Urban Farming Surabaya: Antara Ambisi dan Realita di Hari Tani Nasional 2025
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Data ekonomi Surabaya yang tumbuh 5,76 persen pada 2024 menunjukkan daya beli masyarakat yang membaik. Ini seharusnya menjadi peluang emas untuk mengembangkan urban farming yang tidak hanya berdimensi ketahanan pangan, tetapi juga ekonomi kerakyatan.
Program KASUR BOYO (Kampung Sayur Suroboyo) dan berbagai lomba urban farming yang digelar DKPP Surabaya menunjukkan adanya upaya sistematis. Namun pertanyaannya: apakah upaya-upaya ini sudah menyentuh akar masalah dan berkelanjutan?
Tantangan Multi Dimensi
Urban farming di Surabaya menghadapi tantangan yang bersifat multi dimensi. Pertama, keterbatasan sumber daya seperti air, pupuk, dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dalam lingkungan perkotaan. Kedua, masalah regulasi dan kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung pengembangan pertanian perkotaan.
Ketiga, dan yang paling krusial, adalah aspek sosial-budaya. Generasi muda perkotaan cenderung kurang tertarik dengan kegiatan pertanian, meskipun dikemas dengan konsep modern seperti hidroponik atau aeroponik. Mereka lebih memilih aktivitas yang dianggap lebih “kekinian” dan menguntungkan secara finansial.
Solusi Terintegrasi yang Dibutuhkan
Untuk mewujudkan target ambisius 60 persen kebutuhan pangan dari urban farming, Surabaya memerlukan pendekatan terintegrasi. Pertama, diperlukan kolaborasi yang solid antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal. Kedua, perlu ada insentif yang menarik bagi warga untuk terlibat aktif dalam urban farming, baik berupa kemudahan akses bibit, pelatihan, maupun jaminan pasar.
Ketiga, teknologi harus menjadi enabler, bukan sekadar pemanis program. Pemanfaatan aplikasi digital untuk monitoring tanaman, sistem irigasi otomatis, hingga platform e-commerce untuk pemasaran hasil panen harus diintegrasikan dalam satu ekosistem urban farming yang komprehensif.

>
>