Komnas PA Jatim: Dampak Penghentian Operasional Dapur MBG di Mojokerto terhadap Kesejahteraan Anak dan Ekonomi Lokal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 26 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM –Â Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Mojokerto kini menghadapi tantangan serius. Beberapa dapur MBG mendadak berhenti beroperasi karena kendala pencairan dana dari pemerintah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan program yang bertujuan memberikan makanan bergizi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Penyebab Utama Penghentian Operasional Dapur MBG
Menurut informasi yang diperoleh, penghentian operasional dapur MBG di Mojokerto disebabkan oleh masalah administratif dalam proses pencairan dana. Banyak SPPG yang terpaksa libur sementara karena tidak bisa memperoleh dana yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan baku dan membiayai operasional harian. Hal ini terjadi tepat saat musim libur sekolah, sehingga dampaknya lebih besar terhadap anak-anak yang biasanya mengandalkan MBG sebagai sumber makanan utama.
Dampak pada Keluarga Kurang Mampu
Anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas sangat bergantung pada program MBG. Ketika program ini berhenti, mereka harus mengandalkan makanan yang disediakan orang tua, yang seringkali tidak cukup atau tidak sehat. Salah satu orang tua, AZM, mengatakan bahwa anaknya tidak lagi menerima MBG sejak Senin (22/12/2025).
“Dari info di WA grup itu bilangnya karena ada kendala pencairan dana gitu. Jadi ya libur, kami ndak nerima MBG kayak biasanya, untuk sementara gitu katanya,” ujarnya.
AZM mengaku merasa terbantu dengan adanya MBG yang rutin berjalan. Meski anaknya baru berusia 3 tahun, ia rutin mendapat makanan bergizi dengan beragam menu.
Dampak pada Kesehatan dan Pertumbuhan Anak
Ketua Sekretaris Jenderal Komnas PA Jatim, Jaka Prima, menyampaikan bahwa penghentian operasional MBG dapat berdampak buruk pada kesehatan dan pertumbuhan anak.
“Selain itu, tentu ekonomi lokal juga ikut terdampak karena UMKM dan petani lokal yang terlibat dalam penyediaan makanan untuk MBG akan kehilangan sumber penghasilannya,” jelas Jaka.
Ia menilai bahwa program MBG bukan hanya sekadar memberikan makanan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memastikan tumbuh kembang anak yang optimal. Tanpa program ini, anak-anak dari keluarga miskin bisa mengalami defisiensi gizi yang berujung pada keterlambatan perkembangan fisik maupun mental.
Dampak Jangka Panjang terhadap SDM Indonesia
Jaka menegaskan bahwa penghentian program MBG dapat memperburuk kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Program ini adalah salah satu upaya pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan.
“Oleh karena itu, penting untuk memastikan keberlanjutan program ini, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu,” imbuhnya.
Solusi yang Perlu Diambil
Untuk mengatasi masalah ini, Komnas PA Jatim menyarankan agar pemerintah daerah dan pusat segera melakukan evaluasi terhadap mekanisme pencairan dana. Selain itu, perlu adanya koordinasi antara pihak-pihak terkait seperti dinas kesehatan, lembaga sosial, dan pelaku usaha lokal untuk memastikan kelancaran operasional dapur MBG.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tetap waspada dan membantu memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup selama masa penghentian sementara.
Penghentian operasional dapur MBG di Mojokerto menunjukkan betapa pentingnya program ini bagi keluarga miskin dan anak-anak. Tanpa dukungan finansial yang stabil, program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ini bisa saja terhenti. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah konkret untuk menjaga kelangsungan program ini agar bisa terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar