Azhar Kahfi Usulkan Balai RW Jadi Laboratorium Bakti Remaja di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Kota Surabaya, Azhar Kahfi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Azhar Kahfi, mendorong penguatan program Kampung Pancasila melalui pembinaan karakter remaja berbasis Balai RW. Menjelang masa libur sekolah, ia meminta Pemerintah Kota Surabaya mengoptimalkan fungsi Balai RW sebagai ruang aktivitas positif bagi generasi muda untuk mencegah kenakalan remaja hingga potensi tawuran antarkelompok.
Menurut Kahfi, masa liburan sekolah kerap menjadi periode rawan munculnya aktivitas negatif apabila remaja tidak memiliki wadah kegiatan yang produktif di lingkungan tempat tinggalnya.
“Liburan sekolah sudah mulai dekat. Potensi kenakalan remaja akan tumbuh kalau anak-anak muda tidak punya ruang aktivitas yang positif dan produktif di lingkungannya,” ujar Kahfi, Selasa (12/5/2026).
Balai RW Dinilai Bisa Jadi Laboratorium Bakti Remaja
Politisi Partai Gerindra itu menilai Balai RW memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat pembinaan sosial dan karakter remaja di tingkat kampung. Ia menyebut konsep tersebut dapat menjadi bagian nyata implementasi program Kampung Pancasila di Surabaya.
Kahfi mengusulkan agar Balai RW dijadikan “laboratorium bakti remaja” yang mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.
“Jadikan Balai RW sebagai laboratorium bakti remaja Kota Surabaya agar anak-anak muda punya rasa memiliki terhadap kampungnya sendiri,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan generasi muda dalam aktivitas kampung penting untuk membangun kepedulian sosial sejak dini. Dengan begitu, remaja tidak hanya aktif di media sosial atau lingkungan pergaulan luar, tetapi juga memahami kondisi sosial di sekitarnya.
Guru Didorong Beri Tugas Sosial Selama Liburan Sekolah
Kahfi juga mendorong adanya kolaborasi antara sekolah, RT, RW, serta masyarakat dalam membina karakter remaja selama masa libur sekolah.
Ia mengusulkan agar guru memberikan tugas berbasis pengabdian sosial kepada siswa sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual di lingkungan kampung masing-masing.
“Guru bisa memberikan tugas kepada siswa untuk kerja bakti, memetakan persoalan kampung, sampai membuat proposal solusi di lingkungannya,” ucapnya.
Menurutnya, pola pembinaan seperti itu dapat membantu menerjemahkan semangat Kampung Pancasila secara lebih konkret di tengah masyarakat.
Selain memperkuat rasa kepedulian sosial, pendekatan tersebut juga diyakini efektif untuk menekan potensi tawuran remaja maupun konflik sosial di lingkungan permukiman.
“Kalau anak-anak muda mulai akrab dengan lingkungan kampungnya, mengenal RT dan RW-nya, maka rasa peduli dan sense of belonging akan tumbuh,” jelasnya.
RT dan RW Diminta Tak Hanya Fokus Administrasi
Kahfi menilai peran RT dan RW ke depan tidak cukup hanya sebatas pelayanan administratif masyarakat. Menurutnya, tokoh kampung juga perlu mengambil peran strategis dalam pembinaan karakter sosial warga, khususnya generasi muda.
“Peran ketokohan RT dan RW jangan hanya administratif dan manajerial pelayanan saja, tetapi juga harus ikut membangun karakter sosial masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan fungsi sosial RT dan RW akan membantu menciptakan lingkungan kampung yang lebih solid, aman, dan memiliki kepedulian antarwarga yang lebih kuat.
Azhar Kahfi Usulkan Revisi Perwali
Selain mendorong penguatan program pembinaan remaja, Kahfi juga mengusulkan adanya pembaruan regulasi terkait RT, RW, dan LPMK di Surabaya.
Ia menilai Perwali Nomor 112 sudah perlu disesuaikan dengan tantangan sosial masyarakat perkotaan saat ini, termasuk mendukung penguatan program Kampung Pancasila.
“Ke depan Perwali 112 tentang RT, RW, dan LPMK sudah semestinya diperbarui menyesuaikan dengan program Kampung Pancasila,” pungkasnya.***

>
>
