Teror Bersenjata di SMKN 12 Surabaya, Komite Sekolah Ditekan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gambar Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Insiden mencekam terjadi di SMKN 12 Surabaya. Dugaan intimidasi bersenjata api di ruang kepala sekolah memicu kepanikan dan sorotan luas. Lingkungan pendidikan yang seharusnya aman justru berubah jadi arena tekanan.
“Ini bukan kejadian biasa, ini alarm serius bagi dunia pendidikan,”
Ketua Komite sekolah dikabarkan mengalami tekanan saat berhadapan dengan oknum tak dikenal yang diduga membawa senjata api. Peristiwa ini memicu kekhawatiran besar di kalangan warga sekolah. “Kami merasa terancam, situasi benar-benar tidak kondusif,”
Sejumlah saksi yang berada di lokasi mengaku merasakan ketegangan tinggi. Atmosfer mencekam menyelimuti area sekolah, menandakan adanya celah serius dalam sistem keamanan yang selama ini berjalan. “Kejadian ini membuka kelemahan yang tidak bisa diabaikan,”
Perwakilan sekolah, Purwanto, menegaskan insiden tersebut harus menjadi bahan evaluasi total. Ia menyoroti pentingnya pembenahan tidak hanya pada pelaku, tetapi juga sistem pengawasan internal.
“Harus ada evaluasi menyeluruh, termasuk kepemimpinan sekolah,”
Dorongan untuk mengevaluasi posisi kepala sekolah pun mulai mencuat. Tuntutan ini dianggap sebagai bentuk tanggung jawab atas situasi yang dinilai telah mengganggu rasa aman warga sekolah. “Jabatan harus dipertanggungjawabkan jika situasi tak terkendali,”
Dalam komunikasi yang beredar, Ketua Komite mengungkapkan rasa cemas atas kondisi yang dinilai memburuk. Ia mendesak adanya langkah cepat dari pihak terkait demi menjamin keamanan ke depan. “Kami butuh kepastian, bukan sekadar janji,”
Dari sisi hukum, kasus ini tak bisa dianggap ringan. Kepemilikan senjata api tanpa izin jelas melanggar Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman pidana berat. “Ini pelanggaran serius yang harus diproses hukum,”
Hingga kini, respons resmi dari Dinas Pendidikan Jawa Timur belum terdengar. Kondisi ini memicu spekulasi dan desakan publik agar otoritas segera bertindak tegas. “Jangan tunggu situasi makin buruk,”
Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satryo, menyebut insiden ini sebagai ancaman nyata bagi dunia pendidikan. Ia menekankan pentingnya langkah cepat, transparan, dan akuntabel. “Keamanan sekolah adalah harga mati,”
MAKI Jatim bahkan menyatakan siap mengambil langkah lanjutan jika tak ada respons konkret dalam waktu dekat. Tekanan publik kian menguat agar kasus ini diusut tuntas. “Kami tidak akan diam jika ini dibiarkan,”
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa sekolah harus steril dari segala bentuk ancaman. Kini publik menanti tindakan nyata aparat dan pemangku kebijakan. “Jangan sampai teror jadi hal biasa di sekolah,” (dk/nw)

>
