Rupiah Terus Melemah, Prediksi Kurs Rp 18.000 pada Akhir Mei 2026
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan prediksi bahwa kurs akan menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS pada akhir Mei 2026. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang memicu kekhawatiran pasar.
Pada pembukaan pasar, Selasa (26/5/2026), rupiah melemah hingga mencapai level Rp 17.769 per dolar AS. Pada pagi ini, nilai tukar rupiah melonjak lagi menjadi Rp 17.792 per dolar AS, mencatat rekor baru. Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, situasi ini bisa memburuk lebih lanjut karena libur nasional yang memengaruhi aktivitas pasar.
Libur Nasional Memicu Pelemahan Lebih Tajam
Ibrahim menilai, besok, pasar rupiah akan tutup selama libur Idul Adha, yang kemungkinan besar akan membuat pelemahan cukup tajam. BI tidak dapat melakukan intervensi langsung di pasar domestik, seperti pada pasar obligasi dan SUN ketika libur nasional.
Tekanan eksternal juga meningkat, terutama dari Timur Tengah. Pasar saat ini sedang menantikan kesepakatan antara Iran dan AS, yang diprakarsai oleh Pakistan dan Oman. Namun, situasi justru memanas setelah AS dilaporkan melancarkan serangan ke Iran selatan. Pernyataan Donald Trump yang meminta uranium Iran diambil alih juga turut memperburuk tensi.
Dolar AS Kuat sebagai Aset Aman
Eskalasi konflik global telah memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Harga minyak mentah global juga bertahan di level tinggi, dengan West Texas Intermediate (WTI) mencapai 92 dolar AS per barel dan Brent berada di level 98 dolar AS per barel.
Dari sisi dalam negeri, lonjakan harga minyak mentah dunia memicu kebutuhan dolar AS yang semakin tinggi untuk impor. Ibrahim mengingatkan bahwa cadangan minyak nasional berpotensi menipis pada triwulan kedua 2026, sementara biaya impor makin mahal.
Defisit Transaksi Berjalan Memperparah Tekanan
Menurut laporan Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2026 mencatat defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) melebar menjadi 1,1 persen dari PDB atau 4,01 miliar dolar AS, naik dibandingkan triwulan IV-2025 yang hanya 0,5 miliar dolar AS.
Penurunan tajam ekspor terjadi karena melemahnya permintaan dari negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara itu, impor tetap tinggi karena permintaan barang modal dan bahan baku masih kuat.
Dampak pada Sektor Riil
Tekanan di sektor moneter mulai menjalar ke sektor riil. Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor telah memicu masalah luar biasa bagi banyak perusahaan domestik. Data menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026, fenomena ini telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sebanyak 15.425 orang.
Langkah Pemerintah dan BI untuk Stabilisasi
Meski demikian, ada indikasi stabilisasi di pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke level 6,69 persen, sementara untuk tenor dua tahun stabil di 6,65 persen. Langkah intervensi BI dan pemerintah dinilai efektif dalam menjaga daya tarik imbal hasil domestik.
Pemerintah dan BI juga tengah menyiapkan instrumen penyelamat untuk menghadapi tekanan musiman pada triwulan II-2026, termasuk repatriasi dividen dan kebutuhan valas untuk musim haji. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah regulasi devisa hasil ekspor (DHE) yang akan berlaku mulai 1 Juni 2026.
Kebijakan Baru untuk Memperkuat Likuiditas Valas
Eksportir sektor nonmigas wajib memarkir devisa hasil ekspornya di dalam negeri selama 12 bulan, dengan 50 persen di antaranya harus dikonversi ke dalam rupiah melalui perbankan domestik. Pemerintah menjanjikan insentif berupa pembebasan PPh atas bunga deposito DHE tersebut.
Jessica Tasijawa, analis dari Mirae Asset Sekuritas, menilai kebijakan ini merupakan upaya agresif untuk memperkuat likuiditas valas domestik dan menstabilkan rupiah di tengah volatilitas global yang tinggi.***

>

Saat ini belum ada komentar