Keterlibatan Brand Lokal dalam Proyek Sekolah Rakyat: Tantangan dan Pilihan Bisnis
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Sebuah merek sepatu lokal asal Surabaya, Stradenine, kini menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan proyek pengadaan sepatu Sekolah Rakyat yang dijalankan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Meski pemerintah telah menegaskan bahwa proses lelang akan dilakukan secara terbuka dan transparan, pemilik brand tersebut, Reynaldi Kurniawan Daud, memilih untuk tidak terlibat dalam proyek ini. Keputusan ini muncul setelah nama Stradenine viral akibat dugaan keterlibatan dalam anggaran pengadaan sepatu senilai Rp27,5 miliar untuk tahun 2026.
Reynaldi mengungkapkan kekhawatirannya terhadap risiko yang mungkin terjadi jika ia terlibat dalam proyek pemerintah. “Sebenarnya kalau saya pribadi sih enggak Mas ya. Maksudnya karena kita fokusnya sih jualan ke ini aja sih. Jualan ke kalangan ini. Kita kan sebagai pengusaha ya, takut keseret kalau ada apa-apa,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Ia juga menyampaikan kekecewaannya atas opini publik yang sudah terbentuk terkait merek sepatu produksinya. Menurut Reynaldi, sorotan yang didapatkan Stradenine dalam beberapa hari terakhir menyeretnya ke afiliasi politik dan proyek pengadaan yang sensitif. “Kalau menyayangkan sih, ya sebenarnya kan kita enggak pernah berharap dikenal dengan cara seperti ini. Jadi kayak kita juga menyayangkan kenapa kok kita ini dikenalnya, ter-framing-nya, seperti itu,” katanya.
Foto yang Memicu Spekulasi
Foto yang menjadi pemicu spekulasi tersebut memperlihatkan momen seremonial Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf sedang tersenyum memasangkan sepatu produk Stradenine ke perwakilan siswa Sekolah Rakyat. Namun, Reynaldi menegaskan bahwa keberadaan sepatu Stradenine dalam foto itu tidak memiliki kaitan dengan proyek pengadaan puluhan ribu pasang sepatu Sekolah Rakyat yang saat ini sedang disorot.
“Saya tidak ada hubungan sama gambar itu, Mas. Jadi sebenarnya saya juga kaget nih ada gambar itu. Karena tidak ada pembelian secara langsung, Mas, ke saya sebagai owner brand, terhadap artikel [tipe sepatu Stradenine] itu ya,” ujarnya.
Fokus pada Pasar Offline
Secara prinsip bisnis, Stradenine lebih nyaman bergerak di pasar luring alias offline dengan menjangkau masyarakat langsung melalui distributor di berbagai daerah. “Saya sebagai brand ya. Kita ini sebenarnya brand offline, karena kita menjangkau semua kalangan di luar Pulau Jawa. Kita ini satu Indonesia sudah distribusi sebenarnya,” kata Reynaldi.
Penjelasan dari Menteri Sosial
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberikan klarifikasi mengenai polemik anggaran pengadaan sepatu untuk program Sekolah Rakyat yang mencapai Rp27,5 miliar. Anggaran itu menjadi sorotan publik, lantaran muncul dugaan harga sepatu Sekolah Rakyat itu menyentuh angka Rp700 ribu per pasang.
Gus Ipul menjelaskan angka itu hanya perencanaan awal dan belum final. Menurutnya, anggaran yang direncanakan akan melalui proses pengadaan yang transparan. “Jadi gini, setiap anggaran itu kan direncanakan sebelumnya ya. Direncanakan dan nanti tentu ada proses pengadaan. Nah proses pengadaan ini dilelang secara terbuka dan nanti hasilnya pasti lebih murah dari perencanaannya,” ujarnya.
Penolakan Isu Mark Up Harga
Dua hari kemudian, lewat keterangan resmi bersama Wamensos Agus Jabo Priyono, Gus Ipul menuding isu mark up harga sepatu siswa Sekolah Rakyat yang belakangan viral di media sosial sebagai informasi bohong alias hoaks dan hanya berisi fitnah. “Itu fitnah, hoax,” kata Gus Ipul dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, dikutip dari keterangan resmi.
Penggunaan Sepatu dalam Program Sekolah Rakyat
Pada tahun 2025, setiap siswa Sekolah Rakyat menerima beberapa jenis sepatu untuk menunjang berbagai aktivitas, yaitu, sepatu PDL (Pakaian Dinas Lapangan) untuk aktivitas luar ruang, sepatu PDH (Pakaian Dinas Harian) untuk kegiatan belajar di kelas, sepatu olah raga untuk aktivitas fisik, dan sepatu harian/santai untuk penggunaan di lingkungan asrama. Seluruh jenis sepatu tersebut sudah termasuk kaos kaki, sehingga kebutuhan dasar siswa terpenuhi tanpa biaya tambahan.***

>

Saat ini belum ada komentar