Dispendik Surabaya Sosialisasikan Pembatasan Gawai ke Ratusan Orang Tua Siswa SMPN 44
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya terus menggencarkan sosialisasi kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah.
Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi yang melibatkan ratusan wali murid SMP Negeri 44 Surabaya, sebagai upaya membangun sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi anak di era digital.
Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada orang tua terkait pentingnya pengendalian penggunaan gawai bagi peserta didik, khususnya untuk mencegah dampak negatif seperti kecanduan, penurunan konsentrasi belajar, hingga gangguan interaksi sosial.
Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati mengatakan, sebelumnya Dispendik telah melakukan sosialisasi serupa kepada Komite Sekolah. Agar kebijakan pembatasan gawai pada anak berjalan baik, Dispendik kembali melakukan sosialisasi tersebut kepada orang tua murid.
“Saya yakin kalau Komite pasti sudah menyampaikan kepada orang tua, tapi orang tua masih belum secara substansi mereka benar-benar paham. Maka dari itu kami membuat kelas-kelas seperti ini supaya kami (Dispendik) bersama kepala sekolah bisa bertemu langsung dengan orang tua,” kata Febrina.
Febrina menjelaskan, sosialisasi ini terus digulirkan ke seluruh sekolah SD-SMP se-Kota Surabaya. Tujuannya, agar seluruh orang tua mendengarkan secara langsung teknis pembatasan penggunaan gawai terhadap anak.
“Karena kita (pemerintah) tidak bisa mengandalkan sekolah sendirian, harus ada (peran) orang tua. Kalau di sekolah ada guru kita dan di rumah (diawasi) oleh orang tua, minimal kalau orang tua sudah bisa mengecek (gawai) dan ada hal yang harus diwaspadai, orang tua bisa koordinasi dengan sekolah dan kita (Dispendik),” jelas Febrina.
Mantan Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya yang akrab disapa Febri itu menerangkan, orang tua harus tahu dan rutin melakukan pengawasan penggunaan gawai terhadap anak. Sebab ia tidak ingin, peristiwa pengeboman yang dilakukan oleh seorang siswa SMA di Jakarta tahun lalu, terjadi di Kota Pahlawan.
“Pak Wali (Eri Cahyadi) juga sudah mengimbau, ayo kita selamatkan anak-anak Surabaya dari penggunaan gawai. Boleh (menggunakan gawai) teknologi tidak boleh dihindari, tapi untuk sehat penggunaan, pemakaian dan pengawasan itu harus dilakukan oleh orang tua, kita, dan bapak ini guru di sekolah,” tegas Febri.
Dalam kesempatan ini, Febri turut mengajak orang tua di Kota Surabaya untuk bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Dengan cara itu, maka anak-anak di Kota Surabaya akan lebih terbuka kepada orang tuanya.
Di kesempatan itu juga, Febri menyebutkan, para orang tua diberi bekal pengetahuan tentang situs-situs internet yang dilarang diakses oleh anak. Selain itu, setiap orang tua juga diberitahu gambar, simbol, hingga bentuk aplikasi atau situs yang dilarang diakses oleh anak-anak.
“Jadi, misal ketika orang tua mengecek HP anaknya, kemudian menemukan gambar-gambar (terlarang) itu seenggaknya orang tua mengenali dan waspada. Kalau misal HP anaknya di-password, kami ajarkan bagaimana cara berkomunikasinya, karena privasi anak dengan orang tua itu harus tahu dan berdampingan agar anak terbuka,” sebutnya.
Febri menekankan, agar kebijakan ini lebih efektif maka pemkot, sekolah dan orang orang tua harus berjalan selaras satu sama lain. “Kota harus kompak, harus sepakat, kita harus klik antara pendidik dan orang tua harus sama-sama selaras,” ujarnya.
Di samping itu, salah satu wali murid SMP Negeri 44, Weni Tatia Ningsih mengaku terbantu dengan adanya sosialisasi pembatasan penggunaan gawai terhadap anak. Menurut Weni, sebagai orang tua harus tahu fungsi sosmed dan aplikasi yang digunakan oleh anak.
“Tadi juga dikasih tahu kalau ada aplikasi yang dibuat nonton film yang dari luar negeri, karena kan seharusnya itu diblokir di Indonesia, jadi saya tahu. Makannya nanti saya mau lihat di HP anak saya ada apa enggak,” kata Weni.
Tidak hanya Weni, wali murid lainnya, Kamila juga mengatakan bahwa adanya sosialisasi ini bisa membuat orang tua lebih waspada terhadap anak saat menggunakan gawai. Adanya sosialisasi ini, Kamila mengaku akan lebih ketat dalam mengawasi anak ketika menggunakan gawai.
“Kalau saya, akun HP anak saya pantau menggunakan HP saya, sehingga mulai dari WA dan apa yang dilihat dia di Google itu saya tahu. Artinya pantauan selalu ada,” pungkasnya. (sms)
- Penulis: Shinta ms

>
