Pasar Keuangan Indonesia Kembali Terguncang, Rupiah Rp 18.000, IHSG ke Level 5.600
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan hingga menembus ambang batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melorot dan sempat menyentuh angka 5.600. Kondisi ini mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan domestik yang memicu kekhawatiran para investor.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah melemah menjadi Rp 18.027 per dolar AS. Ini merupakan penurunan sebesar 0,34 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Secara tahun kalender, rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,08 persen.
Di sisi lain, IHSG bergerak di kisaran 5.730,69 pada sesi perdagangan pertama, turun 3,54 persen dari penutupan sebelumnya. Pada titik tertentu, indeks ini bahkan menyentuh level 5.655. Dalam konteks tahun kalender, IHSG tercatat sebagai indeks yang mengalami penurunan terbesar secara global, yaitu sebesar 33,8 persen.
Arus Modal Asing Mengalir Keluar
Kondisi ini terjadi seiring dengan keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan serta Bursa Efek Indonesia, total arus modal asing yang keluar selama Januari-Mei 2026 mencapai Rp 69,5 triliun.
Fithra Faisal Hastiadi, Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa sentimen pasar Indonesia masih cenderung waspada. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti harga minyak yang tinggi, suku bunga yang tetap tinggi, risiko geopolitik, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
”Prospek jangka pendek Indonesia masih menantang karena risiko eksternal, tekanan nilai tukar, dan sentimen risk-off global dapat terus membebani pasar saham dan rupiah,” ujarnya.
Menurut Fithra, meskipun Indonesia memiliki potensi investasi jangka panjang, stabilitas pasar akan sangat bergantung pada kondisi makro yang lebih kuat, arah kebijakan yang lebih jelas, dan meningkatnya kepercayaan investor.
Kredibilitas Pemerintah Menjadi Sorotan Utama
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyoroti bahwa sentimen pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, tetapi lebih fokus pada kredibilitas pemerintah.
”Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, tetapi mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” katanya.
Beberapa kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor antara lain:
- Tata kelola dan kredibilitas kebijakan pemerintah pasca-proyeksi negatif dari lembaga pemeringkat internasional.
- Tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.
- Menyusutnya kelas menengah.
- Arus modal asing yang terus mengalir keluar.
- Risiko kepemimpinan dan komunikasi kebijakan yang meningkat.
Investor juga sedang memantau evaluasi dari lembaga internasional terhadap bursa Indonesia. Fokus utama mereka kini berada pada dua minggu paling krusial tahun ini, termasuk MSCI Global Market Accessibility Review, FTSE Russell Global Equity Index Series Review, dan MSCI Annual Market Classification Review.
Langkah Bank Indonesia untuk Stabilitas Pasar
Bank Indonesia (BI) mengambil berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Salah satunya adalah membatasi pembelian valas secara tunai tanpa underlying maksimal sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan. Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral (local currency transaction).
Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, menjelaskan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah memerlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar.
”Stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” ujarnya.***

>

Saat ini belum ada komentar