DPRD Surabaya Soroti Dana Pemuda Surabaya, Harus Dikelola Secara Berkelanjutan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko (Cak YeBe)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dana intervensi pemuda di Kota Surabaya yang dialokasikan sebesar Rp35 juta per RW dinilai perlu dikelola dengan hati-hati. Hal ini disampaikan oleh Yona Bagus Widyatmoko, Ketua Komisi A DPRD Surabaya. Menurutnya, uji coba program sebelum anggaran dicairkan menjadi langkah penting untuk memastikan penggunaan dana tersebut benar-benar berdampak positif dan berkelanjutan.
Langkah Uji Coba untuk Meminimalkan Pemborosan
Yona menekankan bahwa uji coba harus dilakukan oleh kelurahan atau kecamatan sebelum proposal program pemuda disetujui. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa dana tidak terbuang percuma. Contohnya, jika ada rencana budidaya lobster air tawar, maka diperlukan sampling dan trial and error agar hasilnya dapat diukur secara nyata.
“Jika kita hanya mengandalkan seremonial, maka dana tersebut akan hilang begitu saja. Kita ingin dana ini digunakan sebagai investasi jangka panjang,” katanya.
Program yang Berkelanjutan dan Berdampak Luas
Selain itu, Yona menyarankan agar program yang diajukan oleh pemuda harus memiliki konsep yang berkelanjutan dan mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat. Misalnya, program urban farming, budidaya, atau teknologi berbasis AI. Namun, hingga saat ini, petunjuk teknis (petunjuk) masih dalam proses penyusunan.
Ia juga menegaskan bahwa dana tersebut harus dimanfaatkan oleh pemuda, bukan sebagai bantuan operasional untuk RW. “Tujuan utamanya adalah menciptakan lapangan kerja mandiri bagi generasi muda,” tambahnya.
Anggaran Besar untuk Mendorong Kemandirian Pemuda
Total anggaran yang dialokasikan untuk program intervensi pemuda selama setahun mencapai Rp47 miliar. Anggaran ini akan didistribusikan kepada semua RW di Kota Surabaya, sehingga setiap RW mendapatkan estimasi sekitar Rp35 juta per bulan.
Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, sebelumnya menyebutkan bahwa dana intervensi sebesar Rp5 juta per RW akan dicairkan setiap bulan. Namun, dana tersebut harus digunakan untuk program yang berdampak luas dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Peran Luruh dan Camat dalam Seleksi Program
Yona menekankan bahwa lurah dan camat harus selektif dalam menyetujui proposal program pemuda. Mereka harus mampu menganalisis apakah suatu program layak untuk didanai.
“Tidak cukup hanya karena program itu menarik. Harus ada analisis yang berkelanjutan,” ujarnya.
Keterlibatan Petani dan UMKM
Selain fokus pada pemuda, Yona juga menyoroti pentingnya keterlibatan petani dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pemanfaatan dana ini. Ia menilai bahwa program yang melibatkan kedua kelompok tersebut akan lebih efektif dalam mendorong perekonomian lokal.
Peneguhan Atensi Pemerintah Daerah
Pemerintah Kota Surabaya sangat mendukung inisiatif ini, terlihat dari atensi yang tinggi dari Wali Kota Eri Cahyadi. Dengan adanya dana intervensi ini, diharapkan dapat meningkatkan kemandirian pemuda dan membuka peluang ekonomi baru.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar