Masih Banyak Pengunjung yang Memilih Pembayaran Tunai di Kawasan Wisata Tunjungan Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Penggunaan sistem pembayaran parkir digital di kawasan wisata Tunjungan, Kota Surabaya, masih menjadi pilihan kedua bagi sebagian besar pengunjung. Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan ini untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi parkir liar, banyak pengunjung lebih memilih menggunakan uang tunai.
Alasan Utama Penggunaan Uang Tunai
Salah satu alasan utama pengunjung tetap menggunakan uang tunai adalah kebiasaan. Seorang pengunjung asal Dukuh Pakis, Muhammad Fachrul Misbah, mengatakan bahwa ia selalu membawa uang receh dari rumah untuk keperluan seperti membayar parkir. Menurutnya, uang tunai lebih praktis karena tidak perlu membuka aplikasi atau memperhatikan sinyal internet.
“Saya ke mana-mana selalu membawa uang receh dari rumah. Salah satu keperluannya buat bayar parkir,” ujar Fachrul saat berada di kawasan wisata Tunjungan. Ia hanya menggunakan pembayaran digital jika kehabisan uang receh.
Keterbatasan Akses Teknologi
Selain kebiasaan, ada juga faktor keterbatasan akses teknologi yang membuat pengunjung enggan menggunakan pembayaran digital. Beberapa pengunjung mengeluhkan sulitnya mendapatkan sinyal internet yang stabil, terutama saat berkunjung ke area yang ramai. Hal ini membuat mereka merasa tidak nyaman dalam menggunakan metode pembayaran digital.
Seorang pengunjung lain, Angel (23 tahun), menyampaikan bahwa pembayaran digital membutuhkan sinyal internet. “Kalau pakai uang tunai cepat. Sempat ada kekhawatiran kalau pembayaran digital ada orang tak bertanggung jawab, yang bisa memanipulasi kode Qris,” ujarnya.
Dukungan terhadap Digitalisasi
Meski demikian, beberapa pengunjung tetap mendukung kebijakan digitalisasi. Fachrul mengakui bahwa pembayaran digital dapat mengurangi parkir liar dan memberikan transparansi. Namun, ia menyarankan agar pemerintah lebih memperhatikan masyarakat yang tidak memiliki akses ke layanan mobile banking, terutama para lansia.
“Harapan saya kebijakan pembayaran lebih dimatangkan, lebih dirapikan. Saya mendukung kebijakan tersebut karena sekarang teknologi terus berkembang,” tambah Angel.
Tantangan dalam Penerapan Digitalisasi
Penerapan sistem pembayaran digital di kawasan wisata Tunjungan juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat digitalisasi. Selain itu, ada juga keluhan dari petugas juru parkir yang merasa kesulitan dalam mengadaptasi sistem baru.
Beberapa petugas bahkan masih menerima pembayaran tunai meskipun kawasan tersebut sudah memiliki sistem digital. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan digitalisasi belum sepenuhnya optimal.
Masa Depan Pembayaran Parkir Digital
Meski ada tantangan, pemerintah dan pengelola kawasan wisata Tunjungan tetap berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem pembayaran digital. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.***

>

Saat ini belum ada komentar