Ringkasan Berita:
- Pemkot Surabaya mengintegrasikan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) ke dalam Aplikasi Sayang Warga (ASW) Posyandu.
- Langkah ini memangkas sistem manual Google Formulir agar intervensi sosial, kesehatan, hingga perumahan berjalan real time.
- Evaluasi alur verifikasi di tingkat kecamatan tengah disiapkan guna mengatasi kendala input data baru oleh kader posyandu.
DIAGRAMKOTA.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi mengintegrasikan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) ke dalam Aplikasi Sayang Warga (ASW) Posyandu. Kebijakan strategis ini diambil guna mempercepat respons penanganan beragam problematika mendasar warga, mulai dari bidang sosial, kesehatan, lingkungan, pendidikan, hingga perumahan rakyat.
Untuk memastikan data lapangan terserap presisi, Pemkot Surabaya menggandeng jajaran Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menyisir langsung permukiman penduduk. Skema jemput bola ini ditujukan agar warga yang mendesak membutuhkan intervensi pemerintah terdata jauh lebih cepat dan akurat.
Menyatukan Intervensi Terfragmentasi ke Dalam Satu Pintu Digital
Istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Rini, menegaskan bahwa penanganan berbasis SPM sejatinya bukan hal baru di Surabaya. Kendati demikian, pola kerja yang berjalan sebelumnya dinilai belum terintegrasi dalam satu wadah komprehensif.
“Menggabungkan keenam SPM ini sebenarnya Surabaya sudah melakukan, tapi tidak terkoordinir menjadi satu. Seperti di sektor pendidikan dicari anak yang putus sekolah, kemudian di bidang sosial juga ada lansia yang membutuhkan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) dan lain-lain. Itu sudah dilakukan, nah kami saat ini mencoba untuk menyatukan menjadi satu aplikasi ASW Posyandu ini,” terang Rini usai agenda Sarasehan Posyandu (Sahdu) di Graha Sawunggaling, Rabu (28/10/2026).
Keterhubungan antarsektor menjadi landasan utama unifikasi sistem ini. Masalah sosial dan kesehatan tidak lagi dapat diselesaikan secara parsial karena memiliki akar persoalan yang saling bertaut erat di lapangan.
“Karena enam SPM ini berhubungan semuanya ya, satu anak stunting itu pasti rumahnya nggak sehat. Pola asuhnya juga pasti nggak bagus orang tuanya, dan makanannya kurang bergizi. Kemungkinan, juga bisa karena status ekonominya yang dibuat makan sehari-hari saja susah,” imbuh Rini memaparkan keterkaitan antara kasus stunting, sanitasi lingkungan, dan daya beli keluarga.
Tinggalkan Rekap Manual, Catat Siklus Hidup Warga Secara Real Time
Melalui optimalisasi ASW Posyandu, rekam jejak setiap penduduk kini terdokumentasi jauh lebih terperinci. Pencatatan mencakup seluruh siklus hidup warga, mulai dari peristiwa kelahiran hingga kelompok lanjut usia (lansia).
“Termasuk intervensi apa yang sudah dilakukan Dinas Sosial (Dinsos) apa, dari rutilahu apa itu sudah lengkap. Dengan aplikasi ini kita akan tahu,” lanjutnya.
Transformasi ini sekaligus memutus ketergantungan pada metode input manual berbasis Google Formulir yang dinilai lamban serta rentan memicu keterlambatan data.
“Nah, sekarang saya ingin lebih digital. Ini kita praktikan supaya bisa langsung dikerjakan di ASW Posyandu sehingga real time. Kalau manual kan kita taruh PWS (pemantauan wilayah setempat) dulu kemudian ditaruh puskesmas, jadi ada jeda. Jeda ini menyebabkan ada data yang tidak masuk,” ungkapnya lugas.
Pemkot Surabaya Benahi Alur Verifikasi Data di Tingkat Kecamatan
Meski membawa lompatan efisiensi, Rini tidak menampik adanya hambatan teknis yang dihadapi para kader saat bertugas di permukiman. Salah satu kendala utama adalah kegagalan sistem saat memasukkan data baru ke aplikasi.
Kondisi tersebut timbul karena kader posyandu tidak dibekali otoritas untuk langsung mengubah data di lapangan tanpa melewati tahapan verifikasi berjenjang di kantor kelurahan dan kecamatan.
Menyikapi temuan tersebut, koordinasi intensif bersama jajaran perangkat daerah (PD) terkait langsung digulirkan guna merombak alur birokrasi verifikasi sistem aplikasi.
“Ketika ada data baru, itu harus terverifikasi. Setelah kita cari benang merahnya ternyata di kecamatan. Jadi kami saat ini berusaha membuat sistem yang cepat langsung terverifikasi dan masuk ke datanya kader,” pungkas Rini.














