Perjalanan Ikhlas Sri Purwaningsih dalam Mengajar Al Quran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Seorang perempuan berusia 64 tahun yang dikenal dengan keteguhan hatinya, Sri Purwaningsih, telah mengabdikan diri selama lebih dari tiga dekade sebagai guru ngaji di Mushala Ar Rahman, Desa Kalisat, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Tanpa memperoleh upah atau imbalan finansial apa pun, ia menjalani tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan. Seluruh uang infak yang diterimanya dari para siswa dan masyarakat setempat digunakan untuk mendukung keberlangsungan mushala tersebut.
Sri tidak pernah benar-benar menghitung berapa banyak uang yang ia terima, karena bagi dia, tujuan utamanya adalah menyebarkan ilmu agama dan membantu anak-anak menemukan jalan spiritual mereka. Dalam kesehariannya, ia duduk bersila di lantai beralas karpet tipis, menyimak suara anak-anak yang belajar membaca ayat suci Al Quran dengan terbata. Ini adalah rutinitas yang dilakoninya setiap sore setelah azan Asar berkumandang.
Awal Mula Keikutsertaan dalam Mengajar Al Quran
Awal menjadi guru ngaji bagi Sri Purwaningsih dimulai sejak awal 1990-an. Saat itu, ia dipercaya oleh warga setempat sebagai pengajar mengaji. Namun, awalnya ia merasa bahwa ilmunya belum cukup dan hatinya belum siap untuk bertanggung jawab. Setelah lulus SMA di Jember, ia sempat merantau ke berbagai kota untuk memperdalam bacaan dan keyakinannya. Sri juga pernah belajar mengaji selama dua tahun di Surabaya dan Semarang, serta di sebuah pesantren di Kecamatan Ambulu, Jember.
Pengalaman ini memberinya semangat dan keyakinan bahwa ia bisa menjadi guru ngaji yang baik. Ia mengingat bagaimana setiap kali pulang kampung, warga selalu menagih kesediaannya untuk kembali mengajar, seolah-olah kampung kecil itu telah lebih dulu menaruh harapan di pundaknya. “Kalau bukan ketentuan dari Allah, mungkin saya tidak jadi seperti ini. Mungkin menjadi guru ngaji adalah jalan saya,” ujarnya.
Kepercayaan dan Ketekunan dalam Menyebarkan Ilmu Agama
Sri Purwaningsih tak hanya mengajar anak-anak, tetapi juga memberikan bimbingan spiritual dan moral kepada mereka. Ia sering menerima umpan balik dari seorang nyai bahwa bacaan Al Qurannya benar dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Hal ini membuatnya semakin yakin dan percaya diri dalam menjalankan tugasnya sebagai guru ngaji. Ia bahkan merasa lega ketika mendapatkan konfirmasi bahwa apa yang ia ajarkan benar dan tidak keliru.
Dengan ketekunan dan kepercayaan yang kuat, Sri terus melanjutkan perannya sebagai guru ngaji tanpa mengharapkan imbalan apapun. Baginya, mengajar Al Quran adalah bentuk pengabdian yang paling mulia. Ia tidak pernah mematok harga atau mengambil upah, karena ia yakin bahwa ilmu agama harus diberikan secara gratis dan tulus.
Pengaruh dan Inspirasi dari Kehidupan Sri Purwaningsih
Kisah Sri Purwaningsih menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi generasi muda yang ingin mengabdikan diri dalam bidang pendidikan agama. Ia membuktikan bahwa keikhlasan dan ketekunan bisa menjadi modal terbesar dalam menjalani hidup. Dalam dunia yang serba instan dan materialistis, Sri tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dan spiritual yang diwariskan oleh nenek moyangnya.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar