‘Anak Jangan WNI’, Kebijakan Beasiswa LPDP dan Kontroversi yang Muncul
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kontroversi terkait pernyataan seorang alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang menyatakan “cukup saya WNI, anak jangan” telah memicu reaksi publik. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya memahami dinamika psikologis di balik unggahan konten pribadi, terutama di ruang digital seperti media sosial.
Dampak Psikologis dari Konten Digital
Ahli psikiatri dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa banyak individu cenderung mengunggah hal-hal yang bersifat sensitif karena kebutuhan akan validasi. Hal ini sering kali muncul dari emosi yang tidak stabil atau impulsif. Ia menyarankan untuk selalu bertanya apakah sesuatu yang ingin dibagikan adalah kebutuhan atau hanya sekadar impuls.
“Jika diposting saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak sosial dari setiap unggahan. Isu identitas negara, keluarga, atau anak sering kali menjadi topik yang sensitif karena berkaitan dengan nilai-nilai kolektif masyarakat.
Etika dalam Bermedia Sosial
Selain itu, dr Lahargo menyoroti prinsip ‘future self’, yaitu bertanya pada diri sendiri apakah akan tetap merasa nyaman jika postingan tersebut dilihat lima tahun ke depan. Media sosial merupakan ruang publik yang permanen, sehingga tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan akan aman untuk dipublikasikan.
“Fenomena stres terkait identitas kebangsaan bukan sekadar soal nasionalisme, tapi refleksi kecemasan masa depan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara mengekspresikan keresahan dan menjaga kesehatan mental secara nyata,” tambahnya.
Tindakan dari LPDP dan Pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil tindakan tegas terhadap kasus ini. Menurutnya, suami dari alumni tersebut, yang juga menerima beasiswa LPDP, akan mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.
“Jadi, bos LPDP sudah bicara dengan suami terkait dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai LPDP, termasuk bunganya,” ujar Purbaya saat konferensi pers APBN KiTA di Jakarta Pusat.
Tindakan ini menunjukkan komitmen LPDP dalam menjaga etika dan tanggung jawab atas penggunaan dana yang diberikan. Selain itu, hal ini juga menjadi pengingat bagi para penerima beasiswa untuk menggunakan dana tersebut secara bertanggung jawab dan sesuai dengan tujuan awal.
Pentingnya Kesadaran Diri dalam Bermedia Sosial
Kasus ini juga mengajarkan pentingnya kesadaran diri dalam memilih apa yang akan dibagikan di media sosial. Setiap unggahan dapat memiliki dampak yang luas, baik secara personal maupun sosial. Oleh karena itu, penting untuk selalu memikirkan akibat dari setiap tindakan di dunia digital.
Dengan memahami prinsip-prinsip psikologis dan etika digital, masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi dan ekspresi diri. Ini juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental dan menghindari konflik yang tidak perlu.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar