Perkuat Komitmen Berkelanjutan, IDSurvey Group Integrasikan Program TJSL Lewat FIRST Summit
- account_circle Shinta ms
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) IDSurvey resmi menggelar FIRST Summit bertajuk “One Way, One Day, FIRST Lead The Way”.
Forum strategis ini diinisiasi untuk menyatukan, menyelaraskan, sekaligus memperkuat agenda TJSL di seluruh anggota grup, yaitu BKI, Sucofindo, dan Surveyor Indonesia.
Langkah ini menjadi bukti nyata IDSurvey untuk memastikan program TJSL tidak lagi berjalan sendiri-sendiri secara parsial.
Ke depan, seluruh program akan terintegrasi dalam satu arah strategis yang sejalan dengan komitmen holding, kebutuhan bisnis, serta ekspektasi para pemangku kepentingan.
Bagi IDSurvey, TJSL bukan sekadar program sosial tempelan di luar aktivitas bisnis utama. Lebih dari itu, program ini merupakan bagian utuh dari tanggung jawab perusahaan untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.
Chief Financial Officer (CFO) IDSurvey, Sinung Triwulandari, menegaskan bahwa sebagai holding jasa Testing, Inspection, Consulting, and Certification (TICC), masa depan bisnis perusahaan tidak hanya bertumpu pada keunggulan operasional. Kualitas hubungan dengan masyarakat, regulator, pelanggan, dan komunitas justru menjadi kunci utama.
“Dalam konteks tersebut, TJSL memiliki fungsi strategis dalam membangun dan menjaga social license to operate, yakni bentuk penerimaan sosial yang menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha,” ujar Sinung.
Ia menambahkan, meski izin formal menjadi dasar operasional hukum perusahaan, pertumbuhan yang berkelanjutan sangat bergantung pada tingkat kepercayaan sosial.
Oleh karena itu, TJSL wajib diposisikan sebagai strategi korporasi untuk membangun legitimasi dan hubungan jangka panjang yang sehat.
IDSurvey juga menempatkan TJSL sebagai motor penggerak dalam menciptakan ekosistem sosial yang stabil, inklusif, dan tangguh. Dalam koridor pembangunan berkelanjutan, kesuksesan bisnis dinilai dari kemampuan perusahaan memperkuat kohesi sosial dan membangun hubungan konstruktif antar-pemangku kepentingan, bukan cuma sekadar mengelola risiko sosial.
Salah satu agenda krusial dalam pertemuan ini adalah Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun Roadmap TJSL IDSurvey Group. Forum ini memastikan arah program TJSL di setiap entitas tetap selaras dengan strategi besar holding, namun tetap memberikan ruang adaptasi sesuai karakteristik bisnis masing-masing anak perusahaan.
“Penyelarasan ini penting agar TJSL IDSurvey Group tidak hanya kuat pada level aktivitas, tetapi juga konsisten dalam arah, terukur dalam dampak, serta semakin relevan dalam menjawab kebutuhan pemangku kepentingan,” jelas Sinung.
Melalui standardisasi ini, IDSurvey menegaskan komitmennya untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab, adaptif, serta mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem yang lebih luas.
Turut hadir dalam acara tersebut, Koordinator Direktorat TJSL Badan Pengaturan BUMN, Fahrudin. Ia memaparkan bahwa TJSL kini berfungsi sebagai instrumen pembentuk ekosistem industri dan masyarakat yang makin membutuhkan layanan testing, inspection, certification, verification, dan sustainability assurance.
“TJSL IDSurvey bukan sekadar program sosial, melainkan instrumen strategis untuk membangun budaya standar, menciptakan ekosistem keberlanjutan, serta memperluas permintaan terhadap layanan assurance nasional,” kata Fahrudin.
Menurutnya, potensi besar dari program TJSL ini harus dioptimalkan untuk memperkuat core bisnis sekaligus membuka peluang pasar baru bagi layanan jasa TICC IDSurvey Group.
Nyatanya, kontribusi IDSurvey Group bagi Indonesia yang terstandarisasi dan berkelanjutan sudah diwujudkan lewat berbagai program TJSL nyata.
Di antaranya meliputi pembinaan dan sertifikasi UMKM (Halal, SNI, HACCP, ISO, TKDN, ESG), edukasi industri hijau, pendampingan sustainability reporting, hingga literasi carbon footprint dan traceability. (Sms)
- Penulis: Shinta ms

>
>
