Komisi V Soroti Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur: Pertanyaan tentang Keselamatan dan Infrastruktur
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kecelakaan yang melibatkan kereta api jarak jauh (KA) Argo Bromo Anggrek dengan kereta komuter (KRL) PLB 5588a di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Insiden ini terjadi pada Senin (27/4) malam dan menewaskan 15 orang serta melukai puluhan lainnya. Kejadian ini memicu pertanyaan mendalam tentang sistem keselamatan dan infrastruktur transportasi kereta api di Indonesia.
Peran Komisi V DPR dalam Penyelidikan
Wakil Ketua Komisi V DPR, Saiful Huda, menyampaikan rasa prihatin atas kejadian ini. Ia menekankan bahwa kereta api, baik jarak jauh maupun commuter, merupakan tulang punggung transportasi nasional. “Negara telah berinvestasi besar dalam pengembangan infrastruktur, teknologi persinyalan, dan prosedur operasional,” ujar Huda dalam pernyataannya.
Komisi V DPR kini sedang menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sementara itu, Huda memberikan beberapa catatan penting terkait kejadian tersebut.
Masalah Perlintasan Sebidang yang Mengancam Keselamatan
Salah satu isu utama yang disoroti oleh Huda adalah masalah perlintasan sebidang. Berdasarkan data yang ia miliki, saat ini terdapat sekitar 3.000 hingga 4.000 titik perlintasan sebidang di seluruh Indonesia. Namun, hanya sekitar 1.200 titik yang dijaga secara baik oleh PT KAI, Pemda, atau Dishub. Sisanya adalah perlintasan tanpa penjagaan, yang rentan menyebabkan kecelakaan.
Huda menjelaskan bahwa perlintasan sebidang JPL 85 dekat Stasiun Bekasi Timur adalah salah satu contoh perlintasan tanpa penjagaan. “Banyak masyarakat nekat menerobos palang pintu meskipun sudah ada sinyal kereta yang akan melintas,” tambahnya.
Potensi Human Error dan Persinyalan yang Tidak Akurat
Huda juga menyoroti kemungkinan adanya human error dalam insiden ini. Ia bertanya-tanya mengapa KA Argo Bromo Anggrek tidak menghentikan perjalanannya ketika KRL 5181 mengalami kendala. “Apakah ini persoalan sinyal atau kelalaian manusia?” tanyanya.
Ia mencontohkan kecelakaan-kecelakaan kereta di negara maju seperti kecelakaan Amagasi di Jepang pada 2005, kecelakaan Hatfield di Inggris pada 2000, dan kecelakaan Santiago de Compostela di Spanyol pada 2013. Meski jarang terjadi, kecelakaan-kecelakaan ini memicu perbaikan standar keselamatan transportasi.
Rekomendasi untuk Mencegah Kecelakaan Masa Depan
Huda menegaskan bahwa kecelakaan ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan keselamatan transportasi. Jika hasil investigasi menunjukkan bahwa masinis merasa tertekan karena dikejar waktu, maka diperlukan perbaikan manajemen waktu agar tidak mengabaikan keselamatan. Jika penyebabnya adalah gangguan persinyalan, maka diperlukan revolusi teknologi persinyalan yang lebih presisi. Dan jika penyebabnya adalah perlintasan sebidang tanpa penjagaan, maka diperlukan perbaikan infrastruktur mendasar.
Dengan demikian, kecelakaan di Bekasi Timur bukan hanya menjadi tragedi, tetapi juga menjadi pelajaran berharga untuk masa depan transportasi kereta api di Indonesia.***
- Penulis: Diagram Kota

>

Saat ini belum ada komentar