Pemutusan Rantai Penularan TBC di Surabaya Dipercepat dengan Skrining Massal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kota Surabaya menghadapi tantangan dalam menangani penyakit tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memutus rantai penularan, terutama setelah menemukan 4.191 kasus TBC pada periode Januari hingga Mei 2026.
Skrining Massal dan Target Penemuan Kasus
Sejak awal tahun hingga Juni 2026, Dinkes Surabaya melakukan pemeriksaan intensif terhadap warga setempat. Sebanyak 44.088 orang telah diperiksa dari target penemuan suspek sebesar 61.624 terduga TBC. Angka ini mencapai 71,54 persen dari target yang ditetapkan. Selain itu, skrining populasi telah menyentuh 644.201 jiwa penduduk.
Kepala Dinkes Surabaya, Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa temuan kasus baru dibagi ke dalam dua kategori, yaitu infeksi sensitif obat dan resistan obat. Dari total 4.191 kasus, 4.078 merupakan kasus sensitif obat, sementara 113 lainnya adalah kasus resistan obat.
Penanganan Pasien TBC
Sebanyak 3.443 pasien dari kelompok sensitif obat sudah memulai pengobatan rutin. Sementara itu, 90 pasien dari kasus resistan obat saat ini sedang menjalani terapi khusus. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk kasus sensitif obat mencapai 89,36 persen, sementara angka kematian selama masa perawatan hanya 1,80 persen.
Inovasi Teknologi dalam Deteksi Dini
Untuk mempercepat proses diagnosis, Dinkes Surabaya bekerja sama dengan tim spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selain itu, teknologi medis terbaru dari luar negeri digunakan sebagai alat bantu deteksi dini. Salah satu inovasi tersebut adalah alat yang dapat mendeteksi TBC melalui air liur atau saliva, bukan dahak seperti metode konvensional.
Pengawasan dan Edukasi Masyarakat
Seluruh pasokan logistik obat dan paket terapi telah didistribusikan ke tingkat puskesmas. Pengawasan kepatuhan minum obat harian dilakukan secara kolaboratif bersama kader masyarakat. Tujuannya adalah memastikan pasien tetap konsisten dalam menjalani pengobatan.
Billy Daniel Messakh menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam program ini. “Kita harapkan target dari Kementerian Kesehatan bisa tercapai, sehingga angka eliminasi TB pada tahun 2030 tercapai,” ujarnya.
Program Terpadu Sesuai Regulasi Nasional
Program penanggulangan TBC di Surabaya dijalankan sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Regulasi ini menargetkan penurunan drastis jumlah kasus TBC nasional pada tahun 2030, dengan batas maksimal 65 kasus infeksi dan angka kematian yang ditekan menjadi 6 kasus per 100.000 penduduk.
Langkah-Langkah Efektif dalam Pemutusan Rantai Penularan
- Skrining Massal: Dilakukan di fasyankes setempat untuk menemukan kasus dini.
- Pengawasan Kontak Erat: Tim spesialis paru melakukan pelacakan kontak erat eksternal.
- Edukasi Masyarakat: Kader masyarakat berperan aktif dalam memastikan kepatuhan pasien.
- Inovasi Teknologi: Alat deteksi TBC menggunakan air liur meningkatkan efisiensi diagnosis.
Surabaya terus memperkuat upayanya dalam menangani TBC melalui skrining massal, inovasi teknologi, dan kerja sama lintas sektor. Dengan pendekatan terpadu, kota ini berupaya mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.***

>

Saat ini belum ada komentar