Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026: Kesenjangan Gender Masih Menjadi Tantangan Besar
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2025
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap 8 Maret menjadi momen penting untuk mengevaluasi kondisi perempuan di berbagai sektor kehidupan. Pada tahun 2026, Indonesia kembali mendapat perhatian global karena posisinya dalam indeks kesenjangan gender. Dalam laporan Global Gender Gap Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF), Indonesia menempati peringkat ke-97 dari 148 negara. Skor kesenjangan gender yang diberikan adalah 0,692, menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki untuk mencapai kesetaraan.
Kesadaran dan Kolaborasi untuk Menciptakan Kesetaraan
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan bahwa peringatan IWD 2026 bukan hanya sekadar acara perayaan, tetapi juga refleksi terhadap tantangan yang dihadapi perempuan di berbagai bidang. Tema “Give To Gain” yang diusung menggarisbawahi pentingnya kolaborasi, kemurahan hati, dan investasi sosial dalam membangun kesetaraan. Menurut Lestari, momentum ini sangat relevan karena jatuh pada bulan Ramadhan, yang memiliki nilai-nilai empati dan keadilan yang sejalan dengan tujuan kesetaraan gender.
Lestari menegaskan bahwa upaya mewujudkan kesetaraan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. “Perjuangan ini butuh partisipasi aktif dari semua pihak,” ujarnya. Ia menyoroti pentingnya kebijakan struktural yang mendukung perempuan, baik dalam ekonomi maupun politik.
Tantangan yang Masih Menghantui Perempuan Indonesia
Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan bahwa 1 dari 4 perempuan berusia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Angka ini menjadi indikator bahwa perlindungan terhadap perempuan masih menjadi isu krusial. Selain itu, masalah diskriminasi di tempat kerja, akses terbatas terhadap pendidikan, dan kurangnya fasilitas seperti cuti haid serta laktasi juga menjadi kendala bagi perempuan.
Pengunjuk rasa dari sayap perempuan Partai Buruh turut menyuarakan aspirasi mereka dalam aksi Hari Perempuan Internasional. Mereka menuntut pengakuan terhadap kerja reproduksi sosial seperti perawatan, pengasuhan, dan pengelolaan domestik sebagai kontribusi ekonomi, sosial, hukum, dan budaya. Aksi ini menjadi bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan di tengah tuntutan kesetaraan.
Upaya Pemerintah dan Masyarakat
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah dan organisasi masyarakat telah melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesetaraan gender. Contohnya, Pertamina Patra Niaga meluncurkan program TJSL berbasis pemberdayaan perempuan di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan akses ke sumber daya yang lebih luas bagi perempuan.
Di samping itu, UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) juga turut berkontribusi dengan berbagai kegiatan sosial, termasuk pembagian nasi box selama Ramadhan. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender mulai berkembang di berbagai lapisan masyarakat.
Langkah Menuju Kesetaraan yang Lebih Nyata
Meski ada progres, tantangan besar masih menghadang. Untuk mencapai kesetaraan yang nyata, diperlukan kebijakan yang lebih inklusif, peningkatan kesadaran masyarakat, dan komitmen kuat dari semua pihak. Peringatan IWD 2026 menjadi titik awal yang penting untuk memperkuat langkah-langkah yang sudah ada dan menciptakan lingkungan yang lebih adil bagi perempuan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar