IHSG Terpuruk 4,94% di Akhir Sesi, Tekanan dari Saham Konglomerat dan Aliran Dana Asing
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 55 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (3/6/2026). Indeks ini ditutup turun sebesar 4,94% ke posisi 5.889,48. Pada awal perdagangan, IHSG bahkan sempat anjlok hingga 5,13%, menunjukkan tekanan berat terhadap pasar modal Indonesia.
Dalam transaksi hari ini, sebanyak 752 saham mengalami penurunan, sementara hanya 38 saham yang menguat. Frekuensi transaksi mencapai 1,76 juta kali dengan volume perdagangan sebesar 23,51 miliar lembar senilai Rp14,86 triliun. Kondisi ini menunjukkan sentimen negatif yang melanda investor.
Saham-saham Besar Jadi Penyebab Utama Penurunan
Beberapa saham besar menjadi faktor utama pelemahan IHSG. Amman Mineral (AMMN) turun hingga menyentuh level auto reject bawah (ARB), yaitu 14,91%. Kontribusi penurunan AMMN terhadap IHSG mencapai -17,62 poin. Selain itu, dua saham milik Prajogo Pangestu, yakni Barito Renewables Energy (BREN) dan Barito Pacific (BRPT), menyumbang total -20,75 poin terhadap penurunan indeks.
Saham bank jumbo seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga memberikan kontribusi negatif. BBCA turun -16,39 poin, sedangkan BBRI turun -15,68 poin. Kombinasi penurunan saham-saham ini memperparah tekanan pada IHSG.
Aliran Dana Asing Masih Mengalir Keluar
Pasar modal Indonesia masih menghadapi tekanan dari aliran dana asing yang terus keluar. Hal ini dipengaruhi oleh efektivitasnya rebalancing MSCI per 1 Juni 2026. Investor asing meninggalkan pasar dengan total dana sebesar Rp1,39 triliun dalam perdagangan kemarin, meski IHSG berhasil naik 1,1% di akhir sesi.
Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai bahwa pasca-rebalancing MSCI ini bisa menjadi titik terendah bagi IHSG. “Jika fundamental perusahaan baik, IHSG memiliki peluang untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Reformasi Pasar Modal Diharapkan Tingkatkan Kepercayaan Investor
Hans Kwee juga menekankan bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) telah membantu meningkatkan transparansi, kredibilitas, dan integrasi pasar modal Indonesia. Reformasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor lokal maupun asing terhadap pasar modal nasional.
Rupiah Melemah ke Level All Time Low
Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,4% ke level Rp17.925/US$. Ini adalah level all time low terbaru bagi rupiah terhadap greenback.
Setelah menembus level psikologis Rp17.900/US$, rupiah semakin mendekati level berikutnya di Rp18.000/US$. Pelemahan rupiah ini menambah tekanan terhadap pasar modal Indonesia.
Penurunan IHSG hari ini disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk penurunan saham-saham besar dan aliran dana asing yang terus keluar. Meskipun ada potensi penurunan lebih lanjut, beberapa ahli percaya bahwa IHSG bisa bangkit kembali jika fondasi perusahaan kuat. Selain itu, reformasi pasar modal diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor dan stabilitas pasar.***

>

Saat ini belum ada komentar