Strategi Pemkot Surabaya Atasi Banjir: Respons Cepat Siaga Dini Hari hingga Evaluasi Kelayakan Drainase Pergudangan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Situasi terkini pasca-hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya pada Rabu (24/6/2026) dini hari dipastikan aman terkendali. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengonfirmasi bahwa tidak ada titik genangan signifikan seperti yang sempat mengganggu aktivitas warga pada periode 22–23 Juni lalu.
Kondisi yang relatif kondusif ini dipengaruhi oleh intensitas hujan yang lebih ringan serta pola penyebaran cuaca yang jauh lebih merata. Alih-alih terpusat di titik rawan dalam kota, hujan kali ini juga mendistribusikan volume air ke wilayah penyangga di sekitar Surabaya, mulai dari Kabupaten Sidoarjo hingga Gresik.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa meratanya curah hujan tersebut meringankan beban infrastruktur penampungan air, sehingga sistem drainase kota dapat berfungsi optimal mengalirkan debit air.
“Alhamdulillah tidak terjadi seperti kemarin. Hujannya juga tidak seintens sebelumnya,” jelas Eri Cahyadi saat memantau situasi pada Rabu (24/6/2026).
Anomali Cuaca dan Pola Cuaca Ekstrem yang Menyimpang dari Prediksi BMKG
Menurut analisis Pemkot Surabaya, genangan yang sempat muncul beberapa hari sebelumnya dipicu oleh kombinasi faktor alam yang berada di luar pola normal. Pada peristiwa 22–23 Juni tersebut, hujan turun dengan intensitas yang sangat tinggi dan terpusat ekstrem di titik-titik tertentu, bersamaan dengan terjadinya pasang air laut.
Kombinasi fenomena alam tersebut dinilai tidak sesuai dengan prediksi umum Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sehingga beban tampung saluran air sempat melampaui batas normal dan memicu genangan di sejumlah lokasi.
Langkah Taktis Jangka Pendek: Penyiagaan PMK dan Patroli Mulai Jam 2 Pagi
Sebagai bentuk komitmen mitigasi risiko cuaca ekstrem susulan, Pemkot Surabaya langsung mengaktifkan status kesiapsiagaan penuh di lapangan sejak dini hari. Seluruh perangkat penanganan dipastikan siaga dan pemantauan pergerakan air mulai dilakukan secara ketat sejak pukul 02.00 WIB.
Untuk mempercepat respons penanganan genangan akibat sumbatan sampah atau hambatan arus air, Pemkot Surabaya menyiagakan sejumlah armada mobil Pemadam Kebakaran (PMK) di titik-titik yang dinilai rawan.
“Kalau ada sumbatan, kita lakukan penanganan cepat agar aliran air kembali lancar,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi.
Eri Cahyadi juga memimpin langsung peninjauan langsung ke lapangan untuk memastikan seluruh lini mitigasi bekerja sesuai prosedur standar operasi.
“Saya mulai berkeliling sejak pukul 02.30 WIB. Alhamdulillah, tidak ada kejadian yang mengejutkan. Semoga kondisi seperti ini dapat terus terjaga, sambil tetap bersiap jika sewaktu-waktu terjadi perubahan situasi seperti sebelumnya,” ungkapnya.
Solusi Jangka Panjang: Revitalisasi Bozem dan Pemulihan Lahan Resapan IPT
Di samping kesiapan taktis, Eri Cahyadi menekankan bahwa masa depan tata kelola air Kota Surabaya memerlukan komitmen visioner yang tidak sekadar berfokus pada penanganan sesaat.
“Penanganan banjir tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga harus dirancang untuk jangka panjang. Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi juga beberapa tahun ke depan,” tegasnya.
Sebagai solusinya, Pemkot Surabaya tengah memperkuat strategi makro lewat perluasan dan optimalisasi area penampungan air buatan atau bozem. Menyadari ruang terbuka hijau yang kian terbatas akibat laju pembangunan kota yang pesat, pemerintah akan mengambil langkah tegas dengan mengembalikan fungsi sejumlah lahan Izin Pemakaian Tanah (IPT) serta fasilitas umum yang telanjur beralih fungsi untuk dikembalikan menjadi daerah resapan air.
Teguran Keras Alih Fungsi Lahan Tanpa Saluran Air di Romokalisari
Dalam inspeksi mendalam di lapangan, Wali Kota Eri Cahyadi menemukan pelanggaran serius tata ruang di beberapa kawasan industri. Terdapat sejumlah lahan yang diuruk dan dialihfungsikan menjadi area pergudangan, namun sama sekali tidak dilengkapi dengan sistem drainase yang memadai maupun saluran air yang jelas. Salah satu titik pelanggaran fatal ini ditemukan di kawasan Romokalisari, yang dinilai berpotensi besar memperburuk sumbatan aliran air saat intensitas hujan tinggi.
Merespons temuan tersebut, Pemkot Surabaya segera mengambil tindakan tegas. Eri memerintahkan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) atau Dinas Cipta Karya untuk memanggil seluruh pihak terkait, termasuk para pengelola kawasan industri dan pergudangan di kawasan tersebut. Pemkot menegaskan bahwa setiap aktivitas pembangunan wajib hukumnya menyediakan infrastruktur saluran drainase yang terintegrasi.
Langkah standardisasi regulasi ini merujuk pada keberhasilan penataan wilayah industri lain di Surabaya yang kini dinilai sukses bebas dari masalah genangan.
“Saya minta Cipta Karya (DPRKPP) untuk memanggil agar membangun saluran drainase di depan area masing-masing, seperti di Kalirungkut sehingga kawasan tersebut tidak lagi mengalami banjir,” pungkas Eri Cahyadi.***

>
