dengan nuansa Indonesia sebagai oleh-oleh. Pernah mengirim ke Kanada dan Australia dengan cara carry sendiri. Sekarang kita sedang proses ekspor ke Brunei Darussalam dan sudah mengirimkan sampel,” tambahnya.

Produk tersebut terbagi menjadi dua jenis, yaitu karya seni yang dibuat bersama tim dan produk massal seperti suvenir yang memberdayakan warga sekitar.

Eka merancang desain dan memotong bahan, sementara warga yang lain melakukan proses penjahitan terhadap produk tersebut. Ia berharap Decak Handmades semakin dikenal tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di tingkat internasional. Saat ini, produk dekorasi rumah dan kerajinan tangan dikirim secara rutin ke berbagai negara, mulai dari Kanada, Turki, India, Australia hingga Brunei Darussalam.

“Harapannya ini bisa menjadi contoh bahwa hobi, jika dijalani dengan serius, dapat menjadi peluang yang besar,” tutup Eka Wahyu. ***

 

Penulis

Berita Hari ini Terbaru dan Terkini Diagramkota.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Debat Publik Dikritik, DPRD Surabaya : Lebih Mirip Monolog Daripada Diskusi Dinamis

    Debat Publik Dikritik, DPRD Surabaya : Lebih Mirip Monolog Daripada Diskusi Dinamis

    • calendar_month Jumat, 18 Okt 2024
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Diagramkota.com Surabaya – Anggota DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, mengkritik pelaksanaan Debat Publik Pilkada Surabaya 2024 yang digelar oleh KPU Surabaya pada Rabu (16/10/2024) lalu. Menurutnya, acara tersebut lebih menyerupai monolog daripada sebuah debat publik yang seharusnya berlangsung dinamis. “Pak Eri (Eri Cahyadi) dan Pak Armuji sudah cukup baik dalam menyampaikan hasil kinerja dan program kedepan, […]

  • Hari Suci Siwaratri ,Budaya Bali

    Makna dan Signifikansi Hari Suci Siwaratri dalam Budaya Bali

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 78
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Hari Suci Siwaratri memiliki makna mendalam dalam tradisi keagamaan dan budaya masyarakat Bali. Perayaan ini dirayakan setiap tahun pada malam purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kepitu (bulan ke tujuh) dalam kalender Bali. Tahun ini, perayaan Siwaratri jatuh pada hari Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam ajaran Hindu, Siwaratri mengandung makna spiritual yang tinggi, […]

  • Liburan ke Solo? Cicipi Es Dawet Telasih Bu Dermi, Favorit Jokowi di Pasar Gede

    Liburan ke Solo? Cicipi Es Dawet Telasih Bu Dermi, Favorit Jokowi di Pasar Gede

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 86
    • 0Komentar

    DIAGRAMKOTA.COM – Berkunjung ke Kota Solo terasa belum lengkap tanpa mencicipi salah satu kuliner legendarisnya, Es Dawet Telasih. Minuman tradisional ini mudah ditemukan di berbagai penjuru kota dan telah menjadi pilihan yang disukai oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Salah satu pedagang Es Dawet Telasih yang sering dikunjungi Presiden […]

  • Kuasa Negara yang Tertahan: Refleksi Pasal 33 UUD 1945 dalam Kegagalan Ekonomi

    Kuasa Negara yang Tertahan: Refleksi Pasal 33 UUD 1945 dalam Kegagalan Ekonomi

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Paradoks dalam Implementasi Pasal 33 UUD 1945 DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah perjalanan bangsa Indonesia menuju kesejahteraan, sebuah paradoks yang membingungkan terus menggerogoti fondasi konstitusi kita. Pasal 33 UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa “bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Namun, realitas yang terjadi justru […]

  • tunjangan rumah dprd

    Menguras Keuangan Daerah, Tunjangan Rumah DPRD Harus Dihentikan

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 276
    • 0Komentar

      Penyesuaian Tunjangan Anggota DPRD, Perlu Konsistensi dengan Kebijakan Pusat DIAGRAMKOTA.COM – Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menyampaikan pandangan mengenai tunjangan perumahan bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang menurutnya seharusnya dihapus. Ia menilai bahwa pemberian tunjangan tersebut tidak lagi relevan dan justru memberatkan keuangan daerah. Hal ini terlihat dari berbagai daerah seperti Jakarta, Jawa […]

  • Tunjangan DPRD Bogor Membengkak, Ketua Dewan Raup Rp92 Juta Bulanan

    Tunjangan DPRD Bogor Membengkak, Ketua Dewan Raup Rp92 Juta Bulanan

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Diagram Kota
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Kombinasi Tunjangan dan Gaji Anggota DPRD Kabupaten Bogor DIAGRAMKOTA.COM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendapatkan gaji dan tunjangan yang cukup besar. Berdasarkan aturan terbaru, total penghasilan bulanan mereka bisa mencapai antara Rp72 juta hingga Rp92 juta, tergantung pada posisi yang dijabat, baik sebagai ketua, wakil ketua, maupun anggota biasa. Aturan […]

expand_less