Strategi Penanganan TBC di Surabaya, Deteksi Menggunakan Air Liur
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dinkes Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang terus berinovasi dalam bidang kesehatan, kini menghadirkan metode baru dalam mendeteksi tuberkulosis (TBC). Teknologi ini menggunakan sampel air liur untuk mempercepat proses diagnosis. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah kota dalam mengejar target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa saat ini terdapat lima area fokus utama dalam upaya penanggulangan TBC. Setiap minggu, kegiatan tracing dan screening dilakukan secara rutin di wilayah tersebut. Tracing difokuskan pada warga dengan riwayat kontak erat dengan pasien positif TBC, sementara screening menyasar masyarakat luas yang tidak bergejala maupun tanpa riwayat kontak.
Berdasarkan data Dinkes Surabaya sepanjang Januari hingga Mei 2026, capaian penemuan kasus di lapangan cukup signifikan. Dari target penemuan 61.624 terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau sekitar 71,54 persen. Sementara itu, capaian skrining mencapai 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari total populasi yang harus diskrining.
Hasil Positif dalam Pengobatan TBC
Estimasi kasus TBC pada tahun 2026 adalah 11.412 kasus, dan sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan. Rinciannya meliputi 4.078 kasus TBC Sensitif Obat (SO) dan 113 kasus TBC Resistan Obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC di Surabaya sedang menjalani pengobatan intensif di seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).
Untuk kasus TBC SO, sebanyak 3.443 pasien (84,43%) telah memulai pengobatan. Sedangkan untuk TBC RO, dari 113 kasus yang ditemukan, 90 pasien (79,65%) telah masuk tahap terapi. Tingkat keberhasilan pengobatan (Treatment Success Rate/TSR) untuk kategori TBC SO mencapai 89,36%, dengan angka kematian pasien selama masa pengobatan yang rendah, yaitu 1,80%.
Inovasi Teknologi dalam Deteksi TBC
Salah satu inovasi yang dilakukan adalah penggunaan teknologi baru dalam deteksi TBC menggunakan air liur. Metode ini memungkinkan diagnosis yang lebih cepat dan akurat. Teknologi ini didukung oleh kerja sama dengan negara-negara seperti Cina dan Korea Selatan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah kota dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Pentingnya Sinergi dalam Percepatan Eliminasi TBC
Percepatan eliminasi TBC tidak hanya dilakukan oleh Dinkes, tetapi juga melibatkan berbagai pihak. Program perumahan rakyat untuk kesehatan masyarakat menjadi salah satu contoh kolaborasi yang efektif dalam menekan kasus TBC dan stunting. Selain itu, sinergi antara Polri dan masyarakat juga menjadi kunci dalam menjaga kesadaran akan pentingnya kesehatan.
Langkah-Langkah yang Dilakukan
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
– Pelaksanaan tracing dan screening rutin di lima area fokus.
– Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam diagnosis dan pengobatan TBC.
– Edukasi kepada masyarakat tentang gejala dan pencegahan TBC.
– Pemanfaatan teknologi baru dalam deteksi TBC.
Upaya pemerintah kota Surabaya dalam menanggulangi TBC terus menunjukkan hasil positif. Dengan kombinasi strategi, inovasi teknologi, dan sinergi dengan berbagai pihak, target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030 semakin dekat. Masyarakat pun diharapkan dapat lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan partisipasi aktif dalam program pencegahan TBC.***

>

Saat ini belum ada komentar