Perjalanan Steffany Kinky, Atlet Jujitsu Ponorogo yang Meraih Medali Perunggu di SEA Games 2025
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Steffany Kinky, atlet jujitsu asal Ponorogo, menjadi sorotan setelah berhasil meraih medali perunggu dalam ajang SEA Games 2025 di Thailand. Prestasi ini menambah daftar keberhasilan olahragawan dari daerah tersebut dalam memperkuat prestasi nasional. Steffany, yang kini berusia 23 tahun, telah menghabiskan waktu sejak 2015 untuk mengasah kemampuannya dalam olahraga bela diri yang berasal dari Jepang ini.
Awal Mula dan Pengembangan Karier
Steffany mengakui bahwa awalnya ia hanya tertarik pada jujitsu karena melihat saudara-saudaranya yang juga terlibat dalam olahraga ini. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari potensi yang dimilikinya dan memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada cabang olahraga ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah mengikuti berbagai kompetisi tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Meski demikian, SEA Games 2025 menjadi momen paling berkesan dalam kariernya.
“Target saya sebenarnya emas. Tapi karena persiapan di pelatnas kurang maksimal, akhirnya saya hanya bisa menyumbang perunggu,” ujarnya dengan rasa bangga namun sedikit kecewa.
Keberhasilan yang Menginspirasi
Meskipun tidak mencapai target emas, Steffany tetap bersyukur atas pencapaian yang diraihnya. Ia menilai bahwa pengiriman satu wakil Indonesia di cabang jujitsu menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia tetap yakin bahwa kesempatan ini memberikan pengalaman berharga bagi masa depannya.
“Alhamdulillah masih bisa membawa pulang medali. Apalagi saya satu-satunya atlet jujitsu yang dikirim. Ini jadi pengalaman berharga untuk ke depan,” tambahnya.
Peran dan Tantangan dalam Pembinaan Jujitsu di Ponorogo
Ketua Pengurus Besar Jujitsu Indonesia (PBJI) Ponorogo, Muryanto, mengapresiasi capaian Steffany sebagai bukti bahwa pembinaan jujitsu di daerahnya berjalan konsisten. Menurutnya, Ponorogo sudah lama menjadi pusat pengembangan atlet jujitsu yang berkualitas.
“Pembinaan jujitsu di Ponorogo sudah berlangsung lama. Banyak atlet dan pelatih lahir dari sini, lalu menyebarkan jujitsu ke daerah lain,” katanya.
Namun, Muryanto juga mengakui adanya tantangan besar dalam pembinaan olahraga ini, terutama soal fasilitas. Keterbatasan sarana latihan masih menjadi kendala utama. Atlet jujitsu sering harus berbagi dan meminjam tempat dengan cabor lain.
Langkah Maju untuk Masa Depan
Sebagai upaya peningkatan, PBJI Ponorogo saat ini tengah membangun padepokan atau dojo pusat secara bertahap. Proses ini dilakukan sembari terus meningkatkan kualitas atlet dan memperkuat komunikasi dengan Pemkab Ponorogo.
“Kami berharap ke depan para atlet punya tempat latihan yang layak. Dengan fasilitas lebih baik, prestasi juga akan ikut meningkat,” tegas Muryanto.
Harapan dan Motivasi Baru
Prestasi Steffany di SEA Games 2025 menjadi motivasi baru bagi atlet muda Ponorogo. Selain mengharumkan nama daerah, ia membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, mimpi tampil di level internasional bukan hal mustahil. Kehadirannya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya dalam bidang olahraga. ***

>
>
Saat ini belum ada komentar