Rupiah Melemah di Atas Rp 17.600, Ahli Sebut Ini Bukan Karena Tekanan Moneter
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pada Senin (18 Mei 2026), rupiah melemah ke level Rp 17.668 per dolar AS, menunjukkan tekanan yang terus meningkat terhadap mata uang nasional. Namun, menurut ekonom dari LPEM FEB UI, Teuku Riefky, penurunan ini lebih disebabkan oleh masalah fiskal dan struktural daripada tekanan moneter.
Fiskal yang Menyempit Menjadi Penyebab Utama
Menurut Riefky, melemahnya rupiah mencerminkan keterbatasan ruang fiskal pemerintah. Kenaikan harga minyak global memicu beban subsidi BBM yang semakin berat, sementara pendapatan pajak tetap rendah.
“Masalah fiskal muncul dari penyempitan ruang fiskal akibat beban subsidi BBM yang meningkat seiring kenaikan harga minyak, serta pendapatan pajak yang lemah,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran besar untuk program-program strategis seperti Program Makanan Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Hal ini memperparah tekanan pada anggaran negara.
Kebijakan Pemerintah yang Tidak Stabil Mengurangi Kepercayaan Investor
Riefky juga menyoroti isu struktural yang memengaruhi investor. Perubahan kebijakan yang sering terjadi menciptakan ketidakpastian di pasar, sehingga memengaruhi sentimen terhadap aset domestik.
“Perubahan kebijakan yang tidak konsisten membuat pasar menjadi tidak stabil dan menekan nilai tukar rupiah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah akan terbatas jika masalah fiskal belum terselesaikan.
Program BSF Tidak Efektif Tanpa Perbaikan Struktural
Meski pemerintah telah mengumumkan skema Dana Stabilisasi Surat Berharga (BSF) oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Riefky menyatakan bahwa program ini tidak akan memberikan dampak signifikan jika masalah fiskal dan struktural tetap ada.
“Masalah utamanya bukanlah kebijakan moneter, melainkan aspek fiskal dan struktural,” tegasnya.
Langkah Jangka Panjang: Reformasi Struktural
Untuk menjaga stabilitas jangka panjang rupiah, Riefky menyarankan pemerintah melakukan reformasi struktural secara konsisten. Di sisi lain, ia mengimbau pemerintah untuk memperbaiki posisi fiskal dengan merefokuskan pengeluaran dan realokasi anggaran.
“Anggaran untuk MBG dan KDMP perlu dievaluasi agar sumber daya fiskal bisa dialihkan ke sektor-sektor yang lebih berdampak langsung terhadap kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Tekanan Eksternal Juga Berkontribusi
Riefky mengakui bahwa tekanan eksternal tetap menjadi faktor penting dalam pelemahan rupiah. Tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan AS, turut memengaruhi pasar keuangan.
“Ada faktor internal dan eksternal. Secara eksternal, tekanan berasal dari konflik Iran-AS. Secara internal, tekanan datang dari masalah fiskal dan struktural,” ujarnya.
Rekomendasi untuk Stabilitas Rupiah
Dalam jangka pendek, Riefky menyarankan pemerintah untuk meninjau alokasi anggaran dan memprioritaskan pengeluaran yang lebih produktif. Ia juga menekankan perlunya kebijakan yang konsisten untuk membangun kepercayaan investor.
Melemahnya rupiah di atas Rp 17.600 bukan hanya disebabkan oleh tekanan moneter, tetapi juga oleh masalah fiskal dan struktural yang memerlukan penanganan serius. Dengan reformasi yang tepat dan kebijakan yang stabil, Indonesia dapat menjaga stabilitas rupiah dan membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat.***

>
>

Saat ini belum ada komentar