Panasnya Isu Ormas Madas di Surabaya, Armuji Akui Salah dan Minta Maaf
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Isu keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) Madas kembali memanas di Surabaya. Polemik yang sempat menyedot perhatian publik itu akhirnya ditanggapi langsung oleh Wakil Wali Kota Surabaya Armuji.
Ia secara terbuka mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Madas.
“Saya khilaf menyebut nama ormas. Saya mohon maaf. Tidak ada niat sedikit pun untuk menstigmatisasi Madas,” ujar Armuji saat Pertemuan Mediasi Terbuka di Unitomo pada Selasa (6/1/2026).
Cak Ji sapaan akrab Armuji becerita kronologi dirinya saat menyebut Madas di kasus penggusuran Nenek Elina, Ia menduga dilakukan oleh ormas tersebut, namun setelah ditelusuri hal tersebut tidak benar.
“Saya khilaf, menyebut itu sekali. Bahkan saya kira logonya Madas, ternyata setelah diklarifikasi itu bukan, ternyata tulisan gong xi fa cai,” tegas Cak Ji.
Ia menambahkan sidak tersebut dilakukan setelah dirinya menerima banyak laporan masyarakat. Peristiwa itu kemudian viral setelah diberitakan media dan tersebar di media sosial.
“Yang memviralkan bukan saya, tapi televisi JTV. Lalu ada telepon ke saya terus berdering, banyak laporan masuk, makanya saya datang,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Madas Mohammad Taufik yang sempat viral di medsos akibat melaporkan Cak Ji ke Polda Jatim menegaskan, organisasi yang dipimpinnya tidak terlibat dalam peristiwa tersebut dan menolak keras stigma premanisme yang sempat dilekatkan.
“Pertama, kami atas nama Madas meminta maaf jika persoalan ini menjadi gaduh dan tidak kondusif. Tapi kami tegaskan, Madas bukan ormas preman,” tegas Taufik.
Ia menjelaskan, kejadian yang dipersoalkan terjadi pada Agustus 2025, sementara dirinya baru menjabat sebagai Ketua Umum Madas pada Oktober 2025. Berdasarkan kajian tim hukum Madas, tidak ditemukan keterlibatan organisasi dalam peristiwa tersebut.
“Tidak ada satu pun berita acara yang menyebut Madas. Tidak ada kejadian ormas di situ. Itu bukan kegiatan organisasi,” ujarnya.
Taufik juga mengakui bahwa salah satu individu yang disebut-sebut dalam kasus tersebut memang hadir dalam acara pelantikan, namun hal itu tidak serta-merta membuktikan keterlibatan ormas.
“Sampai hari ini saya tidak menyangka yang bersangkutan adalah anggota. Kalau memang terbukti melakukan pelanggaran hukum, kami mendukung aparat untuk memproses,” katanya.
Ia menilai, keberadaan tulisan atau logo di pakaian individu tertentu telah berkembang menjadi framing yang merugikan organisasi.
“Ini jadi gorengan. Padahal tidak ada kaitannya dengan Madas,” tambahnya.
Taufik sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian dan mengakhiri polemik di ruang publik.
“Kami dari awal mendukung Polda untuk menyelidiki. Kalau memang bersalah, silakan ditindak,” tegas Taufik.
Lebih lanjut Taufik atas nama pribadi dan organisasi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Madura atas stigma yang sempat berkembang.
“Semoga ini jadi pembelajaran bersama dan tidak ada lagi kesalahpahaman,” pungkasnya. (sms)
- Penulis: Shinta ms

>
>
>
