Evaluasi Kepemimpinan Eri-Armuji di Kota Surabaya, DPRD: Fokus pada Identitas dan Inklusivitas Digital
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemimpin kota yang menjalani periode kedua sering kali menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa mereka mampu melanjutkan pembangunan dengan lebih baik. Di Kota Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji genap setahun memimpin kota tersebut. Anggota DPRD Surabaya, Cahyo Siswo Utomo, memberikan evaluasi terhadap capaian pemerintah dalam masa transisi ini.
Penguatan Identitas Kota Pahlawan
Salah satu fokus utama dari evaluasi ini adalah optimalisasi identitas Kota Pahlawan. Surabaya memiliki sejarah unik sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki gelar tersebut. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk meningkatkan pariwisata dan investasi.
Cahyo menekankan bahwa momentum November, yaitu Hari Pahlawan, harus dikemas secara progresif seperti perayaan hari jadi bulan Mei. Dengan demikian, identitas sejarah tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga.
Sinergi Keamanan dan Mitigasi Proaktif
Di sisi lain, keamanan kota juga menjadi prioritas. Cahyo menyarankan agar Pemkot Surabaya meningkatkan sinergi dengan TNI–Polri. Ia menekankan bahwa keamanan kota tidak boleh dikelola secara reaktif, melainkan melalui mitigasi risiko sejak awal.
Komunikasi lintas sektor menjadi kunci agar tidak terjadi eskalasi gangguan ketertiban yang merugikan aset kota dan kenyamanan warga. Ini penting untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan.
Transformasi Digital yang Inklusif
Transformasi digital yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya mendapat apresiasi, namun dengan catatan kritis. Cahyo menyoroti perlunya pendampingan bagi lansia dalam menggunakan layanan digital. Inovasi teknologi jangan sampai menciptakan kesenjangan baru bagi warga senior.
Selain itu, penyaluran bantuan sosial harus didasarkan pada data kemiskinan yang dinamis dan diperbarui secara berkala. Sistem online harus memudahkan, bukan justru menyulitkan warga miskin mengakses layanan dasar.
“Data kemiskinan itu dinamis. Hari ini mampu, besok bisa jatuh miskin. Jika data tidak cepat diperbarui, kebijakan bisa salah sasaran,” tambah Cahyo.
Restorasi Sejarah dan Pentingnya Nilai Kepahlawanan
Sejarah Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar menjadi sorotan dalam evaluasi ini. Bangunan cagar budaya ini memiliki nilai historis tinggi sebagai tempat menyiarkan pidato pembakar semangat pertempuran 10 November 1945. Pada 2016, bangunan ini sempat rata dengan tanah akibat pembongkaran, yang memicu kemarahan publik.
Penekanan kembali pada situs ini oleh pemerintah pusat menandakan pentingnya restorasi fisik dan nilai sejarah di tengah pembangunan modern Surabaya. Cahyo menegaskan bahwa simbol sejarah justru harus dijaga agar tidak kehilangan makna.
Rekomendasi untuk Pemerintah Kota
Pemkot Surabaya disarankan untuk segera menyusun kalender wisata tematik yang lebih kuat berbasis sejarah kepahlawanan. Selain itu, peningkatan kualitas petugas lapangan di tingkat Kelurahan sangat diperlukan untuk mendampingi kelompok rentan dalam mengakses aplikasi layanan publik.
Dengan langkah-langkah ini, jargon ‘Surabaya Digital City’ benar-benar inklusif bagi semua lapisan masyarakat. Evaluasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa kepemimpinan Eri-Armuji di periode kedua dapat memberikan manfaat nyata bagi warga Surabaya.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar