Gandeng Baznas dan 2 Kampus, Pemkot Surabaya Biayai Kuliah S1 RPL untuk 205 Guru PAUD

Ringkasan Berita:

  • Beasiswa S1 Skema RPL: Pemkot Surabaya bersama Baznas menyalurkan beasiswa sarjana jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru PAUD, memangkas kuliah menjadi hanya 2 tahun atau 4 semester.
  • Gandeng Dua Kampus: Sebanyak 54 Bunda PAUD menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (alokasi Rp540 juta) dan 151 orang di UNUSA (alokasi Rp1,51 miliar).
  • Wajib Mengabdi Kembali: Penerima beasiswa diwajibkan memegang komitmen awal untuk tidak berpindah instansi dan kembali mengajar di lembaga PAUD asal setelah lulus.

DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat pemerataan kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik di Kota Pahlawan. Melalui sinergi erat bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Surabaya, Pemkot menyalurkan beasiswa pendidikan strata satu (S1) skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) khusus bagi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan komitmen kerja sama antara Pemkot Surabaya, Baznas Kota Surabaya, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya/UMSURA). Pada fase kemitraan ini, sebanyak 54 Bunda PAUD resmi diberangkatkan untuk menempuh jenjang sarjana di kampus tersebut.

Konversi Pengalaman Kerja: Kuliah Cukup 2 Tahun

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menerangkan bahwa mekanisme jalur RPL memberikan fleksibilitas tanpa mengurangi mutu akademik. Pengalaman mengajar para guru PAUD yang minimal telah berjalan selama dua tahun dikonversi secara administratif menjadi bobot Satuan Kredit Semester (SKS).

Dengan skema pengakuan capaian pembelajaran lampau tersebut, para penerima beasiswa tidak perlu menempuh perkuliahan penuh empat tahun layaknya mahasiswa reguler.

“Pengalaman mengajar mereka dikonversi setara empat semester atau dua tahun. Jadi, mereka tidak perlu menempuh empat tahun untuk meraih gelar sarjana, melainkan cukup dua tahun saja karena pengalamannya sudah diakui dalam sistem RPL,” ungkap Febrina, Senin (28/9/2026).

Alokasi Anggaran Rp2,05 Miliar di UMSURA dan UNUSA

Sebelum meresmikan kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya, program beasiswa serupa telah digulirkan lebih dulu dengan menggandeng Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA).

Secara kumulatif, total Bunda PAUD yang difasilitasi pendidikan sarjana di dua perguruan tinggi tersebut mencapai 205 orang, dengan dukungan pembiayaan penuh dari Baznas Kota Surabaya:

  • Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA): Menampung sebanyak 151 Bunda PAUD dengan dukungan anggaran mencapai sekitar Rp1,51 miliar.
  • Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA): Menampung 54 Bunda PAUD dengan alokasi pembiayaan sebesar Rp540 juta.

“Sebelumnya sudah berjalan di UNUSA, dan hari ini dengan UM Surabaya. Lewat dukungan Baznas, kami menyekolahkan guru PAUD di dua universitas tersebut. Di UNUSA ada sekitar 151 orang, sedangkan di UMSURA ada 54 orang,” urai Febrina.

Febrina menambahkan, pembagian peran berjalan proporsional di mana Baznas bertindak sebagai penyandang dana penuh, sedangkan Dinas Pendidikan bertugas melakukan seleksi ketat terhadap rekam jejak mengajar calon penerima.

“Dalam hal ini, Baznas mendukung penuh pembiayaannya. Sedangkan kami menyeleksi guru-guru yang pengalamannya memang sudah memenuhi syarat untuk dikonversi menjadi dua tahun studi,” tuturnya.

Pemkot Surabaya: Tuntaskan Kualifikasi dan Larangan Pindah Tempat Mengajar

Guna menjaga asas keadilan dan kemanfaatan program di akar rumput, Pemkot Surabaya mengikat para penerima beasiswa dengan pakta integritas yang ketat. Seluruh peserta dilarang berpindah tugas ke sekolah lain pascakelulusan dan diwajibkan kembali mendedikasikan ilmunya di lembaga awal.

“Jangan sampai setelah lulus dari program beasiswa ini mereka berpindah tempat mengajar. Hal ini sudah menjadi bagian dari komitmen awal yang disepakati,” tegas Febrina.

Melalui program beasiswa RPL ini, Pemkot Surabaya menargetkan penuntasan kualifikasi sarjana linear bagi seluruh pendidik anak usia dini. Kompetensi akademik yang terpadu dengan jam terbang di lapangan diharapkan mampu mendongkrak pola asuh serta metode stimulasi anak usia emas secara ilmiah dan berkarakter.

“Kami berupaya menuntaskan kualifikasi guru PAUD agar benar-benar memiliki kompetensi sarjana penuh. Harapannya, mereka dapat mengasuh dan mendidik anak usia dini secara tepat, sesuai teori akademis maupun praktik lapangan yang telah ditempuh,” pungkas mantan Kepala BPKAD Kota Surabaya tersebut.