DIAGRAMKOTA.COM — KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya) secara mandiri menyelenggarakan panggung kebudayaan bertajuk “Meruwat Indonesia” di Makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya, pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini berlangsung sukses tanpa menggunakan anggaran negara maupun bantuan dari korporasi besar. Seluruh kebutuhan acara mereka penuhi melalui partisipasi aktif dan gotong royong masyarakat luas.
Penyelenggara menerapkan pola yang mereka namakan “Buwuh Even”, sebuah konsep penggalangan dana yang terinspirasi dari tradisi kearifan lokal. KPIR membuka kesempatan kepada siapa pun yang ingin berpartisipasi dengan menyumbangkan donasi sukarela sebesar Rp100.000 melalui jaringan pertemanan di media sosial. Dana yang terkumpul mereka kelola secara transparan untuk membiayai seluruh kebutuhan produksi panggung kebudayaan tersebut.
Ketua Pelaksana Rokimdakas menegaskan bahwa niat awal KPIR adalah menghadirkan acara rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk Indonesia. Mereka sengaja tidak mengajukan proposal permohonan dana kepada instansi pemerintah maupun perusahaan swasta besar agar kemurnian pesan kebangsaan yang disampaikan tetap terjaga sepenuhnya. Kemandirian ini justru membuktikan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Partisipasi masyarakat tidak hanya terlihat dari dukungan dana yang terkumpul. Berbagai komunitas secara aktif terlibat langsung dalam proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning bahu-membahu menyukseskan acara tersebut. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi tulang punggung keberhasilan panggung Meruwat Indonesia.
Model gotong royong ini juga membawa dampak positif yang lebih luas bagi warga sekitar lokasi acara. Ketika kegiatan berjalan, pelaku usaha kecil, pedagang kuliner, pengemudi transportasi, dan pekerja kreatif lokal turut merasakan manfaat ekonomi dari terselenggaranya acara tersebut. Partisipasi masyarakat ternyata tidak hanya menghadirkan panggung seni, tetapi juga membuka ruang perekonomian warga setempat.
Rokimdakas berharap keberhasilan Buwuh Even dapat menginspirasi komunitas lain di berbagai daerah. Kegiatan kebudayaan tidak harus selalu menunggu alokasi anggaran dari pemerintah. Masyarakat memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu dan saling mendukung. Partisipasi aktif justru menumbuhkan rasa memiliki yang lebih kuat terhadap kegiatan yang dihasilkan bersama.
Panggung kebudayaan Meruwat Indonesia sendiri menggabungkan seni tradisi, pertunjukan, dan refleksi kebangsaan dalam satu rangkaian acara yang bermakna. Tanpa fasilitas mewah dan anggaran besar, penyelenggara justru menghadirkan suasana yang lebih tulus dan menyentuh hati setiap pengunjung yang hadir. Kesederhanaan ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pesan yang disampaikan semakin kuat.
Melalui keberhasilan kegiatan ini, KPIR membuktikan bahwa masyarakat mampu berperan aktif dalam menjaga dan memajukan kebudayaan bangsa. Dukungan dari bawah ke atas ternyata menghasilkan karya yang tidak kalah bermakna. Partisipasi masyarakat menjadi bukti nyata bahwa kekuatan bangsa sesungguhnya tumbuh dari kebersamaan dan kepedulian antar sesama anak bangsa.(Dk/yud)

















