ringkasan Berita:
- Momentum Harpelnas, Komisi B DPRD Kota Surabaya soroti pembenahan mendesak di sektor retribusi parkir dan distribusi air PDAM.
- Legislator Enny Minarsih usulkan penerapan QR code informasi tarif resmi di tiap titik parkir demi transparansi dan cegah pungli.
- PDAM Surya Sembada didesak proaktif beri notifikasi pesan siaga gangguan serta estimasi perbaikan pipa ke ponsel pelanggan.
Surabaya, Diagramkota.com — Peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) diharapkan tidak berhenti menjadi seremoni tahunan belaka, melainkan harus menjadi momentum nyata peningkatan kualitas pelayanan publik di Kota Surabaya. Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Enny Minarsih, menilai perbaikan mendasar wajib diarahkan pada dua sektor layanan vital yang bersentuhan langsung dengan aktivitas harian warga, yakni tata kelola perparkiran dan distribusi air bersih PDAM Surya Sembada, Jumat (4/9/2026).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan bahwa esensi modernisasi sistem birokrasi bermuara pada kemudahan hidup masyarakat. Inovasi teknologi yang dihadirkan pemerintah kota seharusnya memangkas kerumitan birokrasi, bukan justru membebani warga dengan mekanisme yang membingungkan.
“Harpelnas harus menjadi momen yang terasa banget pelayanan terbaiknya untuk warga Surabaya. Sistem boleh modern, tapi ujungnya harus membuat hajat hidup warga lebih gampang, bukan malah ribet,” tegas Enny di gedung DPRD Surabaya.
Sektor Parkir: Standarisasi Tarif Satu Pintu Lewat Pemindaian QR Code
Pada klaster perparkiran, Enny mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerapkan standarisasi tarif retribusi yang berlaku satu pintu secara tegas di lapangan. Ketidakpastian besaran tarif yang ditarik oknum juru parkir kerap memicu polemik dan keluhan masyarakat.
Sebagai solusi konkret, ia mengusulkan agar setiap kantong dan titik parkir resmi dipasangi papan informasi tarif yang dilengkapi kode batang (*QR code*). Ketika warga memindai kode tersebut dengan gawai pintar, rincian besaran tarif legal yang berlaku di lokasi tersebut dapat langsung tertera secara transparan.
“Jadi warga tidak perlu bertanya-tanya, tarifnya berapa. Tinggal scan QR code, langsung muncul tarif resminya. Ini sederhana, tetapi dampaknya besar untuk transparansi dan menghindari perbedaan tarif di lapangan,” paparnya.
Integrasi sistem visual ini dinilai tidak hanya memberi kepastian hukum bagi konsumen, tetapi juga mempermudah instansi terkait dalam mengawasi potensi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi parkir tepi jalan umum.
Layanan PDAM: Dorong Notifikasi Siaga Gangguan Langsung ke Ponsel Pelanggan
Beralih ke sektor pemenuhan air bersih, Enny mendesak manajemen PDAM Surya Sembada membangun sistem peringatan dini yang proaktif. Selama ini, pelanggan kerap berada di posisi pasif yang baru mengetahui adanya kebocoran atau pemadaman air setelah pasokan di rumah mendadak terhenti.
“Kalau ada pipa pecah, air mati atau gangguan distribusi, pelanggan yang terdampak seharusnya langsung mendapatkan informasi. Jangan menunggu warga ramai-ramai mengadu baru kemudian ditangani,” ucapnya dengan nada tegas.
Enny mengusulkan pengiriman pesan notifikasi otomatis via WhatsApp atau SMS blast kepada seluruh basis nomor pelanggan di zona terdampak. Pesan tersebut wajib memuat jenis kendala teknis, batas area pemadaman, serta perkiraan durasi pengerjaan pipa hingga aliran air kembali normal.
“Kalau warga sudah tahu ada gangguan dan tahu estimasi perbaikannya kapan, mereka bisa mengantisipasi. Ini yang namanya pelayanan. Jangan pelanggan dibiarkan bertanya-tanya airnya mati sampai kapan,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Enny mengingatkan bahwa tolok ukur keberhasilan transformasi digital di lingkungan Pemkot Surabaya diukur dari seberapa besar manfaat praktis yang dinikmati warganya.
“Intinya, sistem boleh modern, digitalisasi boleh semakin maju, tetapi ujungnya harus membuat hajat hidup warga lebih gampang. Jangan sampai teknologi yang seharusnya mempermudah justru membuat warga semakin ribet,” pungkasnya.




















