Sambut Libur Sekolah 2026, Dispendik Surabaya Dorong Penguatan Karakter dan Batasi Gawai Lewat Gerakan Keluarga
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ilustrasi AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ringkasan Berita: Kebijakan libur sekolah Dispendik Surabaya diintegrasikan dengan penguatan literasi digital dan perlindungan anak melalui penegasan kembali “Gerakan Surabaya Tanpa Gawai” (pukul 18.00–20.00 WIB) serta pemberlakuan jam malam secara ketat guna mengantisipasi kenakalan remaja akibat euforia kenaikan kelas. Di sisi lain, manajemen sekolah diinstruksikan melakukan langkah kuratif berupa perbaikan fasilitas fisik dan peningkatan kapasitas guru dalam merancang metode belajar interaktif sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai serentak pada 13 Juli 2026.
DIAGRAMKOTA.COM – Masa libur sekolah semester genap Tahun Ajaran 2025/2026 di Kota Surabaya telah resmi dimulai sejak Senin (22/6/2026) hingga 11 Juli 2026 mendatang. Menyikapi jeda panjang ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) mengajak para orang tua dan siswa untuk tidak sekadar menjadikan momentum ini sebagai waktu rehat pasif. Liburan harus ditransformasikan menjadi ruang belajar alternatif yang kreatif guna memperkaya pengalaman dan memperkuat karakter anak.
Sesuai kalender akademik, seluruh kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kota Pahlawan dijadwalkan akan kembali aktif pada Senin, 13 Juli 2026.
Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menekankan bahwa jeda akademis dari ruang kelas bukan berarti proses pembentukan mental dan karakter anak ikut berhenti. Dengan pendampingan yang tepat dari orang tua, interaksi sederhana di dalam rumah maupun lingkungan sekitar justru mampu memberikan dampak psikologis yang positif bagi tumbuh kembang anak.
“Liburan bukan berarti seluruh proses belajar dan pembentukan karakter ikut berhenti. Anak-anak tetap perlu didampingi agar memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang positif, produktif, dan memberikan pengalaman baru yang bermanfaat,” ujar Febrina Kusumawati memberikan keterangan resmi.
Digital Detox: Komitmen “Surabaya Tanpa Gawai” Selama Liburan
Salah satu tantangan terbesar yang diidentifikasi oleh Dispendik Surabaya selama masa libur panjang adalah potensi melonjaknya durasi penggunaan gawai (screen time) pada anak. Tanpa kontrol ketat, anak-anak rentan terjebak dalam kecanduan ponsel pintar (gadget) dan gim daring sepanjang hari, yang dapat menurunkan kemampuan bersosialisasi dan konsentrasi mereka.
Sebagai langkah preventif, Dispendik mengimbau para orang tua untuk menerapkan pemantauan ketat dan membatasi aktivitas digital anak. Kebijakan ini diperkuat dengan penggalangan kembali Gerakan Surabaya Tanpa Gawai yang diinisiasi Pemkot Surabaya pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB setiap harinya.
Melalui gerakan digital detox berkala ini, setiap keluarga di Surabaya diinstruksikan untuk:
Mematikan seluruh perangkat elektronik dan ponsel pintar pada jam yang ditentukan.
Memanfaatkan waktu dua jam tersebut untuk berinteraksi antaranggota keluarga.
Mengisi waktu dengan belajar bersama, menjalankan ibadah, atau melakukan diskusi ringan tanpa distraksi layar digital.
Pengawasan Ketat Jam Malam dan Antisipasi Euforia Kenaikan Kelas
Selain pengawasan di ruang digital, faktor keamanan fisik anak di malam hari menjadi perhatian serius Pemkot Surabaya. Dispendik mengingatkan bahwa seluruh Surat Edaran (SE) terkait ketertiban umum dan kebijakan Jam Malam bagi Anak tetap berlaku mutlak meski sekolah sedang libur.
Langkah ini diambil guna meminimalisasi risiko anak menjadi korban maupun pelaku tindakan negatif di jalanan akibat longgarnya pengawasan orang tua pasca-pengumuman kenaikan kelas.
“Kami mengingatkan kepada para orang tua, guru, dan sekolah bahwa berbagai surat edaran tetap berlaku selama masa liburan. Pastikan anak-anak tetap dalam pengawasan, termasuk pada malam hari, dan jangan sampai euforia setelah kenaikan kelas membuat mereka melakukan aktivitas yang berisiko,” tutur Febrina secara tegas.
Bagi orang tua yang berencana mengisi liburan, Dispendik menyarankan untuk memilih aktivitas yang memiliki nilai edukasi (parenting edukatif). Eksplorasi tidak harus mahal; memahami kehidupan sosial sehari-hari dan berdiskusi dengan orang tua di sekitar rumah sudah menjadi instrumen belajar yang sangat bermakna.
Dispendik Surabaya: Revitalisasi Fasilitas Sekolah dan Evaluasi Kreativitas Guru
Di sisi manajemen internal, Dispendik Surabaya tidak tinggal diam. Masa libur selama hampir tiga minggu ini dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh satuan pendidikan di Surabaya untuk melakukan pembenahan total di lingkungan sekolah masing-masing.
| Aspek Pembenahan | Sasaran & Target Output |
| Fasilitas Fisik | Pembersihan total ruang kelas, sterilisasi fasilitas sanitasi, serta perbaikan ringan gedung sekolah agar bersih dan nyaman. |
| Kompetensi Pengajar | Evaluasi proses pembelajaran semester lalu oleh para guru guna merancang metode mengajar yang lebih interaktif. |
| Kurikulum Kreatif | Penyusunan instrumen ajar baru yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan psikologis peserta didik di tahun ajaran baru. |
Dengan persiapan yang matang dari sisi sarana prasarana serta kesiapan mental siswa yang terjaga selama liburan, Pemkot Surabaya optimistis bahwa pada 13 Juli 2026 mendatang, para siswa dan guru dapat memulai tahun ajaran baru dengan energi yang penuh, cerita yang inspiratif, serta komitmen akademik yang jauh lebih tinggi.***

>
