Pemkot Surabaya: Pendampingan Psikologis dan Santunan untuk Keluarga Korban Insiden Gondola
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah mengambil langkah-langkah penting dalam memberikan bantuan kepada keluarga korban insiden gondola yang terjadi pada 2 Maret 2026. Kejadian ini menimpa seorang pekerja yang terjatuh dari gondola saat cuaca ekstrem melanda kota tersebut. Pemkot bersama BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur telah memberikan bantuan berupa santunan dan pendidikan bagi anak-anak korban.
Langkah Pemkot Surabaya dalam Mendukung Keluarga Korban
Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, menyatakan bahwa pihaknya telah menugaskan tim dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. Tujuannya adalah memastikan bahwa putra almarhum dapat tetap fokus dalam pendidikannya dan tumbuh menjadi anggota keluarga yang berguna.
“Kami akan ada pendampingan terhadap keluarga, khususnya untuk putra almarhum yang nantinya akan didampingi oleh teman-teman dari DP3APPKB dan Dinsos sehingga bisa mendapatkan pendidikan yang layak, bisa lebih fokus, sehingga bisa menjadi kebanggaan keluarganya,” ujar Eri.
Selain itu, Pemkot juga memberikan santunan kematian dan beasiswa kepada keluarga almarhum Edy Suratno. Santunan ini diberikan melalui BPJS Ketenagakerjaan Jatim dengan total senilai Rp272 juta untuk istri korban dan beasiswa sebesar Rp158 juta untuk dua anak korban.
Bantuan BPJS Ketenagakerjaan Jatim
Hadi Purnomo, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jatim, menjelaskan bahwa santunan yang diberikan berupa uang tunai dan beasiswa bertahap. Tujuan dari beasiswa ini adalah agar anak-anak korban tetap bisa melanjutkan pendidikannya tanpa terganggu secara finansial.
“Jadi selain santunan yang langsung bisa digunakan untuk kebutuhan ekonominya, ada juga beasiswa yang sifatnya bertahap. Supaya tetap bisa melanjutkan (pendidikan) kalau diberikan sekaligus habis,” kata Hadi.
Ia juga mengimbau kepada warga Surabaya, terutama para pemberi kerja, untuk segera mendaftarkan karyawannya ke dalam BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini dilakukan agar risiko yang tidak terduga seperti kecelakaan kerja dapat ditangani dengan baik.
Pentingnya Keselamatan Kerja dalam Cuaca Ekstrem
Eri Cahyadi juga menegaskan pentingnya penggunaan alat keselamatan kerja atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam kondisi cuaca ekstrem. Meskipun korban sudah menggunakan K3, kejadian ini menunjukkan bahwa risiko tidak pernah bisa diprediksi.
“Sebenarnya beliau kemarin itu sudah menggunakan (K3) ya. Kalau bisa kita lihat itu karena anginnya seperti itu, sehingga beliau tergantung di sana. Makanya itu saya mengingatkan kepada seluruh warga Surabaya, dalam kondisi cuaca seperti ini, maka ketika bekerja dalam apapun terlebih ketika dalam proyek maka menggunakan K3,” pesan Eri.
Tindakan Preventif untuk Menjaga Keselamatan Pekerja
Pemkot Surabaya dan BPJS Ketenagakerjaan Jatim ingin memastikan bahwa semua pekerja di Kota Surabaya aman. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk preventif terhadap risiko kecelakaan kerja yang bisa terjadi kapan saja.
“Risiko itu kan nggak pernah tahu kapan terjadinya, kayak kemarin tiba-tiba hujan angin kencang, akhirnya terjadi risiko tersebut. Nah, ini tujuannya agar seluruh para pekerja di Surabaya bisa segera mendaftar kepesertaan,” tutup Hadi.
Dengan langkah-langkah ini, Pemkot Surabaya dan BPJS Ketenagakerjaan Jatim menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga kesejahteraan dan keselamatan para pekerja, terutama dalam situasi yang tidak terduga.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar