HPSN 2026, Walikota Eri: Membangun Kesadaran Bersama dalam Pengelolaan Sampah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengelolaan sampah tidak lagi menjadi tanggung jawab semata-mata pemerintah, melainkan tugas seluruh masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Momentum ini menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Perubahan Pola Pikir sebagai Kunci Utama
Eri menekankan bahwa perubahan pola pikir adalah kunci utama dalam menyelesaikan masalah sampah di perkotaan. Ia menjelaskan bahwa sampah sebenarnya bukan beban, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan jika dikelola dengan benar. “Sampah bukan beban, tetapi sumber daya yang dapat dimanfaatkan jika dikelola dengan baik dan benar,” ujarnya.
Dengan melakukan pemilahan sampah dari hulu, warga Surabaya dapat berkontribusi langsung dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Selain itu, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengolahan dan pemanfaatan kembali sampah.
Visi Presiden Prabowo Subianto dalam Pengelolaan Lingkungan
Gerakan pengelolaan sampah dari hulu sejalan dengan visi Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam menjaga lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah melalui Gerakan Nasional Indonesia ASRI. Eri menegaskan bahwa visi tersebut harus diwujudkan secara nyata, terutama di tingkat kota.
“Seperti visi Bapak Presiden Prabowo Subianto, untuk menjaga lingkungan, tetap menjadi lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah,” imbuhnya.
Tanggung Jawab Bersama dari Berbagai Pihak
Selain pemerintah, warga dan pelaku usaha juga memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah. Eri menekankan bahwa hotel, restoran, dan tempat usaha lainnya harus bertanggung jawab mengelola sampah secara mandiri agar tidak semua dibebankan ke TPA. “Jika itu tempat usaha, maka mereka punya kewajiban untuk mengelola sampah itu sendiri,” jelasnya.
Data dan Fasilitas Pengelolaan Sampah di Surabaya
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari mencapai sekitar 1.600 hingga 1.800 ton, baik organik maupun anorganik. Untuk menangani hal ini, Pemkot Surabaya telah membangun berbagai fasilitas pengolahan sampah.
Adapun sampah organik ditangani melalui 27 rumah kompos dengan kapasitas total pengolahan sekitar 95,17 ton per hari. Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui 12 TPS 3R dengan kapasitas antara 10 hingga 20 ton per hari. Melalui fasilitas-fasilitas ini, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan hingga sekitar 50 persen dari kapasitas awal.
Kolaborasi sebagai Kunci Sukses
Eri optimistis bahwa inisiatif berbasis kampung seperti kompos, bank sampah, biopori, serta TPS 3R dan TPS Terpadu mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA Benowo. “Saya yakin jumlah sampah di TPA Benowo juga akan berkurang,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar persoalan sampah dapat dituntaskan secara cepat dan berkelanjutan. “Ini dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama yang luar biasa. Kita yakin, persoalan sampah bisa tuntas secara cepat dan berkelanjutan,” kata dia.
Menjadi Contoh untuk Negeri
Eri berharap gerakan pengelolaan sampah dari hulu dapat membuktikan bahwa Indonesia yang ASRI bukan sekadar cita-cita, melainkan dapat diwujudkan mulai dari Kota Surabaya. “Saya yakin, warga Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya, semua stakeholder dari Surabaya bisa mewujudkan ASRI dari Surabaya untuk Indonesia,” pungkasnya.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar