Eri Cahyadi Tak Segan Ganti Jukir, Digitalisasi Parkir di Surabaya: Pro dan Kontra dari Kalangan Jukir
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota Surabaya terus mempercepat proses digitalisasi sistem parkir. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan parkir, namun ternyata menuai penolakan dari sebagian besar jukir setempat.
Perubahan Skema Pendapatan yang Signifikan
Salah satu perubahan utama dalam digitalisasi parkir adalah skema pembagian pendapatan antara Pemkot Surabaya dan para jukir. Dulu, 20 persen dari pendapatan parkir diberikan kepada jukir, sementara 80 persen masuk ke kas daerah. Kini, proporsi tersebut berubah menjadi 40 persen untuk jukir dan 60 persen untuk Pemkot. Hal ini dilakukan agar lebih adil dan mengurangi prasangka tentang pengelolaan uang yang tidak transparan.
Penolakan dan Aksi Protes
Meski tujuannya baik, beberapa jukir menolak aturan baru ini. Mereka merasa kesulitan mengikuti prosedur aktivasi rekening yang wajib dilakukan. Di beberapa titik, seperti Jalan Manyar Kertoarjo V, sosialisasi digitalisasi parkir diwarnai aksi protes dan viral di media sosial.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan bahwa seluruh lahan parkir merupakan aset negara yang harus dikelola sesuai aturan. Ia menegaskan bahwa jika ada jukir yang tetap menolak, pihaknya tidak segan untuk melakukan pergantian personel.
Upaya Meningkatkan Kepercayaan Warga
Selain itu, Pemkot Surabaya juga menggalakkan sistem parkir berlangganan. Tujuan dari inisiatif ini adalah memberikan layanan yang lebih nyaman bagi warga tanpa terbebani oleh pungutan liar. Sistem ini juga diharapkan dapat mengurangi praktik premanisme di area parkir.
Eri menekankan bahwa kebijakan digitalisasi parkir adalah keinginan warga Surabaya. Ia memastikan bahwa pihaknya akan turun tangan dengan tim anti-preman untuk menertibkan pihak-pihak yang menghambat kebijakan tersebut.
Tantangan dan Solusi
Meski ada tantangan, Pemkot Surabaya tetap optimis bahwa digitalisasi parkir akan membawa manfaat jangka panjang. Selain meningkatkan transparansi, sistem ini juga diharapkan mampu mengurangi korupsi dan penyalahgunaan uang parkir.
Para jukir yang masih kesulitan mengikuti aturan baru diminta untuk memahami bahwa perubahan ini adalah langkah penting untuk kesejahteraan bersama. Dengan sistem digital, harapan besar adalah adanya peningkatan pendapatan dan pengelolaan yang lebih baik.
Digitalisasi parkir di Surabaya bukan hanya sekadar upaya modernisasi, tapi juga langkah strategis untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan transparan. Meski awalnya menuai pro dan kontra, Pemkot Surabaya tetap berkomitmen untuk melanjutkan program ini demi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pengelolaan parkir.***

>
>
Saat ini belum ada komentar