MSCI Isu Kepemilikan Saham dan Pengaruhnya terhadap Pasar Modal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah memicu kekhawatiran di kalangan investor pasar modal Indonesia. Perusahaan penyedia indeks saham yang menjadi rujukan global ini memberikan sentimen negatif terhadap kondisi pasar modal nasional, khususnya terkait rendahnya kepemilikan saham publik atau free float, serta kualitas data investor yang dinilai kurang memadai.
Kondisi ini mengakibatkan gejolak hebat di pasar modal Indonesia selama dua hari berturut-turut, 28-29 Januari 2026. Aksi jual besar-besaran oleh investor menyebabkan penurunan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang turun 1,6 persen pada hari Kamis. Capaian tersebut menunjukkan IHSG longsor hingga 9,87 persen dari titik tertingginya sepanjang sejarah di level 9.134,7 pada 20 Januari 2026.
Tindakan Otoritas untuk Memperbaiki Kondisi Pasar
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama lembaga self regulatory organization (SRO), seperti PT Bursa Efek Indonesia (BEI), menyatakan komitmen untuk membenahi tata kelola pasar modal domestik. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan bahwa pengumuman MSCI dianggap sebagai masukan konstruktif. Selanjutnya, OJK akan memastikan seluruh perbaikan dilakukan sampai final dan sesuai dengan standar yang diharapkan MSCI.
Untuk mempercepat koordinasi dan pengawasan pasar saham, OJK akan berkantor di gedung Bursa Efek Indonesia mulai Jumat (30/1/2026). “Untuk memastikan seluruh proses berjalan cepat, tepat, dan efektif,” kata Mahendra.
Perubahan Klasifikasi Investor Korporasi
Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat mengungkapkan bahwa KSEI akan memecah kategori korporasi menjadi 50 subkategori investor korporasi. Dengan demikian, investor korporasi akan diklasifikasikan ulang berdasarkan jenis dan karakteristik kepemilikannya. Hal ini dilakukan guna meningkatkan transparansi dan kualitas data investor.
Selama ini, data investor di KSEI diklasifikasikan ke dalam sembilan tipe, antara lain individu, korporasi, asuransi, perusahaan sekuritas, dan bank investasi. Namun, dalam proposal awal MSCI, dua kategori terakhir—yaitu korporasi dan lain-lain—diusulkan untuk dikeluarkan dari perhitungan free float. Langkah ini dinilai dapat berdampak signifikan terhadap nilai free float saham-saham Indonesia.
Risiko Penurunan Peringkat dan Dampak Ekonomi
Peneliti senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai bahwa situasi dalam dua hari terakhir memperlihatkan masalah struktural di pasar modal Indonesia yang tak kunjung selesai. Ia menyatakan bahwa jika tidak ada perubahan dari governance dan kondisi fiskal Indonesia, kemungkinan besar lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan Fitch Ratings akan melakukan rerating terhadap Indonesia.
Saat ini, Fitch Ratings dan Moody’s masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade. Namun, apabila peringkat diturunkan (downgrade), ruang bagi ekspansi perekonomian akan semakin sempit. Penurunan tersebut akan mempersulit pendanaan negara lantaran bunga atau risk premium akan lebih tinggi.
Kondisi Fiskal dan Risiko Penurunan Peringkat
Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, menambahkan bahwa risiko penurunan peringkat juga datang dari kondisi fiskal, khususnya terkait pengendalian defisit dan pembiayaan utang. Kemampuan pemerintah membayar kewajiban, pelunasan, dan bunga utang selama beberapa waktu ke depan akan terus dicermati.
Bright Institute mencatat, posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 diperkirakan mencapai Rp 9.645 triliun. Dengan estimasi tersebut, rasio utang terhadap PDB diperkirakan mencapai 40,5 persen, hampir menyamai rekor tertinggi saat pandemi Covid-19. Di sisi lain, defisit APBN pada 2025 tercatat sebesar Rp 695,1 triliun, setara 2,92 persen terhadap PDB.
Dampak Pelemahan Rupiah dan Arus Keluar Modal
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy berpendapat bahwa risiko penurunan peringkat pasar saham Indonesia dapat memicu arus keluar modal investor asing. Kondisi ini berisiko merambat kepada pelemahan nilai tukar rupiah. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada periode yang sama ditutup di level Rp 16.786 per dolar AS atau terdepresiasi 0,37 persen dari perdagangan hari sebelumnya.
Budi menegaskan bahwa penurunan peringkat kredit Indonesia bukan hanya mengakibatkan negara kesulitan untuk mendapatkan pembiayaan. Lebih daripada itu, pertumbuhan ekonomi pun terancam terhambat mengingat investasi juga akan menurun.
Langkah Pemerintah untuk Memperbaiki Tata Kelola
Di tengah tantangan ini, pemerintah dan otoritas terkait berkomitmen untuk memperbaiki tata kelola pasar modal dan meningkatkan kredibilitas serta reputasi pasar keuangan Indonesia. Langkah-langkah proaktif diperlukan untuk menjaga iklim investasi yang sehat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

>

Saat ini belum ada komentar