Program Literasi Pemasyarakatan di Rutan Surabaya Jadi Model Pembinaan yang Layak Diadopsi Nasional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 15 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

(humas)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Indonesia terus mengalami transformasi. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah program literasi pemasyarakatan yang diterapkan di Rutan Kelas I Surabaya. Program ini tidak hanya menjadi alternatif pendekatan pembinaan, tetapi juga memberikan dampak positif dalam membentuk karakter dan kesadaran diri para tahanan.
Transformasi dari Penghukuman ke Pemulihan
Menurut Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso, program literasi di Rutan Surabaya mencerminkan pergeseran dari pendekatan penghukuman menuju pemulihan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan WBP. Ia menyebut inovasi ini sebagai model pembinaan yang kreatif, edukatif, dan berorientasi pada pembangunan kualitas manusia.
Sugiat menilai bahwa pendekatan konvensional seperti isolasi atau kurungan sunyi mulai kurang efektif dalam mengubah perilaku warga binaan. Dengan mengubah sanksi pelanggaran tata tertib menjadi kewajiban membaca buku dan menulis esai, program ini menjadi terobosan dalam pendekatan pembinaan dan penegakan disiplin.
Membaca dan Menulis sebagai Sarana Pembelajaran
Program literasi di Rutan Kelas I Surabaya mengintegrasikan perpustakaan sebagai pusat rehabilitasi perilaku. Warga binaan yang melanggar aturan tidak lagi dijatuhi sanksi isolasi, melainkan diwajibkan membaca di pojok baca, menyusun ringkasan atau esai refleksi, serta mempresentasikan hasil bacaannya kepada petugas pemasyarakatan.
Koleksi buku yang tersedia mencakup berbagai biografi tokoh bangsa, termasuk Presiden Prabowo Subianto. Sugiat menilai pilihan literatur ini memiliki nilai strategis dalam membentuk cara pandang dan karakter warga binaan.
Nilai-nilai Kepemimpinan dan Disiplin
Ia menyebut buku biografi tidak hanya berfungsi sebagai bacaan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nilai kepemimpinan, disiplin, integritas, dan kerja keras. Internalisasi nilai-nilai positif dari para tokoh nasional sangat krusial bagi masa depan para narapidana dan tahanan.
“Nilai-nilai tersebut penting sebagai bekal bagi warga binaan dalam menata masa depan dan mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian yang produktif di tengah masyarakat,” ujar Sugiat.
Perubahan Perilaku Berawal dari Kesadaran
Kepala Rutan Kelas I Surabaya Tristiantoro Adi Wibowo menjelaskan bahwa program literasi merupakan bagian dari strategi pembinaan untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan. Evaluasi internal menunjukkan bahwa pendekatan isolasi konvensional kerap memunculkan resistensi psikologis.
Sebaliknya, metode membaca dan menulis esai dinilai mendorong warga binaan untuk melakukan refleksi atas kesalahan yang telah dilakukan. “Kami meyakini bahwa perubahan perilaku yang bertahan lama lahir dari kesadaran, bukan sekadar hukuman,” kata Adi.
Melalui program tersebut, warga binaan didorong membaca dan menulis esai sebagai sarana refleksi diri. “Ketika memahami nilai-nilai perjuangan, disiplin, integritas, dan tanggung jawab dari buku yang dibaca, kami berharap tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri, memperkuat karakter, dan menata masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Replikasi Program di Seluruh Indonesia
Komisi XIII DPR RI menilai keberhasilan program di Rutan Surabaya tidak seharusnya berhenti sebagai praktik lokal, melainkan dapat diadopsi secara nasional melalui standardisasi kebijakan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Sugiat berharap model pembinaan berbasis literasi tersebut dapat direplikasi di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan kelebihan kapasitas dan keterbatasan personel pengamanan.
“Semoga inovasi seperti ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi satuan kerja pemasyarakatan lainnya dalam menghadirkan pembinaan yang lebih humanis, berkualitas, dan berdampak nyata bagi perubahan perilaku serta pembangunan karakter warga binaan,” ujarnya.
Program literasi pemasyarakatan di Rutan Surabaya menunjukkan bahwa pendekatan pembinaan yang kreatif dan edukatif dapat memberikan dampak positif bagi warga binaan. Dengan fokus pada pembangunan karakter dan kesadaran diri, inovasi ini layak dijadikan contoh untuk diterapkan secara nasional.***

>

Saat ini belum ada komentar