Perspektif Geopolitik Iran dalam Konteks Konflik Regional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Guru Besar Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada, Siti Muti’ah Setyawati, menyampaikan pandangan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi yang relatif sendirian menghadapi tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan Israel. Ia menyoroti bahwa sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara Teluk, cenderung enggan memberikan dukungan secara terbuka kepada Teheran.
“Tidak ada satu negara pun yang benar-benar berpihak pada Iran. Bahkan negara-negara Islam tetangganya juga tidak menyatakan dukungan secara tegas,” ujar Muti’ah dalam diskusi Pojok Bulaksumur di Selasar Tengah Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Kamis, 5 Maret 2026.
Muti’ah menjelaskan bahwa meskipun Rusia pernah menyatakan dukungan kepada Iran, termasuk rencana pengiriman pesawat tempur, hingga kini dukungan tersebut belum terlihat secara nyata. Di sisi lain, Cina dinilai masih memilih untuk bersikap menunggu dan tidak langsung terlibat dalam konflik tersebut.
Kondisi yang Mengarah pada “Keroyokan”
Menurutnya, situasi ini membuat konflik yang melibatkan Iran tampak seperti “keroyokan” antara AS dan Israel terhadap negara tersebut. Meski demikian, Muti’ah menekankan bahwa dalam geopolitik terdapat prinsip yang sering disebut eagle flies alone, yakni pihak yang berdiri sendiri tidak selalu lebih lemah.
“Yang sendiri kadang justru bisa menjadi lebih kuat,” tambahnya.
Alasan Negeri Jiran Tidak Berpihak pada Iran
Ia menjelaskan bahwa keengganan negara-negara kawasan untuk berpihak pada Iran berkaitan dengan situasi politik dan ekonomi masing-masing. Misalnya, Irak masih menghadapi persoalan domestik yang kompleks serta keberadaan ribuan tentara Amerika Serikat di wilayahnya.
Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, dan Kuwait dinilai sangat bergantung pada Amerika Serikat, terutama dalam sektor energi dan keuangan.
“Mereka terikat dengan sistem petrodollar. Minyak dijual ke Amerika dan Eropa dengan dolar, dan dana itu disimpan di Amerika serta digunakan untuk membeli senjata. Jadi mereka sudah sangat bergantung pada Amerika Serikat,” kata Muti’ah.
Dampak Ketergantungan pada Kebijakan Luar Negeri
Ketergantungan tersebut membuat negara-negara Teluk sulit menentukan kebijakan luar negeri secara independen, termasuk dalam konflik yang melibatkan Iran. Hal ini menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi dan keamanan mereka sangat terkait dengan hubungan dengan AS.
Dalam konteks ini, keputusan negara-negara kawasan untuk tidak secara terbuka mendukung Iran bukan hanya didasari oleh faktor keamanan, tetapi juga oleh kebutuhan ekonomi dan stabilitas internal. Perlu dipahami bahwa kebijakan luar negeri suatu negara sering kali dipengaruhi oleh kepentingan domestik yang lebih besar.
Perlu diketahui bahwa situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah terus berubah, dan setiap negara memiliki alasan masing-masing dalam mengambil sikap. Dengan semakin kompleksnya dinamika regional, penting bagi negara-negara untuk mempertimbangkan kepentingan jangka panjang dan keseimbangan dalam hubungan internasional.***

>

Saat ini belum ada komentar