Penataan Kelembagaan Budaya di Surabaya: Dari Dewan Kesenian ke Dewan Kebudayaan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat sistem dan struktur kebudayaan di wilayahnya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memajukan budaya lokal sekaligus menjawab ketentuan hukum yang berlaku. Salah satu perubahan signifikan adalah transformasi Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya (DKeb).
Perubahan Struktural Sesuai Regulasi
Perubahan ini bukan sekadar perubahan nama, tetapi merupakan penyesuaian terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk menata kembali lembaga-lembaga kebudayaan agar lebih efektif dalam menjalankan tugasnya.
“Pemerintah kota sedang melakukan penataan terhadap kebutuhan lembaga kebudayaan sebagaimana amanat undang-undang,” ujar Herry. Ia menegaskan bahwa DKS tidak dihapus, melainkan mengalami transformasi untuk meningkatkan perannya dalam mendukung seni dan budaya di Surabaya.
Fasilitas dan Program Kegiatan Berubah
Dengan perubahan struktur ini, dukungan pemerintah kota juga mengalami penyesuaian. Fasilitas yang sebelumnya digunakan oleh DKS di Balai Pemuda kini tidak lagi menjadi tanggungan pemerintah. Namun, Herry menekankan bahwa penataan ruangan bukanlah pengusiran, melainkan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan.
“Sudah bertransformasi, maka ruangan DKS tidak lagi menjadi beban pemerintah kota,” katanya. Dengan demikian, fokus pendanaan dan dukungan kini beralih kepada Dewan Kebudayaan Surabaya.
Tujuan Membangun Ekosistem Budaya yang Lebih Baik
Herry menjelaskan bahwa penataan kelembagaan ini bertujuan untuk membangun ekosistem budaya yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dengan struktur yang lebih jelas dan terarah, lembaga kebudayaan di Surabaya dapat lebih aktif dalam merancang program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan budaya lokal.
Ia menambahkan bahwa Dewan Kebudayaan Surabaya akan memiliki peran lebih luas dibandingkan DKS sebelumnya. Selain itu, lembaga ini akan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk komunitas seni, akademisi, dan pelaku budaya, untuk menciptakan inisiatif-inisiatif baru yang dapat mengangkat citra budaya Surabaya.
Tanggapan Masyarakat dan Pelaku Budaya
Meski perubahan ini telah dijelaskan secara resmi, masih ada beberapa pertanyaan dari masyarakat dan pelaku budaya mengenai dampak jangka panjang dari transformasi ini. Beberapa khawatir bahwa perubahan struktur bisa menyebabkan kesenjangan dalam akses fasilitas atau dukungan bagi komunitas seni yang sebelumnya aktif di bawah DKS.
Namun, Herry menegaskan bahwa pemerintah kota tetap berkomitmen untuk menjaga hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan. “Kami ingin memastikan bahwa semua pihak tetap bisa berkontribusi dalam memajukan budaya Surabaya,” tambahnya.
Masa Depan Budaya Surabaya
Dengan transformasi DKS menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya, Pemkot Surabaya berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih dinamis dan kolaboratif dalam bidang budaya. Langkah ini juga menjadi awal dari upaya-upaya lebih besar untuk menjadikan Surabaya sebagai pusat budaya yang berdaya saing di tingkat nasional.
Selama proses transformasi berlangsung, pemerintah kota akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa perubahan ini tidak hanya sesuai dengan regulasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pelaku budaya.***

>

Saat ini belum ada komentar