DPRD Surabaya Dorong Regulasi Penggunaan Gadget untuk Anak di Bawah 16 Tahun
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Penggunaan teknologi digital semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Di tengah perkembangan pesat perangkat digital dan media sosial, berbagai pihak mulai mempertanyakan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. DPRD Kota Surabaya menunjukkan sikap proaktif dalam menghadapi isu ini, dengan menyatakan dukungan terhadap rencana pembatasan akses gadget bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Perlu Kajian Ilmiah yang Mendalam
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Johari Mustawan, mengungkapkan bahwa pihaknya secara umum mendukung langkah pemerintah dalam membatasi penggunaan media sosial dan gadget oleh anak-anak. Namun, ia menekankan pentingnya pendekatan yang matang dan didasarkan pada kajian akademik. “Perlu sebuah naskah akademis yang meneliti tentang pengaruh gadget terhadap anak usia 16 tahun ke bawah,” ujarnya.
Johari menyoroti perlunya studi mendalam terkait hubungan antara penggunaan gadget dan dampaknya terhadap psikologis anak. Ia juga menyoroti pentingnya memahami efek dari game tertentu yang bisa memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak. “Apakah sudah ditemukan hubungan sebab-akibat antara pengaruh gadget tadi, dan game-game tertentu yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis dari anak-anak yang sedang tumbuh?” tanya Johari.
Keseimbangan Antara Perlindungan dan Pendidikan Teknologi
Meski mendukung pembatasan, Johari tetap memperingatkan agar kebijakan tersebut tidak sampai menghambat proses tumbuh kembang anak. Di era digital saat ini, anak-anak juga perlu mengenal dan mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. “Karena apa? Karena di luar sana, di negara lain, pertumbuhan teknologi itu begitu cepat. Satu tahun saja bisa tumbuh 3-4 kali lipat,” jelasnya.
Ia menilai bahwa anak-anak perlu diberikan pemahaman yang cukup tentang teknologi, bukan hanya dibatasi. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menghadapi dunia digital yang semakin kompleks. “Kita harus memberi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar, namun tetap melindungi mereka dari konten negatif,” tambahnya.
Mendorong Regulasi yang Inklusif
Johari juga menekankan bahwa regulasi yang diterapkan harus bersifat inklusif dan tidak merugikan kepentingan anak. Ia menyarankan adanya partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk ahli psikologi, pendidik, dan pakar teknologi, dalam penyusunan kebijakan. Hal ini bertujuan agar kebijakan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga berlandaskan pemahaman yang utuh terhadap kebutuhan dan tantangan anak di era digital.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Orang Tua
Selain regulasi, Johari menilai pentingnya edukasi dan kesadaran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget oleh anak. Ia menyarankan adanya program pelatihan bagi orang tua tentang manajemen waktu dan konten digital yang aman. “Orang tua juga perlu diberdayakan agar mampu membimbing anak dalam menggunakan teknologi secara bijak,” imbuhnya.
Dengan pendekatan yang seimbang antara perlindungan dan pendidikan, kebijakan pembatasan penggunaan gadget diharapkan dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat bagi anak-anak. DPRD Surabaya berkomitmen untuk terus mengawal dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berdampak positif bagi generasi muda.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar