Ringkasan Berita:
- Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni (Mas Toni) mendorong Pemkot Surabaya menangkap momentum ekspansi manufaktur nasional untuk menarik investasi baru.
- Sektor industri pengolahan menyumbang 19,59 persen PDRB Surabaya pada 2025, sementara realisasi investasi semester I 2026 menembus Rp23,608 triliun.
- Politisi Partai Golkar ini mendesak agar investasi berkualitas mampu menyerap tenaga kerja lokal lewat vokasi dan melibatkan UMKM dalam rantai pasok.
DIAGRAMKOTA.COM — Lonjakan aktivitas manufaktur nasional dipandang sebagai peluang emas bagi Kota Surabaya untuk mengakselerasi penanaman modal baru, terutama pada sektor industri pengolahan. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya didesak mampu bergerak cepat menangkap sinyal positif tersebut dengan memperkuat iklim usaha agar berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi warga kota.
Dorongan tersebut disuarakan oleh Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menyusul rilis laporan S&P Global pada Senin (2/11/2026) yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia melonjak ke level 54,0 pada Oktober 2026, naik dari posisi 52,4 pada September. Angka yang berada jauh di atas ambang batas 50 poin tersebut mencerminkan fase ekspansi yang solid berkat peningkatan produksi dan pesanan baru.
“Sebagai pimpinan DPRD, saya mengapresiasi perkembangan positif tersebut. Mudah-mudahan momentum ini bisa dimanfaatkan Surabaya untuk membuka peluang investasi baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Fathoni di Surabaya, Rabu (4/11/2026).
Industri Pengolahan: Motor Penggerak Utama PDRB Surabaya
Fathoni menilai Surabaya memiliki posisi tawar yang sangat strategis untuk mengambil andil besar dalam kebangkitan industri pengolahan. Sektor ini terbukti menjadi pilar krusial penopang struktur ekonomi Kota Pahlawan.
Sumbang 19,59 Persen PDRB dan Tumbuh di Atas Rata-rata
Merujuk publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya dalam laporan Produk Domestik Regional Bruto Kota Surabaya Menurut Lapangan Usaha 2021–2025, industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 19,59 persen terhadap PDRB Surabaya pada 2025. Raihan ini menempatkannya sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua setelah sektor perdagangan besar dan eceran yang mencatat porsi 26,97 persen.
Menariknya, laju pertumbuhan sektor industri pengolahan di Surabaya sepanjang 2025 sanggup melesat hingga 7,85 persen secara tahunan. Angka pertumbuhan tersebut jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi total Surabaya yang berada di level 5,87 persen.
Realisasi Investasi Semester I Tembus Rp23,6 Triliun
Optimisme penyerapan investasi kian didukung oleh kinerja perizinan daerah. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) yang dipublikasikan melalui portal resmi Pemkot Surabaya mencatat realisasi investasi sepanjang semester I 2026 telah menyentuh angka Rp23,608 triliun.
Capai 53 Persen dari Target Tahunan Rp44,26 Triliun
Nilai investasi tersebut telah mengamankan sekitar 53 persen dari total target tahunan Pemkot Surabaya yang dipatok sebesar Rp44,26 triliun. Capaian ini tercipta dari geliat 68.840 proyek yang tersebar di beragam sektor usaha.
Kendati demikian, politisi Partai Golkar tersebut menggarisbawahi bahwa kuantitas nominal investasi wajib berbanding lurus dengan kualitas peruntukannya bagi masyarakat lokal.
“Kebutuhan tenaga kerja industri harus dihubungkan dengan pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, serta peningkatan kompetensi agar masyarakat lokal memiliki kemampuan sesuai kebutuhan dunia usaha,” tegas politisi yang akrab disapa Mas Toni tersebut.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Surabaya, sebanyak 5.120 tenaga kerja baru berhasil ditempatkan hingga Juli 2026 dari target penyerapan 8.838 orang sepanjang tahun 2026.
Gandeng UMKM Masuk Rantai Pasok dan Perkuat Kepastian Izin
Selain fokus pada penyerapan tenaga kerja lokal, Fathoni mendorong Pemkot Surabaya memastikan adanya integrasi antara pemodal besar dengan pelaku usaha lokal. UMKM lokal dinilai harus dilibatkan aktif dalam rantai pasok perusahaan manufaktur, mulai dari penyediaan bahan baku, jasa penunjang, hingga sektor logistik dan distribusi.
Kemudahan Izin dan Infrastruktur Jadi Kunci Daya Saing
Fathoni turut menyoroti peran Kementerian Perindustrian di tingkat pusat yang konsisten menjaga momentum melalui pembenahan struktur industri dan daya saing ekspor nasional. Tugas pemkot di daerah adalah mengimbangi kebijakan pusat lewat kemudahan izin dan ketersediaan infrastruktur penunjang.
“Ini sekaligus mencerminkan perkembangan positif sektor manufaktur nasional. Di tengah momentum tersebut, Kementerian Perindustrian terus memegang peran strategis dalam mendorong penguatan struktur industri, memperluas investasi, serta meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia,” urai Mas Toni.
Ia menutup dengan pesan agar jajaran birokrasi pemkot tidak lamban mengeksekusi peluang demi menghadirkan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
“Surabaya harus mampu menangkap momentum positif perkembangan industri nasional dengan memperkuat iklim investasi dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah, sehingga semakin banyak investasi yang masuk dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.



















